Suci Ayu Latifah
Suci Ayu Latifah Mahasiswa

Satu Tekad Satu Tujuan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Memantapkan Pers Kita

11 Februari 2019   21:15 Diperbarui: 11 Februari 2019   21:18 9 2 1

Hangatnya pagi, paling enak menikmati secangkir teh hangat. Tak lupa, seperti hari pagi biasanya, santapan koran melengkapi aroma pagi santai.

Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir. Setiap pagi ada hidangan bacaan yang menarik di meja---koran Kompas. Tepat di hari Minggu lalu, berita heboh ditulis dengan tinta hitam, berukuran font besar. Ada gambar presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan dua orang laki-laki di sampingnya. Berlatar belakang warna merah jambu ketiga orang itu berdiri. Di tangan Jokowi ada buku berukuran kecil.

Berjudul Media Arus Utama, Rumah Penjernihan Informasi. Dalam berita tersebut dijelaskan, di Indonesia pemakai media sosial mencapai 124,4 juta jiwa atau sekitar 87,13%. Begitu banyak penikmat medsos itu harapnya media arus utama berperan sebagai rumah penjernihan informasi, mengaplikasikan kebenaran, dan menyingkap fakta.

Pertanyaannya, siapakah yang akan melakukan peranan itu? tentunya seorang jurnalis (wartawan).

Dalam buku Kebebasan, Tangggung Jawab dan Penyimpangan Pers, dikatakan tugas seorang wartawan adalah (1) menyarikan fakta, (2) mencari hubungan antarfakta, (3) merekonstruksikan kejadian dan menyajikan informasi berbeda dengan pers lainnya.

Melimpahnya informasi di udara yang kemudian terekam oleh medsos adalah gonjang-ganjing yang terjadi di negara kita. Sebagai konsumen informasi, hendaklah kita bersikap cerdas dalam menghimpun suatu informasi yang ada. Karena, di antara ribuan informasi itu terselip oleh informasi-informasi beraroma palsu atau bohong yang disebut dengan hoaks.

Karena maraknya berita itulah, para jurnalis dibekali dengan nilai-nilai moral yang tidak hanya memikirkan pribadi, tetapi juga keberasaan masyarakat dalam hal interaksi sosial. Moralitas bagi para jurnalis, menurut Shaffat dalam buku di atas dijelaskan setiap jurnalis (wartawan) harus mematuhi peraturan yang menunjukkan kemampuan profesional dalam setiap berita yang diliput atau ditulisnya.

Kemampuan profesional itu, menurut Stephen Klaidman dan Beauchamp dalam buku Shaffat, di antaranya (1) mengenali sebuah peristiwa secara menyeluruh, (2) menggunakan bahasa secara baik dan benar, (3) menulis dan menyuting berita dengan cepat dan sistematis, (4) mengecek fakta dengan cepat dan akurat, dan (5) menghadirkan fakta yang bersal dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda.

Dalam kelima kemampuan profesional di atas, pentingnya seorang wartawan menyampaikan kebenaran sesuai apa yang ada di lapangan---tidak mengada-ada. Penyampaian informasi untuk pembaca, hendaknya disertai data, dokumen, maupun sumber-sumber pendukung. Demikian itu, sudah menjadi etika seorang jurnalistik yang memiliki tugas besar penyebaran informasi yang dilakukan oleh lembaga pers.

Pers itu sendiri, memiliki tugas keabadian yaitu memberikan informasi, mendidik masyarakat, dan menghibur para pembaca. Dengan begitu, menghadapi gonjang-ganjing arus media yang kian gencar, keberadaan media diharapkan menjadi ladang nyata---bisa dinikmati dan disentuh publik dengan memberikan aspek intelektual, emosional, dan spiritual pembaca. Idealnya, semua buah pikiran, ide-ide, dan pendapat umum atau individu dikelola oleh pers sesuai dengan tugas yang ditetapkan.