Mohon tunggu...
Melva Manurung
Melva Manurung Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Negeri Medan.

Mahasiswa Universitas Negeri Medan, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi memasak, menyanyi, menulis, membaca, menonton berita.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tradisi Berpantun atau Umpasa pada Pernikahan Batak Toba, Arti dan Maknanya

22 April 2021   11:03 Diperbarui: 22 April 2021   11:07 120 1 0 Mohon Tunggu...

Editor: Prof. Dr. Rosmawaty Harahap, M.Pd.

Tradisi adalah bentuk budaya berupa pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun. Penyampaian tradisi ini dapat dilakukan dengan tradisi lisan dan non lisan. Masyarakat Batak Toba memiliki tradisi yang kaya budaya dan bahasa daerahnya. Tradisi budaya Batak Toba yang masih dapat ditemui sampai sekarang ini dan menjadi bukti warisan lisan, yaitu umpasa.

Menurut Apul Simbolon, dkk, (1986), umpasa adalah puisi Batak Toba yang terdiri dari dua, tiga, empat larik atau lebih dapat diperbandingkan dengan karmina, pantun biasa, dan jenis talibun dalam sastra Indonesia lama. Umpasa adalah suatu bentuk ekspresi, pikiran, ide dan perasaan orang Batak Toba yang muncul dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat baik peristiwa suka atau duka dan peristiwa besar atau kecil. Umpasa adat Batak Toba biasanya ditujukan kepada muda-mudi, anak-anak, pasangan pengantin, menyambut tamu atau berbagai acara lainnya, serta umpasa ini juga diperdengarkan dalam kehidupan sehari-hari.

“umpasa” dalam pernikahan Batak Toba mempunyai makna simbolik.  Makna umpasa membandingkan karakteristik dari  binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang terdapat di sekeliling masyarakat batak toba. Dalam berumpasa nenek moyang masyarakat Batak Toba menggunakan sifat dan ciri alam sekitar sebagai ungkapan sifat dan perilaku dalam berbahasa. Sehingga umpasa menjadi tradisi lisan, terkhusus upacara adat pernikahan.

Penggunaan umpasa dilakukan sebagai media lisan berupa komunikasi dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh setiap kelompok yang memiliki peran dalam upacara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam menciptakan sebuah umpasa, haruslah mengenal dan mengetahui sifat-sifat benda di sekeliling kita. Dari situlah kita membuat atau memilih kata (diksi) yang indah sehingga tercipta sebuah untaian kalimat yang selaras dan bermakna. Jika kita simak kata bintang, sifatnya adalah riris (banyak), batu sifatnya keras, air bersifat dingin serta kebutuhan utama manusia dan embun sifatnya sejuk. Yang perlu kita dipahami adalah benda apa yang ada di sekeliling kita, bagaimana karakteristik, sehingga dari keadaan itulah kita untuk memulai apa yang kita ucapkan.

Berikut ini beberapa umpasa pada pernikahan adat batak toba dan maknanya.

  • Sititi ma sigompa, Golanggolang pangarhutna; Tung so sadia pe I nuaeng na hupatupa hami I, Sai godang ma pinasuna.

Dalam bahasa Indonesia

Sititi sihompa adalah sejenis tumbuh-tumbuhan, Gelang karet pengikatnya;

Berapa pun yang kami hidangkan semoga banyak berkahnya.

Umpasa ini bermakna harapan pihak suhut terhadap makanan yang dihidangkan kiranya menjadi berkat bagi semua yang hadir.

  • Dia ma nuaeng langkatna, dia ma unokna; Dia ma hatana, dia nidokna.

Dalam bahasa Indonesia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN