Mohon tunggu...
Yovinus
Yovinus Mohon Tunggu... laki-laki

Hidup itu begitu indah, jadi jangan disia-siakan. Karena kehidupan adalah anugerah Tuhan yang paling sempurna bagi ciptaanNya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kisah Nyata | Belum Saatnya Mati

29 Mei 2020   15:46 Diperbarui: 9 Juni 2020   20:53 81 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Nyata | Belum Saatnya Mati
https://simomot.com/2014/10/07/inikah-yang-dialami-seseorang-setelah-meninggal/

Ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami almarhum ayah ketika sakit keras sekitar tahun 1965, yaitu 55 tahun yang lalu.  Pada waktu cerita ini dialami almarhum ayah, saya baru berumur dua tahun. Saya baru ingat jelas akan cerita ini ketika ayah menceritakannya di saat saya sudah berumur belasan tahun dan terus saya ingat sampai sekarang.

Ayah saya sudah meninggal dunia pada bulan januari tahun 2016, dalam usia 74 tahun. Jauh lebih muda jika dibandingkan usia kakek dan nenek sebelah ayah ketika meninggal, karena almarhum kakek meninggal dalam usia 115 tahun dan almarhumah nenek meninggal dalam usia 95 tahun. Sementara sebelah almarhumah Ibu, semuanya meninggal dalam usia muda, nyaris tidak ada yang mencapai umur 50 tahun.

Kisahnya begini. Ketika itu ayah sakit keras dan tidak tahu apa penyakitnya, karena pada waktu itu belum ada dokter, mantri ataupun tenaga kesehatan di kampung yang bisa memeriksa penyakitnya. Jarak kampung kami dari ibu kota kabupaten adalah sekitar 250 km melalui jalur sungai. Jangankan pada waktu itu, sekarang saja ke kampung kami itu jalan daratnya masih jalan rintisan, jalan tanah kuning yang tidak bisa dilewati jika musim hujan.

Pada waktu itu, untuk pulang pergi ke kota kabupaten, kami harus melayari sungai Melawi yang merupakan anak terbesar dan terpanjang dari sungai Kapuas. Panjang sungai nya yang bisa dilayari diperkirakan sekitar 450 km. Perjalanan ke kota Kabupaten, kami lakukan hanya dengan menggunakan perahu bermotor diesel atau terkadang juga perahu bermesin tempel atau biasa di sebut speedboard atau juga outboard motor.

Jika menggunakan perahu bermotor diesel, jarak sejauh itu dapat kami tempuh selama empat hari perjalanan. Tapi jika menggunakan speedboard, bisa dicapai dalam dua hari saja. Malahan dengan menggunakan body terbang 40 HP (istilah masyakarat untuk speedboard body pendek) sekarang ini, jarak itu bisa di tempuh hanya dalam waktu 9 jam perjalanan saja.

Lanjut ke cerita saya tadi, ayah sudah sakit selama berbulan-bulan, badannya sudah kurus kering karena kurang makan, tidak bisa bekerja dan pengobatannya hanya mengandalkan obat-obatan tradisional dan tenaga kesehatan tradisional di kampung. Sudah cukup banyak orang pandai yang datang untuk mengobati dia, tetapi belum juga membaik. Segala ramuan yang menurut orang-orang bisa mengobati berbagai macam penyakit sudah di coba, tetapi semuanya tidak berhasil. Sampai suatu saat akhirnya ayah pallusch ballang (mati tetapi beberapa lama kemudian hidup lagi). Dan sinilah kisah ini berawal.

Ayah merasa tiba-tiba tubuhnya terasa ringan, lalu melayang ke udara, terus terangkat sampai menembus atap rumah. Tetapi anehnya, dia sama sekali tidak merasa sakit. Bahkan dari atas dia bisa melihat tubuhnya tergeletak di bawah. Tak lama kemudian dia melihat anggota keluarganya berkumpul dan menangis meraung-raung, sementara dia sendiri tidak merasa apa-apa. Tidak ada perasaan sakit ataupun sedih melihat kondisi dirinya yang tergeletak di bawah dan ditangis oleh pihak keluarga. Dia berusaha berteriak untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi sepertinya tidak ada keluarganya yang mendengarnya, padahal dia sudah berusaha berteriak sekuat tenaga agar mereka mendengarnya.

Tubuhnya terasa terangkat, terus terangkat, tinggi dan tinggi sekali. Perasaannya hanya  nyaman, tenang, tidak ada rasa sakit, tidak ada ras cemas dan segala perasaan susah lainnya. Semuanya Bahagia dan nikmat, sama sekali tidak ada beban. Setelah beberapa lama terangkat, tiba-tiba dia merasa dirinya terdampar di sebuah daratan luas yang entah di mana letaknya. Dihadapannya terpampang sebuah jalan yang besar sekali, bahkan besarnya ruas jalan itu tidak pernah dilihatnya seumur hidupnya. Jalannya bukan hanya besar, tetapi juga panjang sekali sehingga tidak tampak ujungnya.

Di jalan itu ternyata ramai sekali orang berjalan, orang-orang berbicara dan bersendau gurau, tertawa-tawa dan semuanya tampak senang sekali. Bahkan beberapa keluarga yang sudah meninggal begitu gembira menyambut kedatangannya. Setelah itu mereka membawanya menuju ke arah ujung jalan besar itu. Jalan itu tampak sangat panjang, sangat jauh, dan seperti tidak berujung. Hanya saja di bagian ujung sana tampak seberkas sinar terang benderang tetapi tidak menyilaukan. Menurut kepercayaan agama Kohoringan (Kaharingan, sekarang menjadi agama Hindu Kaharingan), yaitu agama asli masyarakat Dohoi Uut Danum sejak ribuan tahun yang lalu, jalan ini dipercaya sebagai jalan ke Lovu'Lliou atau jalan ke dunia orang mati.

Di dalam perjalanan mereka ke arah ujung jalan, di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ada bagian yang agak menyempit dan almarhum ayah melihat terdapat sebuah pohon langsat yang sangat besar tumbuh di situ, tumbuhnya di tebing dan batangnya melintang di tengah-tengah jalan dan tidak ada tempat untuk lewat selain tempat itu, karena di kiri dan kanannya tebing yang sangat tinggi.

Setiap ada orang yang lewat, maka batang langsat itu akan beraksi, tetapi reaksinya tidaklah sama untuk setiap orang. Ada orang (baca: arwah) yang dibiarkannya lewat begitu saja, tetapi ada juga yang tidak diijinkannya lewat. Karena begitu seseorang mau menunduk, maka batang langsat itu turun menghalangi, tetapi begitu orang mau meloncat keatas, batang langsat itupun juga lalu terangkat keatas menghalangi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x