mega laras
mega laras

Mahasiswi Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor yang selalu ingin terus belajar di dunia kepenulisan. Author situs berita Forester Act! Forester Act/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tolak Angin, Sahabat Setia yang Selalu Menemani Kapan pun dan Dimana pun!

10 Agustus 2018   11:44 Diperbarui: 10 Agustus 2018   12:16 269 2 1
Tolak Angin, Sahabat Setia yang Selalu Menemani Kapan pun dan Dimana pun!
Dokumentasi pribadi

Kalian pasti sudah tak asing lagi dengan salah satu produk unggulan Sido Muncul yang satu ini, bukan? Yups! "Tolak Angin". Obat herbal yang satu ini benar-benar khas Indonesia lho karena memanfaatkan kekayaan alam Nusantara kita! Kandungan dari obat herbal berstandar GMP (Good Manufacturing Practice) ini berupa adas, kayu ules, daun cengkeh, jahe, daun mint, madu, dan bahan-bahan lainnya.

Obat herbal yang terkenal dengan tagline "Orang Pintar, Minum Tolak Angin" ini ternyata punya banyak manfaat lho. Yups obat herbal memiliki manfaat lebih dari sekedar atasi masuk angin.

Nah kali ini saya akan menceritakan perjalanan-perjalanan saya bersama "Tolak Angin", sahabat setia yang selalu menemani kapan pun dan dimana pun!

Perjalanan Pertama Bersama "Tolak Angin"

Kalau boleh jujur, dari kecil saya memang anak yang tidak bisa melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan, seperti mobil atau bus. Ya...karena setiap melakukan perjalanan panjang, saya selalu mual, pusing, sakit perut bahkan muntah. Hal ini tentunya merepotkan terlebih karena keluarga besar saya suka melakukan perjalanan jauh untuk sekedar berlibur atau mudik lebaran. Hahaha, ironis memang ketika perjalanan yang seharusnya menyenangkan bersama keluarga malah menjadi perjalanan yang menyedihkan bagi saya.

Eh tunggu dulu! Itu sih kisah saya dulu sebelum mengenal "Tolak Angin". Nah coba simak dulu kisah penjalanan pertama saya bersama "Tolak Angin" di bawah ini ya.

Jadi ceritanya saat musim liburan, saya dan keluarga saya berencana pergi berlibur ke Pegunungan Dieng, Wonosobo. Aduh mendengar rencana itu saja saya sudah pusing dan sedih. "Ah pasti jalannya berliku-liku banget nih!" "Aduh jauh lagi tempatnya!" "Ya sudahlah pasti mabuk ini mah!" "Siap-siap bawa kantung plastik nih!". "Ah pasrah!".

Sesaat sebelum berangkat, saya masuk ke dalam mobil dan diam di dekat jendela dengan muka murung alias pasrah. Eh tiba-tiba Ibu saya memegang pundak saya, "Ini nanti diminum ya kalau mual waktu di jalan. Nanti pasti gak bakalan mabuk". Saya pun menerima satu sachet "Tolak Angin" pemberian Ibu saya. Kemasannya sangat manarik dan praktis, sehingga mudah dibawa kemanapun.

Ketika kami baru melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, perut saya sudah terasa tidak enak dan mual. Tak berpikir panjang, saya langsung minum "Tolak Angin" yang kata Ibu saya sih bisa membuat saya tidak mabuk perjalanan.

Wow! Benar saja, saat pertama kali saya minum "Tolak Angin", rasa mint'nya langsung terasa di mulut, rasa hangat juga langsung terasa hangat di tenggorokan yang kemudian menjalar hingga perut. Hmmm, perut saya langsung terasa hangat dan tiba-tiba hilang sudah rasa mual yang sebelumnya saya rasakan. Mantap sekali! Ketika diminum, "Tolak Angin" langsung memberikan sensasi yang melegakan!

Nah itu dia pengalaman pertama saya bersama "Tolak Angin". Sejak saat itu saya selalu membawa dan mengkonsumsi "Tolak Angin" ketika perjalanan jauh. Ah senang rasanya ketika perjalanan jauh menjadi sangat menyenangkan bersama "Tolak Angin".

Perjalanan Panjang Ke Pulau Sebrang Bersama "Tolak Angin"

Seperti mahasiswa pada umumnya, saya harus melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) bersama teman-teman saya selama 1 bulan penuh. Dan karena kami adalah mahasiswa Kahutanan, tentunya kami harus melaksanakan PKL di hutan. Setelah melakukan percarian informasi, kami memutuskan untuk PKL di hutan Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Timur.

Berdasakan informasi yang kami peroleh, untuk mecapai lokasi PKL kami harus melakukan perjalan panjang selama berjam-jam. Mulai dari perjalanan darat dari Bogor ke Jakarta, kemudian perjalanan udara dari Jakarta ke Balikpapan selama kurang lebih 2 jam. Sesampai di Balikpapan, kami harus menempuh perjalanan darat ke Samarinda yang memakan waktu selama 3 jam. 

Tak hanya sampai di situ, kami harus melakukan perjalan panjang ke Pelabuhan Tering melalui jalur darat selama 9 jam. Kemudian, kami harus naik speedboad selama 3 jam ke Long Bagun. 

Perjalanan kami kemudian harus berlanjut dengan menyusuri Sungai Mahakam menggunakan longboat selama 4 jam untuk sampai di lokasi PKL. Yups benar-benar perjalanan panjang menuju pedalaman hutan Kalimantan!

Itu semua informasi yang kami peroleh dan memang benar kami melakukan perjalanan panjang tersebut. Nah, perjalanan panjang ini tentunya saya tempuh bersama sahabat setia saya "Tolak Angin". 

Sebelum berangkat, tak lupa saya membawa persediann "Tolak Angin" yang cukup banyak. Untungnya harga "Tolak Angin" sangat terjangkau dan mudah ditemukan di manapun. 

Tentunya selama perjalanan panjang tersebut saya selalu mengkonsumsi "Tolak Angin" agar perjalanan lebih menyenangkan. Semoga saja persediaan "Tolak Angin" yang saya bawa mencukupi kebutuhan saya.

Namun, perkiraan saya salah. Memang selama perjalan berangkat semuanya aman terkendali karena ada "Tolak Angin" yang menemani. Eh, ternyata jalan di tempat PKL kami sangat berliku (maklum ya karena jalan di hutan alam bukan hutan tanaman) dan kegiatan PKL saya sangat berat serta melelahkan. Apa yang terjadi? Persediaan tolak angin saya habis sebelum PKL selesai! Tak hanya itu, persediaan tolak angin teman-teman saya pun habis, padahal kegiatan PKL masih banyak dan belum selesai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2