Mohon tunggu...
Mery Indriana
Mery Indriana Mohon Tunggu... swasta

penyuka senja

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Polarisasi Potensial Menumbuhkan Intoleransi

13 November 2019   01:02 Diperbarui: 13 November 2019   01:23 0 2 0 Mohon Tunggu...
Polarisasi Potensial Menumbuhkan Intoleransi
(Sumber: Pixabay)

Salah satu bidang yang bisa secara efektif membentuk polarisasi adalah politik. Tak ayal, dalam sejumlah pemilukada, misalnya Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019, sempat terjadi polarisasi yang begitu runcing. Meski demikian, politik tidak berjalan sendiri. Bidang lain turut menjadi pendukungnya. Antara lain, bidang sosial kebudayaan, dan keagamaan.

Bagaimana ilustrasi? Saat ada perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan agama, gesekan politik bisa dengan mudah terjadi. Kalau semua elemen yang dipertentangkan sudah begitu kompleks, polarisasi akan menjadi lebih kuat. Imbasnya, potensi konflik makin besar. Yang pada satu titik, potensial pula menciptakan sikap intoleransi.

Intoleransi awalnya hanya benih. Hanya melalui ucapan-ucapan sederhana. "Dasar orang ini, suku itu, agama ini, dari kelompok itu,". Semua itu merujuk pada perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan agama antara yang mengucapkan dan yang menjadi sasaran ucapan.

Namun bukan tidak mungkin, makin menguat dengan hujatan. Lantas, berubah menjadi perlakukan yang tidak adil pada orang lain yang berbeda. Kemudian bukan tidak mungkin, bakal menumbuhkan aksi-aksi kekerasan.

Tidak ada yang suka kekerasan. Karena kekerasan kecil, bisa melahirkan kekerasan yang lebih besar. Kalau sudah menjadi besar, imbasnya bisa ke mana-mana. Bila terjadi kekerasan besar, yang berujung pada kerusuhan, yakinlah, yang repot tidak hanya pihak-pihak yang secara kongkret terpolarisasi. Pihak-pihak lain yang ada di sekitar mereka pun ikut-ikutan merasa tidak aman, merasa tidak nyaman.

Oleh sebab itu, masing-masing orang harus waspada pada indikasi polarisasi. Lihatlah sejarah kebangsaan Indonesia yang senantiasa bersatu di era perjuangan kemerdekaan. Karena persatuan itulah, bangsa ini menang melawan penjajah.

Pendapat bisa jadi berbeda. Namun tujuan harus tetap sama. Kesejahteraan masyarakat luas. Kedamaian dan kemakmuran bersama.

Jangan ada rasa curiga antar saudara sebangsa setanah air. Mungkin kita benci pada orang atau kelompok tertentu. Namun jangan sampai, kebencian itu menjadi alasan dari munculnya perilaku yang tidak adil.

Keadilan ini menjadi sangat penting. Karena dengan cara itu, kita bisa menilai mana yang lebih urgen untuk dibela dan mana yang bisa dikesampingkan. Maksudnya, orang harus bisa menentukan skala prioritas.

Tujuan umum, kesejahteraan bersama, mesti dikedepankan dari pada keinginan golongan apalagi pribadi. Dari situlah, kebersamaan muncul karena tahu bahwa kepentingan masyarakat luas adalah yang paling utama.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x