Mohon tunggu...
Suci Ayu Latifah
Suci Ayu Latifah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Satu Tekad Satu Tujuan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Lingkar Kulturalisasi Bahasa

11 Maret 2019   17:37 Diperbarui: 11 Maret 2019   17:59 0 3 1 Mohon Tunggu...
Lingkar Kulturalisasi Bahasa
streemk.com

Sumpah pemuda, menjadi momen untuk mempertanyakan ulang apa-apa yang sudah, akan, dan belum dilakukan oleh generasi bangsa. Generasi yang ditunggu dan diharapkan para kaum tua supaya menjunjung, membangkitkan, dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Rasa nasionalime ditandai dengan kesanggupan atas sumpahnya menjunjung tinggi: tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.

Mutakhir, ketiga sumpah itu tak ubahnya permainan belaka. Tidak diresapi dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu, permasalahan yang paling menonjol adalah perihal bahasa.

Bahasa Indonesia, sering kali disalahgunakan penuturnya. Masyarakat lebih bangga ketika menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi. Bahkan, ada pula bahasa alay alias bahasa gaul.

Penyimpangan bahasa ini sering kita jumpai di sosmed, misal facebook. Status-status yang beredar menggunakan bahasa, seperti kamue, jadhi, sehlalue, ce4, shayank, dan lainnya.

Mestinya sebagai pemilik bahasa Indonesia tahu, pemakaian bahasa yang demikian sama halnya merendahkan bahasa pemersatu kita. Sebab bahasa adalah identitas negara Indonesia, yang seharusnya dijunjung tinggi keberadaannya.

Memantau  penggunaan bahasa yang mengerikan itu, sepintas saya teringat unen-unen Jawa yang berbunyi,  "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana", artinya seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya (bahasa), sementara berharganya seseorang dilihat dari busana yang dikenakan. Belajar dari unen-unen tersebut, poin menarik yakni bahasa merupakan bagian integral materi yang digunakan manusia untuk meraih penilaian tertentu. Titik tekan bahasa menjadi perhatian khusus. Pasalnya, bahasa dijadikan alat sebagai pembeda dengan makhluk lainnya, sekaligus menunjukkan kepribadian.

Menurut Sunaryo (2000:6), tanpa adanya bahasa (bahasa Indonesia) ilmu pengetahuan tidak dapat tumbuh dan berkembang. Sebab, bahasa berfungsi  sebagai sarana berpikir dan pendukung pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang dituturkan Descartes, filsuf perancis menyatakan bila seseorang berpikir secara otomatis menunjukkan keberadaannya. Dengan demikian, salah satu memikirkan keberadaan bahasa dapat dilakukan dengan merevitalisasi makna kultur bahasa.

Konsep utama yaitu usaha membangkitkan kembali makna kultural bahasa sebagai media pemaknaan fakta kehidupan. Bahasa dijadikan kontribusi positif dalam rangka menciptakan jati diri, harga diri, mental diri lebih baik di masa datang. Pengejawentahan tersebut dijadikan pula sebagai penanaman rasa nasionalisme diri perihal interaksi antarmanusia dengan penggunaan tata kebahasaan yang ada.

Pemakaian bahasa yang baik dan benar bisa menjadi piranti emas komunikasi dengan orang lain yang memiliki bahasa yang berbeda. Hal itu ditekankan karena di era globalisasi, bahasa yang kita pakai menjadi inferior semata. Lebihnya, bahasa sebagai alat komunikasi yang miskin makna. Akibatnya bahasa sering kehilangan makna semantik, estetis, dan sosiolinguistik-nya. Padahal ketiganya mengisyaratkan makna kultural yang memberi kontribusi positif menuju kehidupan yang lebih beradab.

Dengan demikian, sebagai generasi muda tugas kita adalah berperan penuh mengembangkan bahasa Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan, yaitu diterapkan lewat penelitian, diskusi, tukar pikiran, dan lainnya. Jika pengembangan ini benar-benar diterapkan generasi muda maka secara otomatis akan bertanggung jawab terhadap makna kultur bahasa Indonesia yang ada. Semoga!