Mohon tunggu...
Muhammad Catur Nugraha
Muhammad Catur Nugraha Mohon Tunggu...

Young Engineer dan Tukang Ngelayap

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Jalan-jalan ke Pulau Penyengat

11 November 2014   18:03 Diperbarui: 17 Juni 2015   18:04 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jalan-jalan ke Pulau Penyengat
1415619244994802262

Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil yang terletak di seberang Tanjung Pinang sekitar 2 km. Pada abad ke 18 pulau ini merupakan lokasi pemerintahan Kesultanan Johor-Riau dan banyak orang yang mengatakan bahwa tak lengkap rasanya jika anda ke Tanjung Pinang tanpa mengunjungi Pulau Penyengat. Maka dari itu pada saat kesempatan saya berkunjung ke Tanjung Pinang saya sempatkan singgah terlebih dahulu di pulau ini.

Pulau Penyengat dilihat dari Tanjung Pinang

Perjalanan dimulai dari rumah etek (bibi) saya di Batam Centre dengan berboncengan sepeda motor bersama Agro, adik kelas saya, kami menuju Pelabuhan Punggur. Jam 13.40 kami sampai di Pelabuhan Punggur, segera kami menuju loket pembelian tiket kapal ferry cepat ke Tanjung Pinang. Ongkos untuk dari Pelabuhan Punggur Batam ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang adalah Rp 40000 namun jika anda membelinya untuk pulang pergi diskon 5 ribu menjadi Rp 75000.

Hanya dibutuhkan 1 jam saja, kami s,udah sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, dari pelabuhan ini kami keluar menuju pelabuhan khusus untuk ke Pulau Penyengat, dari pelabuhan ini kami harus naik perahu kecil yang masyarakat sini menyebutnya Pompong.Ongkos untuk sampai Pulau Penyengat hanya Rp 5000 saja, kalo kita membawa keluarga, kita bisa mencharter pompong tersebut dengan biaya Rp 150000 .

Dermaga Penyengat
Dermaga Penyengat
Dermaga Penyengat

Agro di Perigi Puteri
Agro di Perigi Puteri
Pompong

Alhamdulillah, keadaan laut waktu itu sedang tenang, terkadang jika sedang musim angin tidak bisa kita akses ke Penyengat. Setelah menyeberang selama 15 menit kami sampai di Dermaga Pulau Penyengat. Ketika kami sampai, dari dermaga ini terdengar lantunan ayat suci Al – qur’an dari speaker masjid Raja Sultan Riau, orang sini menyebutnya Masjid Putih Telur (yang dari sejarahnya dikatakan bahwa putih telur digunakan sebagai bahan perekat, sedangkan untuk catnya menggunakan kuning telur). Karena sudah masuk waktu ashar kami singgah ke masjid itu dan shalat ashar bersama warga dan wisatawan lainnya.

Masjid Sultan Raya Riau
Masjid Sultan Raya Riau
Masjid Sultan Raya Riau

Selepas shalat, kami akan memulai menjelajahi pulau kecil dengan luas 3,5 km2 ini. Para tukang bemor (becak motor) menawari jasanya kepada kami. Untuk menyewa bemor kita cukup membayar Rp 25000 per trip mengelilingi pulau ini. Namun, waktu itu karena masih mahasiswa dengan uang pas – pasan kami tolak tawaran tersebut, jadinya kami mengelilingi pulau ini dengan jalan kaki.

Peninggalan sejarah yang kami temui setelah Masjid Raya Sultan Riau adalah Perigi Puteri/Kunci yang merupakan tempat pemandian kaum perempuan pada masa Kerajaan Johor-Riau, kami melihat sejenak dan masuk kedalamnya, didalamnya terdapat tempat duduk memanjang dan kolam berisi air.

Agro di Perigi Puteri
Agro di Perigi Puteri
Agro di Perigi Puteri

Setelah itu kami terus mengikuti jalan di pulau ini (jalan di pulau ini tidaklah lebar dan tidak diaspal karena tidak ada mobil disini), lalu kami jumpai pertigaan dimana tertulis pada penunjuk jalan tersebut menuju Bukit Kursi. Kami ikuti jalan tersebut dan kami menemui situs Gedung Mesiu, pada masa kerajaan Johor-Riau dahulu, bangunan yang memiliki dinding tebal, kubah bertingkat serta jendela kecil berjeruji besi ini digunakan sebagai gudang tempat penyimpanan mesiu. Dari Gedung Mesiu kami lanjuttkan lagi perjalanan ini dan sampailah kami di Kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Johor - Riau, lanjut dari makan ini, kami menaiki anak tangga menuju Bukit Kursi, dahulu bukit ini merupakan benteng pertahanan Kerajaan Johor - Riau. Di Bukit Kursi ini terdapat 8 meriam. Posisi benteng di bukit ini sangat strategis, ketika musuh sudah nampak akan mendekati pulau, tinggal ditembak saja. Hebat!

Jalan di Pulau Penyengat yang tidak lebar
Jalan di Pulau Penyengat yang tidak lebar
Jalan di Pulau Penyengat yang tidak lebar
Gedung Mesiu
Gedung Mesiu
Gedung Mesiu

Jalan Setapak Menuju Bukit Kursi
Jalan Setapak Menuju Bukit Kursi
Jalan Setapak Menuju Bukit Kursi
Meriam di Bukit Kursi
Meriam di Bukit Kursi
Meriam di Bukit Kursi

Setelah puas menikmati Bukit Kursi, kami lanjutkan perjalanan, lalu kami menemukan cagar yang disebut Balai Adat, lanjut jalan lagi kami melihat rumah – rumah penduduk asli pulau ini, ada juga kantor lurah dan perpustakaan Raja Ali Haji.

Tepat jam 17.00 kami akhiri perjalanan di Pulau Penyengat ini, kami pun segera menuju ke dermaga untuk kembali naik pompong menuju Tanjung Pinang kembali. Rasanya puas sekali bisa jalan – jalan sekaligus mempelajari sejarah Kerajaan Johor – Riau yang mungkin tidak kita temui di buku – buku teks pelajaran sekolah.

Temukan indahnya indonesia di http://www.indonesia.travel/wonderfulindonesia

KONTEN MENARIK LAINNYA
x