Mohon tunggu...
Mbak Avy
Mbak Avy Mohon Tunggu... Seorang yang punya hobi menulis

"ordinary woman, but want to be an extraordinary mom"

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Mencari Rezeki dan Berbagi Rezeki dari Nasi Bungkus Bude

19 Mei 2019   22:06 Diperbarui: 19 Mei 2019   22:40 0 12 6 Mohon Tunggu...
Mencari Rezeki dan Berbagi Rezeki dari Nasi Bungkus Bude
Foto Pribadi

Bulan Ramadan disamping merupakan bulan suci yang selalu di tunggu oleh umat Islam, karena berlimpah rahmat, berkah dan pahala. Tapi ternyata juga bulan yang selalu di tunggu sebagian besar orang yang mempunyai usaha. 

Di mana pada bulan puasa akan bermunculan pengusaha-pengusaha dadakan untuk mengais rejeki lebih besar yang datang setahun sekali ini. Begitu juga dengan kisah teman saya yang selalu menuai rejeki besar ketika di bulan Ramadan. Salah satunya adalah pesanan nasi bungkus untuk buka puasa.

Namanya Diah, tapi yang mengenal dia lebih suka memanggil dengan nama Bude Diah atau cukup Bude begitu saja. Selama mengenal beliau, saya melihat dia seorang pekerja yang tangguh. Sehari-hari kerja buka lapak di pasar Siwalankerto Surabaya. Jualan jamu tradisional seperti beras kencur, sinom, kunir asem dan temulawak. Jualannya cukup laris, karena Budhe orangnya ramah dan lincah.

Nasi bungkus Bude harganya sangat terjangkau (dok.pri)
Nasi bungkus Bude harganya sangat terjangkau (dok.pri)
Kalau bulan puasa datang, Bude menambah usahanya dengan berjualan nasi bungkus. Biasanya beliau melayani kenalan yang berniat menyumbang nasi bungkus ke masjid, Yayasan yatim piatu atau kegiatan bagi-bagi takjil. Dan sambutan pembeli sungguh luar biasa. Karena di samping rasanya enak, lauknya nggak pelit, harganyapun sangat terjangkau. Satu nasi bungkus hanya dihargai dengan 6000-7000 saja. Akhirnya teman-teman memesan dalam jumlah yang lebih banyak.

Sampai puasa hari ke 13 ini, tidak kurang 3000 nasi bungkus sudah Bude bikin untuk pesanan kenalan-kenalan. Dan ternyata dari kenalan itu memberi referensi, sehingga makin banyak yang pesan ke Bude. Meskipun hanya dibantu 1 orang asisten dan 2 putrinya, tiap hari Bude tidak sampai kewalahan.

Ternyata Bude juga mengikuti teknologi lo. Kalau soal promosi, Bude hanya sekali pasang di facebook untuk menawarkan nasi bungkus. Tapi karena sudah banyak yang tahu, mereka sudah pesan sendiri langsung ke Bude. Pembayarannya juga sangat fleksible, apalagi sekarang jaman serba digital. Bisanya Bude terima DP dulu 50%. Ketika pesanan diambil, bisa dilunasi. Itupun tidak harus uang tunai. Kadang sudah di transfer dulu, tinggal kasih bukti ke Bude. Kata Bude, sekarang membawa uang tunai itu sangat tinggi resikonya. Lebih baik transaksi lewat mbanking. Apalagi Bude juga punya aplikasi Sakuku, jadi tinggal pilih. Mau transfer lewat mbanking BCA atau Sakuku. Praktis dan simpel karena memang sekarang #GenerasiSimpel.

Foto Pribadi
Foto Pribadi
Untuk pengambilan atau pengantaran sendiri juga bisa menggunakan jasa online. Karena sekarang jasa online sangat terpercaya dan mudah sekali. Yang pesan biasanya tinggal transfer ke Bude, selanjutnya Bude pesan transportasi online untuk mengantar ke tempat yang di maksud.

Bude menyiapkan nasi bungkus untuk dibagi (dok.pri)
Bude menyiapkan nasi bungkus untuk dibagi (dok.pri)
Dari rejeki yang dia terima, ternyata Bude tidak melupakan mereka yang membutuhkan. Sering dia membuat nas bungkus tidak pas dengan pesanan. Kadang bisa lebih 10-20 bungkus untuk dia bagikan ke masjid dekat rumah atau petugas keamanan perumahan. Malah beberapa waktu yang lalu Bude mengajak anak-anak sekeliling perumahan untuk bagi-bagi nasi bungkus di pinggir jalan. Paling tidak seminggu sekali dia bagi-bagi nasi bungkus buat pengguna jalan dekat rumah.

Pelajaran yang kita petik dari kisah Bude, ketika semakin banyak rejeki yang kita dapat hendaknya tidak lupa untuk berbagi rejeki juga pada orang lain. Tanpa pandang bulu atau melihat status sosial. Karena didalam rejeki kita ada hak dari orang lain.

Selamat menjalankan ibadah puasa sahabat Kompasianers!