Mohon tunggu...
Melina
Melina Mohon Tunggu... Lainnya - Teknisi Pangan

Menulis untuk sharing, karena sharing is caring.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Lindungi Anak dari Konten "Biru", Kebebasan yang Tabu

13 April 2022   16:05 Diperbarui: 14 April 2022   05:16 2006
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Semakin dilarang, orang akan semakin penasaran untuk mengetahui hal yang dilarang tersebut. Itulah daya tarik sensor menurut teori Foucaldian.

Dengan melarang dan menekan suatu konten, sensor sebaliknya menghasilkan konten media yang mencerminkan konflik antara ideologi sensor dan ekonomi.

Kenyataannya, konten terlarang beredar dan diperjualbelikan secara bebas di dunia maya, menjadi peluang bisnis bagi segelintir orang. 

Konten "biru" di sini merujuk pada konten pornografi. 

Awalnya, penggunaan istilah "biru" ini diambil dari istilah "Blue Laws", yaitu hukum yang diberlakukan pada kelompok orang yang melakukan kegiatan yang bersifat tabu atau bertentangan dengan moral dan agama, seperti berkata kasar, minum minuman beralkohol, dan berjudi. 

Hukum ini diterbitkan dalam buku yang berjudul General History of Conneticut (1781) dengan sampul biru. Sejak saat itu, hukum ini dikenal dengan sebutan Blue Laws.

Blue Laws. Sumber: adventmessenger.org
Blue Laws. Sumber: adventmessenger.org

Sekedar intermezzo, kalau di China bukan pakai warna biru, tapi warna kuning sebagai istilah halus dari pornografi. Istilah ini menjadi populer akibat pengaruh media dan budaya Barat. 

Pada tahun 1894, Inggris menerbitkan majalah "Yellow Magazine", berisi kumpulan karya sekelompok penulis, yang terkadang mengandung konten yang berkonotasi erotika. 

Kemudian di tahun yang sama, penulis ternama Inggris, O.Wilde, tertangkap karena kasus homoseksualitas. 

Ketika ditangkap, O.Wilde terbukti memiliki majalah "Yellow Magazine" dan novel "The God of Eros" yang kebetulan memiliki sampul berwarna kuning. Kasus ini terbilang cukup sensasional. Dan sejak saat itulah, warna kuning diasosiasikan dengan pornografi dan hal-hal vulgar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun