Mohon tunggu...
Meidy Yafeth Tinangon
Meidy Yafeth Tinangon Mohon Tunggu... write and share for empowering, peace and justice

www.meidytinangon.com | www.info-pemilu-pilkada.online | www.pikir.net | www.globalwarming.web.id | www.minahasa.xyz | www.mimbar.online |

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Manusia Bodoh

10 Maret 2021   01:59 Diperbarui: 10 Maret 2021   02:06 158 39 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Manusia Bodoh
fineartamerica.com

"Tak perlu muluk-muluk, tak usah bercita-cita tinggi. Kita kaum bodoh, manusia bodoh di kampung ini," begitu ungkap nenek kepada seorang cucunya. 

Sang cucu merenung, hanya merenung, tanpa sepatah kata, hanya kata dalam pikiran: "Bukankah nenek tahu, meskipun tak pintar amat, aku selalu lulus hingga sekarang kelas enam SD?"

Tapi sudahlah, mungkin nenek punya maksud lain. Biarlah aku menyebut diriku: "manusia bodoh!"
Setidaknya, jika aku salah, tak ada alasan untuk menyalahkanku. Maklum aku manusia bodoh.

Sekali lagi, "aku manusia bodoh!!!"

Sekian purnama ditelan waktu
Manusia bodoh, berserah kepada angin
Manusia bodoh, mengalir seperti air

Hanya keyakinan yang menemani
Keyakinan tentang niat
Niat tentang ketulusan 

Langkah terus melangkah
Langkah tentang kebaikan
dan kebaikan tentang kebaikan  

Raga terus berjuang
Juang tentang kerja
Kerja berirama keras

Di suatu titik perhentian, manusia bodoh itu, menangis terharu.
Tersadar. Dia duduk di kursi manusia cerdas, meskipun dia masih dan masih, semakin merasa bodoh.

"Terimakasih nenek, untuk filosofi manusia bodoh."
Manusia bodoh ternyata adalah motivasi, supaya tidak dibodohi zaman.  

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x