Hijau

Fenomena Equinox

10 September 2017   13:21 Diperbarui: 10 September 2017   14:13 526 0 0

Equinox berasal dari dua kata latin yaitu aequus(sama) dan nox(malam)  dengan begitu equinox dapat diartikan sebagai malam yang sama panjang.  Equinox merupakan salah satu fenomena astronomi yang terjadi secara  rutin, dua kali dalam setahun. Biasanya terjadi antara 19-21 Maret dan  22-23 September pada setiap tahunnya. Dua fenomena ini merupakan bagian  dari pergantian musim, terutama di belahan bumi sebelah utara dan  selatan yang beriklim subtropis.

Equinox Maret umumnya disebut  sebagai Spring Equinox (Equinox musim semi), fenomena ini terjadi disaat  pergantian dari musim dingin ke musim panas di daerah beriklim  subtropis. Sedangkan Equinox September, disebut pula sebagai Autumn  Equinox (Equinox musim gugur), terjadi saat pergantian musim dari musim  panas ke musim dingin. Ketika dua jenis Equinox ini terjadi, belahan  utara dan selatan Bumi terpapar oleh sinar Matahari secara merata.  Fenomena ini mengakibatkan peningkatan suhu udara, namun tidak selalu  secara drastis. Di Indonesia yang beriklim tropis, peningkatan suhu  maksimal hanya mencapai 32-36 Celcius

Fenomena ini berbeda dengan fenomena Heat Wave (gelombang cuaca panas) yang terjadi di India, Afrika, atau Timur  Tengah, yang mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar-besaran  dan berlangsung selama berminggu-minggu.

Ketika  Equinox terjadi, durasi malam dan siang tidak sama persis 12 jam.  Momen durasi malam dan siang yang sama persis 12 jam disebut Equilux.  Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan Equinox, karena kedua  fenomena ini tidak terjadi secara bersamaan. Equilux muncul beberapa  hari sesudah atau sebelum Equinox, hal ini tergantung lokasi dan jenis  Equinox tersebut. Pada Equinox Maret, biasanya equilux akan terjadi  sebelumnya, sedangkan pada Equinox September, momen ini akan muncul  setelahnya.

Fenomena Equinox muncul karena sumbu utara-selatan  Bumi tidak tegak lurus terhadap garis lintasan orbit Bumi terhadap  Matahari. Sumbu Bumi yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa,  menyimpang 23,5 derajat dari lintasan orbitnya. Oleh karena itu, saat  Bumi berputar mengelilingi Matahari terkadang ada daerah di belahan  utara yang terpapar lebih banyak sinar Matahari dibandingkan dengan  daerah di belahan selatan.

Ketika terjadi musim dingin di belahan  Bumi bagian utara, berarti wilayah tersebut mendapat paparan sinar  matahari lebih sedikit. Sebaliknya, belahan selatan Bumi akan mengalami  musim panas karena mendapat lebih banyak paparan sinar Matahari. Pada  momen ini, kutub utara Bumi  berada pada titik terjauh dari Matahari.  Biasanya dimulai pada 21 Desember disetiap tahunnya.

Demikian pula  saat musim panas yang terjadi di belahan utara Bumi yang biasanya  dimulai pada 21 Juni. Hal ini berarti kutub utara bumi sedang condong ke  arah Matahari, sehingga mendapat sinar Matahari lebih banyak daripada  belahan Bumi bagian selatan. Kutub selatan Bumi, saat itu berada pada  posisi terjauh dari Matahari (musim dingin).

Jika garis sumbu  rotasi Bumi tegak lurus dengan orbitnya. Kutub utara dan selatan Bumi  tidak akan pernah tersentuh oleh hangatnya sinar matahari.

Selain  itu, ada pula daerah yang senantiasa terkena sinar matahari sepanjang  tahun. Daerah tersebut berada di kisaran 23,5 derajat ke atas garis  khatulistiwa (Lintang Utara), dan 23,5 derajat ke bawah garis  khatulistiwa (Lintang Selatan). Hal ini terjadi karena sudut  penyimpangan sumbu Bumi terhadap orbit sebesar 23,5 derajat. Daerah ini  akan beriklim tropis, karena senantiasa mendapat kehangatan sinar  Matahari.

Indonesia, adalah negara kepulauan yang dibelah oleh  garis khatulistiwa dan seluruh wilayahnya masuk ke dalam daerah ini.  Posisi wilayah Indonesia berada pada 6 derajat LU (Lintang Utara) dan 11  derajat LS (Lintang Selatan). Sebagai negara tropis, Indonesia hanya  mengenal dua musim.

Jadi, Equinox pada dasarnya adalah saat kutub  utara maupun kutub selatan Bumi tidak condong ke arah Matahari. Karena  itulah, paparan sinar matahari di bagian utara dan selatan bumi pada  saat bersamaan cakupannya relatif sama. Berbeda dengan daerah beriklim  subtropis, Indonesia tak mengalami perubahan yang drastis saat Equinox.

Pada  20 Maret 2016, garis khatulistiwa akan bersinggungan dengan lintasan  orbit Bumi terhadap Matahari. Posisi Matahari akan berada tepat di atas  beberapa daerah di Indonesia. Pada momen ini, daerah tersebut tidak akan  melihat bayangan benda yang tertimpa sinar Matahari. BMKG  memprakirakan, saat fenomena ini terjadi suhu udara tertinggi akan  mencapai 34 derajat Celcius.

Sumber:

Paramita, Rahadian P. 2016. Equinox Adalah Fenomena Biasa.

Tersedia di: www.beritagar.id (diakses 10 September 2017)