Mohon tunggu...
Meliana Aryuni
Meliana Aryuni Mohon Tunggu... Lainnya - Penulis pemula yang ingin banyak tahu tentang kepenulisan.

Mampir ke blog saya ya https://melianaaryuni.wordpress.com dengan label 'Pribadi untuk Semua' πŸ€—

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Sebab Siswa Kangen Gurunya

12 November 2022   15:31 Diperbarui: 12 November 2022   15:41 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


"Bunda ... Ibu Meli ...," panggil beberapa anak yang menyapa saya saat di jalan. Wajah mereka penuh senyuman. Beberapa dari mereka mendekati saya, lalu mencium punggung tangan dengan takzim. Betapa mengharukan moment itu.

Sepertinya, meskipun bertahun-tahun guru itu tidak mengajar siswa tersebut, mereka tetap ingat dan mau menegur sapa. Kejadian seperti itu adalah hadiah terbaik bagi seorang guru. Sikap sopan dan santun serta kenangan terhadap guru membuat guru pun merasakan kerinduan yang sama.

Seorang guru adalah panutan dari siswanya. Setiap gerak-gerik, tutur kata, dan kebiasaan seorang guru akan terekam jelas dalam pikiran siswa apalagi pada siswa sekolah dasar. Kadang, dengan mudahnya para siswa menirukan guru tersebut.

Berbanggalah kita bila yang ditiru adalah semua kebaikan dari guru tersebut. Namun, tak sedikit siswa yang belajar dari sikap, tutur, dan perbuatan buruk sang guru. Itulah kemalangan yang tak terperi dari sang guru.

Di sekolah, seorang guru berfungsi sebagai orang tua kedua bagi siswa. Di sekolah juga guru menjadi objek yang menarik bagi siswanya. Objek ini akan menjadi menarik dan membuat para siswa bersemangat untuk belajar. Namun, guru bisa juga menjadi objek yang menakutkan bagi mereka.

Sekolah masa kini bukan lagi seperti sekolah zaman dulu, yang penuh kekerasan dan hukuman yang memberatkan bahkan menyakitkan. Guru yang menjewer anak di sekolah pun bisa jadi akan dipidanakan. Bahkan dengan ucapan biasa pun dapat membuat guru berurusan dengan polisi hingga banyak guru yang mencari aman karena tidak ingin mendapat masalah. Ternyata, inilah permasalahan besarnya.

Apa jadinya bila para guru apatis? Ada yang berkelahi di depan mata, dia tak peduli, menjauh dengan pura-pura tidak tahu. Rusaklah negeri ini. Kelas menjadi ramai sampai terjadi pertengkaran mulut, yang berujung ancam-mengancam, guru tak peduli. Apa jadinya generasi masa depan bila seperti itu.

Tugas guru itu mendidik. Dalam mendidik para guru dibekali ilmu. Para guru tahu batasan menghukum seorang siswa dan dia pun berhak dilindungi jika ada masalah dalam hal ini. Dikutip dari panduanmengajar.com, Permendikbud Nomor 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Di sana, dijelaskan bahwa guru mendapat perlindungan dari segala ancaman, intimidasi dan perlakuan tidak adil dari pihak lain terkait dengan tugas sebagai pendidik dan tenaga kependidikan.

Keadaan guru makin terjepit, memberi funishment itu sebagai bentuk agar siswa jera ternyata tidak disambut baik oleh orang tua. Padahal hal tersebut adalah bentuk moral yang diberikan bila seorang siswa melakukan kesalahan. Tak akan mungkin juga guru memberi hukuman yang menyengsarakan siswa.

Selain memberikan funishment, seorang guru pun bisa memberikan reward kepada siswanya. Biasanya reward ini bisa membuat siswa senang. Dengan reward itu, para siswa akan termotivasi mengerjakan kebaikan. Ternyata, reward sederhana dari guru ini menjadikan mereka ingin bertemu guru tersebut meskipun bertahun-tahun tidak bersua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun