Mohon tunggu...
melisa emeraldina
melisa emeraldina Mohon Tunggu... Lainnya - Menulis untuk Berbagi Pengalaman

"Butuh sebuah keberanian untuk memulai sesuatu, dan butuh jiwa yang kuat untuk menyelesaikannya." - Jessica N.S. Yourko

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Kerja Rangkap, Jangan Kelewat Batas

11 Agustus 2021   11:12 Diperbarui: 11 Agustus 2021   15:31 433 27 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kerja Rangkap, Jangan Kelewat Batas
Ilustrasi pegawai lelah akan kerja rangkap (freepik/creativeart)


Menjadi pegawai itu terkadang serba salah. Kalau ingin menunjukkan prestasi, akan diperas terus, dimanfaatkan terus, tetapi kalau santai dianggap tidak cekatan, lamban atau dianggap tidak kompeten.

Saya sendiri tipe perfeksionis. Kalau kerja sukanya cepat, lengkap, rapi, sistematis, dan mudah dipahami. Baik desain, tulisan, laporan, bahan rapat, bahan presentasi atau pembuatan rencana kegiatan. Saya yakin kerjaan saya baik. Dan pimpinan saya cocok dengan kerjaan saya.

Saya mengerjakannya sepenuh hati untuk kepuasan saya sendiri. Kalau saya merasa tidak mampu memberikan kinerja maksimal saya akan terus terang, dan akan merekomendasikan orang yang lebih tepat.

Saya bertanggung jawab setiap diberi tugas, tepat waktu, dan mudah bekerja sama. Kinerja saya bahkan pernah mendapat apresiasi menjadi salah satu Pegawai Terbaik.

Pegawai seperti saya tentu akhirnya diberi banyak tugas. Dilibatkan dalam banyak tim tambahan. Setiap ada tim baru, saya selalu masuk dalam susunan anggota. Isi orangnya selalu itu-itu saja. Saya tandai, di setiap ada Surat Keputusan tentang tim ini dan itu, anggotanya orang yang 70% sama saja. Pun setiap rapat yang dikirim orang-orang yang itu-itu juga.

Saya simpulkan pimpinan suka ambil gampang, yang kompeten kerjanya capek, yang lain bisa lebih santai. Gaji sama.

Bukan iri, tapi ini juga tidak mendidik. Pegawai yang santai akan keenakan dan tidak termotivasi untuk bekerja lebih baik. Sebaliknya pegawai rajin akan merasa dieksploitasi. Tidak jarang pegawai seperti saya memilih keluar.

Sebagai aksi protes saya sengaja datang terlambat. Maksud saya biar kerjaan ke teman yang lain dulu. Tapi ya tetap saja porsi kerjaan seperti biasa. Karena tetap beres, jadi pimpinan biasa saja.

Saya sebenarnya kewalahan. Kesulitan membagi pekerjaan, padahal tidak ada tambahan pendapatan untuk tim ini dan itu. Kalaupun ada juga tidak sebanding. Tidak ada apresiasi selain "lebih dikenal pimpinan". Meski saya akui saya juga menjadi semakin terasah dan banyak pengalaman.

Mungkin ada yang berpikir, "Ya tapi nanti kalau ada kenaikan jabatan pasti jadi rekomendasi".

Seharusnya begitu. Itu mungkin akan terjadi di perusahaan swasta. Tapi ternyata tidak di Institusi Pemerintah. Kepangkatan dan masa kerja tetap menjadi pertimbangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan