Mohon tunggu...
I Ketut Merta Mupu
I Ketut Merta Mupu Mohon Tunggu...

Alumni UNHI. Lelaki sederhana dan blak-blakan. Blog pribadi: Voice of Merta Mupu Facebook : I Ketut Merta Mupu Instagram; merta_mupu

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Mendoakan Orang Lain Lebih Mudah Terkabul

27 Januari 2016   19:39 Diperbarui: 28 Januari 2016   18:04 1259 0 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="Sumber foto www.spiritualresearchfoundation.org"][/caption]

Berdoa merupakan salah satu aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari yang sering dilakukan hubungannya dengan Yang Kuasa dengan menggunakan bahasa hati untuk berbagai motif dan tujuan. Doa bisa bersifat kebaikan (satwika), dalam sifat nafsu (rajasika), maupun bersifat kegelapan (tamasika). Namun yang mendominasi dalam kehidupan masyarakat adalah doa dalam sifat nafsu atau doa yang bersifat rajasika, dimana doa dipergunakan untuk pemenuhan berbagai keinginan.

Pernahkah berdoa tetapi doa kita seakan tak pernah didengar oleh-Nya? Mungkin ada yang salah dengan kita sehingga harapan-harapan yang kita panjatkan kepada Yang Kuasa tak juga tercapai. Jika dicermati, doa seseorang yang mudah terkabul itu doa orang yang hatinya mulia, bertingkah laku baik, seperti berbhakti kepada orang tua, taat pada perintah dan larangan agama. Barangkali hal itu terjadi akibat kekuatan Tuhan dari dalam diri seseorang yang berhati mulia mudah terpancar, sehingga kata-kata yang muncul dari lubuk hatinya menjadi sebuah kekuatan  dahsyat.

Dalam tataran ideal, penyatuan antara hati - pikiran - dan tindakan mulia, merupakan doa yang mujarab tanpa harus memohon kepada Yang Kuasa. Dengan kata lain, apabila kita memiliki niat mulia, berpikir, berkata dan berbuat baik dan benar maka apa yang kita inginkan akan tercapai. Bahasa kerennya; think good, say good, do good, you will be verry good.

Untuk melakukan yang  ideal seperti itu, bagi kita kebanyakan tentu bukan hal mudah, masih melalui doa dengan kata-kata yang kita panjatkan pada Yang Kuasa saat sembahyang. Akan hal ini pun masih ada rahasia-rahasia yang perlu kita renungkan. Berdasarkan hasil pengamatan pribadi, ternyata doa yang mudah terkabul itu doa untuk orang lain bukan untuk diri sendiri. Umpamanya, orang tua mendoakan anaknya, anak mendoakan orang tuanya, suami mendoakan istri, istri mendoakan suami, saudara mendoakan saudaranya yang lain, dan juga keluarga besar lainnya seperti tante, paman, kakek, nenek, sepupu, dan lain sebagainya.

Untuk memudahkan memahami kenapa doa untuk orang lain lebih mudah terkabul  kita bisa bandingkan dengan pengobatan tradisonal yang menggunakan mantra, jampi-jampi atau sejenisnya. Dimana seseorang yang mampu mengobati orang lain, akan tetapi orang bersangkutan sangat sulit bisa menyembuhkan dirinya sendiri apabila menderita suatu penyakit, dia akan mudah sembuh bilamana diobati oleh orang lain. Barangkali hal itu terjadi akibat kita mengeluarkan energi gaib tetapi memasukannya kembali, sehingga yang terjadi malah netral atau tidak memiliki kekuatan. Demikian pula sebuah doa akan sulit terkabul apabila untuk diri sendiri. Akan tetapi tak bisa dipungkiri doa untuk diri sendiri bisa terkabulkan apabila doa kita sedemikian tulus dan dalam hingga relung hati.

Pernah suatu ketika di pura kahyangan jagat, berdoa agar diijinkan bisa sembahyang bersama dengan seseorang yang aku sayang, akan tetapi gadis itu tak mencintaiku; hal yang mustahil terjadi. Rasanya air mataku ingin berlabuh saking dalamnya doa itu, hanya saja malu jika menitikan air mata di antara keramaian orang yang sedang sembahyang. Tumben mengalami keadaan seperti itu; memasukan seorang gadis ke dalam doa, memperkenalkan dia kepada Tuhan.

Setelah usai sembahyang di pura yang satunya, lalu berpindah ke pura sebelahnya untuk sembahyang juga. Aku menunggu antrian orang sembahyang karena ramai, tak lama kemudian ada orang yang menyapaku, orang itu ayah dari gadis yang aku sayangi, ternyata anaknya juga diajaknya. Lalu ayahnya memintaku untuk sembahyang bersama. Sebuah anugerah yang luar biasa bagiku bisa sembahyang bersama dia, terlebih lagi ada ayahnya.

Doa pun berlanjut, dimana aku memohon kepada leluhur, dewa-dewi dan Tuhan agar suatu saat aku dan mereka menjadi keluarga, jika aku dan dia berjodoh berharap aku takan mencari orang lain lagi. Entah kenapa semenjak itu, aku tak bisa menjauh dari gadis itu, tak bisa mencintai gadis lain dari hati, hingga itu terjadi sampai saat ini, padahal gadis itu tak mencintaiku. Namun sekarang rasa sayangku berkurang karena aku mengguna-guna diri sendiri agar tidak terlalu sayang dengannya. Agar bisa melepaskan diri dari derita karena cinta.

Pada dasarnya, sebuah doa jauh lebih mudah terkabul bilamana muncul dari dalam lubuk hati, dengan kata lain doa yang tulus bukan sekedar pengharapan, itu adalah kata-kata yang memiliki kekuatan dewa, doa yang mujarab. Alam akan bergerak untuk mewujudkan doa yang tulus dari dalam lubuk hati. Celakanya, doa yang kita panjatkan bertujuan tidak baik untuk orang lain, doa seperti itu jauh lebih mudah terkabul, lebih top cer. Hal itu terjadi akibat kita benar-benar dari hati mendoakannya, tepatnya mengutuk atau menyumpahinya.

Pernah suatu ketika, aku memberikan kado valentine untuk orang yang aku sayang (gadis yang aku doakan di atas), kado itu aku kirim Via Pos meski rumah berdekatan. Kado yang aku berikan murni karena sayang, tidak ada motif lain dibaliknya. Uang yang dipakai membeli kado murni uang tabungan sendiri, bukan hasil minta kepada orang tua. Bila kita tulus sayang sama seseorang pasti ingin memberikan hasil jerih payah kita sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x