Meita Eryanti
Meita Eryanti Apoteker | pemilik Chocomeeshop

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. kalau ada yang ingin berbagi cerita tentang penggunaan obat, bisa kirim email ke meita.eryanti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ibu Selalu Mendoakanmu, Sayang

9 November 2018   14:16 Diperbarui: 9 November 2018   21:40 154 2 2
Cerpen | Ibu Selalu Mendoakanmu, Sayang
titiknol.co.id

"Ibu, aku pulang," teriak Merry.

Dia mengetuk pintu berwarna kuning pudar di rumah merah itu. Rumah itu masih sama dengan 2 bulan yang lalu saat terakhir kali dia mengunjungi ibunya. Masih sama dengan 3 tahun yang lalu ketika dia keluar dari rumah itu untuk merantau. 

Dan nampaknya, rumah itu akan terus nampak seperti itu. Merry melirik sepeda putih yang terparkir di sebelah pintu. Sepeda putih yang dulu sering dia pakai, nampak terawat dengan baik. 

Tak berapa lama, pintu terbuka. Seorang perempuan dengan rambut bob pendek berwarna abu-abu merentangkan tangannya. Merry segera berhambur memeluk perempuan bertubuh kecil yang kulitnya mulai berkeriput.

Perempuan tua itu membalas pelukan Merry dengan erat.

"Ibu merindukanmu, Nak," bisik Ibu Merry.

Merry mempererat pelukannya selama beberapa saat sebelum melepaskannya.

 "Kamu mau minum teh, Merry?" tanya Ibu Merry sambil berlalu ke dapur.

"Tentu, Bu," jawab Merry.

Merry mengikuti ibunya, lalu duduk di kursi meja makan. Sambil Ibu Merry menyiapkan teh, Merry menceritakan hal-hal lucu yang dialami atau dibacanya. Dia juga menceritakan tentang film kartun yang ditontonnya di pesawat dalam perjalanan ke rumah itu. Ibu Merry tersenyum melihat keceriaan yang dibawa oleh anak perempuannya. Keceriaan yang sudah berbulan-bulan tidak hadir di rumahnya karena dia hanya tinggal sendirian.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Ibu Merry sambil menuangkan teh ke cangkir dan menyodorkannya pada perempuan satu-satunya itu.

"Baik," jawab Merry. "Besok, aku ada pembekalan untuk kenaikan jabatan. Doakan aku ya, Bu."

Merry meraih tangan ibunya dan menggenggamnya. Matanya berkilat menatap mata ibunya yang teduh.

"Ibu selalu mendoakanmu, Sayang," kata Ibu Merry sambil menepuk lembut tangan Merry dan tersenyum.

"Jadi kamu tidak menginap?" tanya Ibu Merry setelah beliau duduk dan membuka kaleng biskuit untuk dihidangkan.

Merry menggelengkan kepalanya.

"Pukul 3 sore ini, aku akan berangkat ke Singapura. Aku kemari untuk menemani ibu makan siang," kata Merry.

Ibu Merry tersenyum. Betul, dia kesepian. Dia tidak seperti orang-orang sebayanya yang sibuk menimang-nimang cucu. Ibu Merry, tinggal seorang diri. Setiap dua hari sekali, ada seseorang yang datang untuk membantunya membersihkan rumah. 

Walau begitu, tidak pernah terpikir olehnya untuk meminta Merry tinggal menemaninya. Baginya, Merry harus terbang sejauh mungkin untuk menggapai impiannya dan menemukan makna hidupnya sendiri. Ibu Merry tidak pernah bertanya tentang kekasih atau pernikahan pada anaknya. Dia bahkan tidak akan marah bila Merry ternyata memilih untuk hidup selibat. Yang dia selalu doakan, Merry bahagia selalu dengan kondisinya.

Setelah membantu ibunya mencuci piring, Merry bergegas pamit. Dia berjanji akan berkunjung lagi lain hari. Ibu Merry mengantarnya sampai depan rumah dan memberikan pelukan perpisahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2