Mohon tunggu...
Melvin Firman
Melvin Firman Mohon Tunggu... wiraswasta -

" hanya orang biasa yang suka iseng nulis-nulis apa yang teringat, terlihat dan terasakan tanpa basa basi dan apa adanya."

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Negeri Pelacur

13 Mei 2015   02:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:06 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Belum kering air mata kemarin karena narkoba

Kini Ibu Pertiwi kembali menangis, melihat anak-anaknya menjadi pelacur

Rakyat jelata sampai penguasa semua menjadi pelacur

Melacurkan diri demi uang dan gaya hidup nan hampa

Di istana, Sang Raja melacur demi investasi

Sementara rakyat jelata melacur demi sesuap nasi

Di rumah ibadah, para pengkhotbah melacur dengan menjual ayat suci

Demi untuk menumpuk harta dan menambah istri

Di sekolah, para pendidik melacur demi selembar sertifikasi

Di sisi lain para murid melacur demi selembar surat suci

Di layar kaca,

Media bangga bicara prostitusi, Namun lupa akan solusi

Para pengamat moral bicara bak seorang nabi, Padahal hanya sebuah basa-basi

Woi, pemimpin negeri !!., Mau dibawa kemana bangsa ini

Ayo berbenah diri dan mulailah dari lingkungan istanamu sendiri

Singkirkan duri dalam daging, Sebelum mereka rakus menggerogoti

Berhentilah melacur dengan segala kartu saktimu, Karena itu bukanlah solusi

Tapi ingat dan laksanakan sumpah sucimu sebelum menyesal di kemudian hari

Lihat di sekelililingmu !

Negeri ini sudah di tepi jurang kehancuran

Hancur bukan karena perang dan bencana ,

tetapi karena bejatnya moral dan perilaku

Lihat saja !!!

Begal, pembunuhan, narkoba dan pelacuran bukan lagi hal tabu

Melainkan tuntutan perut dan hawa nafsu

Hidup tidak lagi dihargai

Bumi digunakan hanya untuk percobaan hingga sumber dayanyapun mati

Pelacuran, pembunuhan, korupsi dan manipulasi adalah makanan sehari-hari

Siapakah kita yang berhak menilai keburukan orang lain ketika ada cacat dalam hukum kita sendiri?.

Disini kami terus berusaha mendefinisikan kembali apa yang bisa diterima nurani

Memperbaiki apa yang telah begitu mengakar ke dalam pikiran generasi ini

Mencoba untuk menutupi kesalahan masa lalu dengan paradigma yang sudah basi

Mari bertanya pada diri sendiri, Bagaimana semua ini bisa terjadi ?

Di ujung sana , Pemerintah kita teriakan kebebasan atas nama demokrasi

Tapi bukankah itu hanya slogan yang sudah basi

Di teriakan hanya untuk membungkam nurani

Agar suara mayoritas tetap tenang dalam sunyi

Kenapa engkau begitu sombong, padahal anda juga pelacur

Merasa bermoral dan religious, padahal sundal juga brutus

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun