Mohon tunggu...
Meisya Zahida
Meisya Zahida Mohon Tunggu... Perempuan penunggu hujan

Sejatinya hidup adalah perjuangan yang tak sudah-sudah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Prahara di Pantai Asela

25 Maret 2020   17:55 Diperbarui: 25 Maret 2020   18:02 22 2 0 Mohon Tunggu...

Aku merasakan sentuhan tangan yang begitu dingin di kening, kemudian lamat-lamat kudengar suara keriuhan yang terasa jauh. Bumi bagai berputar, kadang menghempaskanku,  sesekali aku dibiarkan mengapung. Aku tak melihat apa pun, kecuali rasa asing yang begitu kuat mengepungku. Entah apa namanya, aku seperti berada dalam cuaca gelap dan terang. Ingin rasanya aku teriak, namun suaraku terbentur pada keluasan waktu, tak bisa kupastikan kapan arah dan datangnya.

*****
Aku masih belum yakin ketika Dimas, kekasihku membawaku ke rumah makan ini, Asela. Lampu-lampu yang redup dengan meja dan kursi tertata rapi, di samping kiri sebuah kolam setengah jadi tengah direnovasi, jembatan yang melingkar dengan bambu-bambu yang dipoles sedemikian rupa menambah keindahan suasana, jembatan paling kiri lurus ke arah laut, di bagian tengah membetuk peristirahatan dengan meja-meja unik.

Sepertinya, ditempati orang-orang yang lagi makan sambil lesehan. Jembatan paling kanan dibuat menurun, di atasnya ada semacam bundaran kecil tertulis "Lautan Cinta",  tempat ini digunakan beberapa pasangan berfoto ria, mungkin sebagai oleh-oleh yang bisa dikenang.

Aku tersenyum melihat tingkah dan gaya mereka, tapi, begitu aku melihat kejauhan laut yang begitu luas kecemasan menyandera perasaanku, aku gemetar dengan keringat dingin memenuhi tubuhku.

"Adelia, kau kenapa?" Dimas merangkulku sambil mendudukkan aku di kursi.

"Aku tak bisa di sini, Dim. Antarkan aku pulang," mataku berkaca-kaca, aku tak mampu lagi menahan diri.

"Del, aku ingin buktikan padamu, kau bisa keluar dari keadaan trauma yang buatku tak masuk akal, kau bisa, kau hanya perlu waktu, dengan mengikhlaskan kepergian ayahmu."

Dimas meyakinkan aku sembari mendekapku erat, sepertinya dia ingin meyakinkan aku tentang sebuah kebebasan, kebebasan menahun yang tak kunjung hilang, sejak kepergian ayah sewaktu melaut tiga tahun lalu tubuh dan pikiranku bagai didera ketakutan yang ganjil.

Aku melihat jasad ayah yang membiru dengan bagian tubuh yang tak utuh dalam gendongan beberapa orang, aku meraung sekerasnya sembari berusaha menggapai tubuhnya,  betapa tidak Ayah satu-satunya tulang punggung kelurga tiba-tiba pergi dengan cara mengerikan, setelah tiga hari tak ditemukan, Ayah terdampar di pantai dalam kondisi yang tak kuasa kuceritakan. Sejak saat itu aku seolah dihantui rasa takut yang luar biasa. Setiap kali melihat laut kenyataan buruk menekanku, menggoreskan luka kian nganga.
.
"Kamu percaya padaku kan, sayang?" Dimas menepuk pundakku. Aku duduk terdiam dengan pikiran kalut, kulihat Dimas menjauh menuju kasir, mungkin dia memesan minuman atau makanan, aku duduk meringkuk, berusaha menenangkan diri.

Langit tampak mendung, gulungan awan memenuhi area pantai sepanjang mata, tapi pengunjung begitu banyak. Ada yang pulang dan datang lagi, kulihat anak kecil berlarian di atas jembatan, beberapa orang bercegkerama di beberapa tempat. Mereka bahagia sekali.

Aku lihat Dimas menuju ke arahku, dia begitu perhatian dan aku merasa salut dengan usahanya yang selalu ingin meyakinkan aku, katanya, laut adalah ciptaan Tuhan yang begitu indah, tak perlu ditakuti, jika pun terjadi tsunami atau hal buruk lainnya, itu peringatan Tuhan agar kita lebih mensyukuri nikmatNya. Bukan hanya sekali dia meneguhkan semangatku agar mampu keluar dari lingkaran yang menakutkan.

Belum habis pikiranku membayangkan kebaikan Dimas, aku lihat orang-orang berlarian. Aku panik, di kejauhan, tampak gelombang besar menuju pantai, semburannya  yang cepat seolah ingin menelan siapa pun di sekelilingnya. Aku terpaku di tempat dan tak kuasa berlari. Gambaran menakutkan yang selama ini berlarian dalam angan kini ada dihadapan

"Oh, Tuhan. Bagaimana aku mampu mendustai kemahaanMu, bagaimana aku bisa menghindar sementara ragaku sama-sekali tak mampu kugerakkan"

"Ayo, Del. Kita pergi, menyelamatkan diri". Dimas menarik tanganku dan berupaya menyeret tubuhku, ketika genangan air menyentuh kaki-kaki kami, tubuhku melemah, pandangan mengabur, aku tak ingat apa-apa lagi.

 *****
"Bangun, sayang! Ini ibu, Nak!" Sebuah suara mendengung di telingaku, aku merasakan tangan-tangan mengguncang tubuhku. Aku tak kuasa bergerak, tubuhku serasa lumpuh. Beberapa detik kemudian, aku dengar suara tangis seseorang, begitu cemas dan memilukan.

"Andai kau mendengar kata-kata Ibu, semua tak kan terjadi, Nak"

Mataku terasa berat, tapi aku harus bisa, setelah bersusah payah aku bisa membuka mata. Kulihat ibu, kak Nesta juga Om dan tante Fina berdiri di dekatku.

"Bu, maafkan Adel," aku tak kuasa berucap setelah perempuan yang sangat menyayangi aku itu, memelukku erat-erat. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ya Dimas, mana Dimas?

"Dimas di mana, Ibu?" Suaraku tetbata-bata. Ibu menggeleng kuat-kuat. Diikuti kak Nesta dan yang lain. Tak ada yang membuka suara, satu persatu nereka saling tatap, aku makin penasaran tapi mencoba untuk tabah.

"Yang sabar ya, Del. Dimas sudah tenang di sana". Suara kak Nesta tersendat-sendat, kemudian memburuku dan memelukku dengan terisak. Aku lunglai seketika, separuh jiwaku terasa pergi. Tiba-tiba, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di dada, aku ambruk dan tak sadarkan diri lagi.

****

Kulihat, Dimas tersenyum ke arahku. Wajahnya begitu sumringah dengan pakaian serba putih. Di tangannya, menggengam sebuah cincin.

"Aku menunggumu, sayang. Aku datang untuk memenuhi janjiku, meminangmu" ia mendekat, betusaha meraih tanganku untuk melingkarkan cincin itu di tangan. Aku menyambutnya dengan seluruh bahagia di dada. Seluruh semesta seperti menggambar peta paling indah, bunga-bunga melati berjatuhan mengiringi langkah Dimas, matanya penuh binar begitupun aku, tapi, sebelum cincin itu terlingkar, bayangan Dimas pelan-pekan menghilang. Aku terhempas dan merasakan gelap yang begitu pekat.

Madura, Maret 2018

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x