Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... Lainnya - β–  π»π‘œπ‘π‘–: 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑙𝑖𝑠 π‘‘π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘”π‘– πΎπ‘Žπ‘‘π‘Ž β–  π‘Šπ‘Ÿπ‘–π‘‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘“π‘œπ‘Ÿ π‘–π‘›π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘‘ π‘’π‘šπ‘π‘œπ‘€π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘”. πΉπ‘œπ‘Ÿ π‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘‘, π‘π‘’π‘Žπ‘π‘’ π‘Žπ‘›π‘‘ 𝑗𝑒𝑠𝑑𝑖𝑐𝑒

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kepada Rembulan

12 Agustus 2021   17:50 Diperbarui: 12 Agustus 2021   17:50 90 13 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kepada Rembulan
Rembulan di atas Manado. Dokpri (MYT, 10082021)

Kepada rembulan aku mengadu. Tentang seribu purnama yang telah lewat. Tentang hari-hari yang dimakan waktu. Tentang bulan-bulan di lembaran almanak. Tentang tanggal-tangal kelabu. Tentang linimasa yang meledakan kecemasan.Β 

Kepada rembulan aku menggantungkan asa. Tentang cita yang terbang memeluk bulan. Tentang cinta dan harmoni yang awet melintasi sejuta purnama. Tentang senyum rembulan di malam gelap mencemaskan.

Tetapi, rembulan menolak pengaduan dan asaku.Β 

"Aku bukan tempat mengadu dan gantungan asa." Begitu nada sang rembulan. Sambil tersenyum.

"Aku hanyalah lukisan tentang keindahan yang fana. Yang cemas di kala gerhana. Yang menggantungkan asa kepada Pencipta kita,"Β ungkapnya lagi.Β 

Dan, kepada rembulan aku belajar. Tentang alamat pengaduan dan asa. Yang sebenarnya dan seharusnya. Yang sering terlupakan: Tuhan manusia dan rembulan. Penguasa jagad raya.

Mohon tunggu...
Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan