Mohon tunggu...
Mutiara Me
Mutiara Me Mohon Tunggu... saya

Belajar nulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama FEATURED

Media Sosial Itu Memang Tempatnya Pamer

17 Maret 2018   21:00 Diperbarui: 11 Juni 2019   00:24 0 35 14 Mohon Tunggu...
Media Sosial Itu Memang Tempatnya Pamer
Sumber: http://www.livewirepr.com

Banyak sudah tulisan yang membahas tentang media sosial dan fenomenanya, bahkan ramai studi-studi ilmiah dari sudut pandang psikologi, antropologi dan sosiologi. Meski begitu tidak membuat masalah dan kepelikan di dalam kenyataannya berkurang. Sebaliknya malah lebih rumit dan dalam. Ini adalah cuplikan-cuplikan narasi orang-orang di sekitar saya, tentang media sosial. 

Finie, si ibu rumah tangga itu posting foto martabak manis buatannya, dengan caption: "Makanan sehat adalah makanan yang dimasak di dapurmu sendiri. Inilah camilan untuk keluarga tercinta."

Si Bella, seorang istri dan juga pekerja bank yang baru pulang tetiba baper. Pasalnya, pernah suatu hari Bella ngobrol sama Finie dan cerita kalau ia sering tidak sempat masak di rumah karena pekerjaannya, akhirnya banyak beli di luar. Sekilas ingatan itupun layaknya api menyambar-nyambar saraf di otak Bella, yang membuat jantungnya berdegup-degup. "Ah ini tentang aku." Tiba-tiba bisikan entah dari mana itu terdengar dengan jelas di alam bawah sadarnya. 

Ia pun buru-buru ke dapur, ditengok kulkasnya ada keju dan daging cincang. "Resep masak... keju... daging... cincang... mudah cepat" diketik dengan cepat di mesin pencari di hapenya. "Aha!" Setelah satu dua saat, jadilah macaroni schotel pertamanya. Piring mewah diculiknya dari lemari dan ditatanya macaroni itu. Setelah foto berbagai angle, dipilih yang paling bagus, dan diedit biar yang bagian gosong tidak terekspos, diuploadlah ke  media sosialnya dengan caption: "Capek kerja tapi tetep masak cantik dong buat kesayangan." 

Di waktu yang sama, Benny: "Aku heran, ngapain sih orang koar-koar di Pesbuk? Buat apa gitu lho. Aku ngga ngerti sampai sekarang kenapa orang harus update status, sharing foto..." ujar Benny, sambil menyeruput kopinya di Setarbak. Di depannya, Sesil, sibuk mengabadikan momen saat susu cair dia tuangkan ke dalam kopinya, yang kemudian diupload ke Instagram story-nya dengan tulisan: "di Setarbak, with my boo." 

Mungkin bener juga kata Benny. Kenapa kita harus umbar sebagian kecil hingga banyak hal yang sebenarnya pribadi, contoh apa yang kita makan, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lakukan, kalau ngga tujuannya buat "showing (off)".

Media sosial apapun bentuknya memang tidak dimaknai SAMA oleh setiap orang. Ada yang buat jualan, buat iseng, buat dicek sebulan sekali, setahun sekali, buat lihat berita, mekipun yang paling banyak ialah untuk eksis dan PAMER. Yang ditampilkan pastinya yang bagus-bagus, yang sempurrnaa, walau apapun aslinya. Akhirnya kebiasaan ini diikuti yang lain, di-like segambreng, dan yang ngga seperti itu sepi likers... dan begitu seterusnya kalau ngga pakai editan, ngga pake penataan dsb kelihatan kurang instagrammable, ndeso.

Banyak juga yang menganggap media sosial adalah cara kita untuk tetap saling menyambung silaturahmi meskipun terpisah jarak. Tapi apakah kita yakin kalau sudah di medsos lebih akrab, atau malah lebih renggang? Ataukah malah kita jadi mendangkalkan arti pertemanan? Asalkan udah konek di medsos, udah teman. 

Asalkan udah like dan sering komen fotonya, artinya BFF (best friend forever). Kenyataannya, Finnie dan Bella sampai sekarang masih perang dingin. BAPER, GALAU dan NYINYIR jadi rasa-rasa yang jamak dirasakan oleh pengguna medsos. Akhirnya banyak pertemanan lama harus putus di tengah ramainya sosial media karena ke-pamer-an ini. 

Seseorang menampilkan private jet nya di sosial media (sumber: pinterest)
Seseorang menampilkan private jet nya di sosial media (sumber: pinterest)
Di lokasi berbeda, Alo tiba-tiba menonaktifkan Pesbuknya. Esoknya ia aktifkan kembali. Seminggu kemudian dia memberi pengumuman kalau dia tidak akan membuka di platform itu dan siapapun yang akan menghubunginya bisa mencoba jalur lain. Ada 10 orang yang memberikan jempol, dua orang memberikan komentar, dari 978 teman didaftarnya. 

Tapi dua hari kemudian dia mengubah foto profilnya menjadi kura-kura unyu, yang sebelumnya gambar pegunungan. Alo tidak mau terlalu membuka privasinya di Pesbuk, tapi tidak mendapat atensi pun membuat ia merasa ia sendiri. Ia akhirnya depresi berat dan harus rutin pergi ke psikolog.

Kenyataannya, saat kita membuka lebih banyak privasi di media sosial, orang memang cenderung akan lebih senang dan menghujani kita dengan komen dan likes. Persaingan postingan, termasuk juga persaingan atensi sering tak terelakkan karena: Satu, "(media sosial) itu memang tempatnya pamer" (kata Acid, temen yang berusia 20 tahunan). Dua, mereka yang baper, galau dan nyinyir ngga sadar poin nomer satu. Dah itu aja.

Di satu sisi, media sosial memang sangat membantu banyak bisnis dan enterpreneur maju pesat. Dengan adanya keinginan tampil eksis itu, pengguna media sosial jadi banyak kebutuhan. Jadi yang menangkap peluang ini bisa menjadikan media ini untuk ajang "pamer" produk atau jasa buat jualan dan promosi, dan di situ lah medsos bisa jadi mesin uang. 

Contoh, sekarang banyak orang lebih mementingkan menabung untuk traveling untuk diposting dan eksis, ketimbang beli barang. Kalaupun ada barang yang dibeli adalah barang yang dipakai untuk foto-foto. Artinya bisnis tur dan travel sangat segar, juga bisnis tempat nongkrong. 

Lihat saja, kalau mau makan orang sekarang banyak nyari tempat yang berdekorasi, yang makanan nya ditata, yang piringnya unyu, yang gelasnya instagrammable, meskipun mahal, bisa foto-foto, dan bisa check in lokasi, buat apa? ya apa lagi kalau bukan, diupload ke medsos. Intinya bisnis apa saja yang mendukung kelayakan untuk diposting di media sosial adalah bisnis yang menguntungkan. Contoh: bisnis travel, kamera dan pendukung fiturnya, kursus fotografi, kursus bikin bento lucu, tempat makan/ makanan yang photoable, dll.

Di sisi lain, ada tingkah laku kolektif yang cukup negatif yang disebabkan oleh "budaya" di media sosial ini, termasuk keinginan besar untuk terlihat sempurna, menunjukkan segala 'pencapaian' kita dan divalidasi oleh khalayak umum, entah kenal ataupun tidak. Mendapat jempol untuk sebagian besar orang adalah candu untuk menunjukkan bahwa ia dan postingannya disukai, betapapun kenyataannya. Jika tidak, maka banyak yang cenderung menyalahkan diri, merasa tidak disukai dan berakhir depresi.

Begitulah, meski judulnya SOSIAL, dalam media sosial seakan kita diprogram untuk menjadi manusia yang non-sosial, yang lebih tidak sensitif terhadap privasi, tidak sensitif saat bertemu orang di dunia nyata, namun cenderung sensitif, baper, iri terhadap ujaran dan postingan orang lain, termasuk tidak segan-segan memanipulasi diri agar hidup terlihat sempurna dan ramai atensi. 

Jadi kalau berani main medsos, jangan lupa kata Acid ya, "Itu memang tempatnya pamer." :)

Mutiara Me

*semua nama dalam tulisan ini pseudonym.