Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... Lainnya - β–  π»π‘œπ‘π‘–: 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 π‘‘π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘”π‘– πΎπ‘Žπ‘‘π‘Ž β–  π‘Šπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘“π‘œπ‘Ÿ π‘–π‘›π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘‘ π‘’π‘šπ‘π‘œπ‘€π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘”. πΉπ‘œπ‘Ÿ π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘‘, π‘π‘’π‘Žπ‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ 𝑗𝑒𝑠𝑑𝑖𝑐𝑒

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi Terakhir

18 September 2021   00:03 Diperbarui: 18 September 2021   00:08 82 13 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Puisi Terakhir
Β "Last Poem"(dokpri, MYT by picsart)

Sobat, ini puisi terakhir dariku. Untukmu. Maafkan aku yang telah jemu. Merangkai narasi, hanya bayang semu. Yang kuharap adalah sesaat dalam temu. Β 

Sobat, ini puisi terakhir yang terpampang. Aksara-aksara telah bosan saling silang. Kata-kata telah menghilang. Tenggelam bersama lautan rasa yang bimbang, hanyut bersama gelombang.Β 

Diksi-diksi telah habis kupilih. Mungkin saatnya kita beralih. Meninggalkan diksi menjadi kenangan, meskipun pedih. Tenanglah. Kepedihan pasti berangsur pulih.Β 

Sobat, biarlah puisi ini menjadi yang terakhir. Hidup kita pasti akan berakhir. Tetapi, puisi-puisi, selalu hadir. Meskipun hanya sebait syair. Β 

Dia akan terus hadir dan takkan berakhir. Karena puisi terlahir untuk menjadi abadi, sampai dunia berakhir.Β 

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan