Politik Pilihan

Tiga Fakta Tragis Deklarasi Capres Pilihan Jokowi dan Prabowo

10 Agustus 2018   22:47 Diperbarui: 10 Agustus 2018   22:55 686 0 0
Tiga Fakta Tragis Deklarasi Capres Pilihan Jokowi dan Prabowo
dokpri

Halo, perkenalken, saya Mbah Pol --Mbahas Politik-. Kali ini simbah mau membahas tentang fakta "tragis" alias menyedihkan saat deklarasi cawapres. Kenapa kok Cuma cawapres? Ya karena capresnya kan sudah jelas, yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo, yang masih belum jelas kan cawapres beliau berdua. Langsung saja. Ada 3 fakta tragis saat deklarasi cawapres ini, mulai dari sebelum sampai prosesi pengumuman.

Pak Mahfud MD Batal Menjadi Cawapres

Pertama. Yang paling tragis adalah Pak Mahfud MD batal menjadi Cawapres pilihan Pak Jokowi. Menurut simbah, itu adalah fakta yang sangat menyedihkan. Lha wong Pak Mahfud MD sudah menyatakan bahwa Beliau adalah Cawapres yang dipilih oleh Pak Jokowi, dan disiarkan berbagai media besar. Selain itu, berbagai persiapan sesuai arahan, pun telah beliau lakukan. Ngapunten nggih Pak Mahfud.

Nah, Pak Mahfud begitu yakin bahwa beliau yang akan maju saat deklarasi cawapres. Namun faktanya, justru Pak KH Ma'ruf Amin yang dipilih Pak Jokowi sebagai cawapres. Simbah yakin, perubahan nama cawapres dari Pak Mahfud ke Pak Ma'ruf Amin bukan strategi mengelabuhi kubu Pak Prabowo. Dilihat dari ekspresi dan gaya bicara Pak Mahfud, tampaknya pernyataan tersebut jujur. 

Bukan drama. Lagipula, masak sih hanya karena "cawapres" yang belum tentu menang, Beliau "mengorbankan" nama besarnya hanya untuk drama strategi. Jadi simbah yakin ini memang perubahan yang mendadak.

Menurut Simbah, -sekali lagi ngapunten nggih Pak Mahfud-, menurut simbah, mestinya Pak Mahfud jangan menyampaikan kepada siapapun terkait informasi bahwa Pak Jokowi memilih beliau. Biarkan Pak Jokowi yang mengumumkan di depan publik, ya karena memang ada waktu untuk deklarasi. Lagipula, sepertinya memang Capres yang berhak mengumumkan siapa Cawapresnya.

Menurut Simbah, mestinya Pak Mahfud belajar dari peristiwa saat Pak Jokowi mengumumkan nama2 Menteri di awal pemerintahannya lalu. Dimana kabarnya, ada satu nama yang sudah dipilih Pak Jokowi dan sudah siap di Istana dengan dresscode putih, tetapi akhirnya tidak jadi mendapat jatah kursi menteri. Nah, mestinya Pak Mahfud ingat peristiwa itu. Politik sangat dinamis. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran untuk Kita semua.

Dalam hal ini, menurut simbah, Pak Mahfud bisa belajar dari Pak Sandiaga Uno. Yang tidak mengumumkan secara jelas bahwa dirinya akan menjadi Cawapres Prabowo. Meskipun Pak Sandiaga dan tokoh lain memberi sinyalemen tersebut, tetapi masih tanda tanya.   Sekali lagi, ngapunten nggih pak Mahfud.

Pak Ma'ruf Amin Cawapres Jokowi, Prabowo Menunda Jam Deklarasi

Dari media, Simbah mendapat berita bahwa Prabowo akan deklarasi Kamis, sebelum jam 12 siang. Kemudian berubah menjadi Jam 7 Malam. Namun, jam 7 malam belum ada kepastian. Prak Prabowo belum ada di lokasi. 

Kemudian menurut reporter di televisi yang simbah tonton, katanya deklarasi diundur jadi jam 10 malam. Namun ternyata, jam 10 malam juga masih nihil. Akhirnya sekitar pukul 11 malam baru mulai deklarasi. Yak, seperti yang telah diketahui, Pak Prabowo memilih Pak Sandiaga Uno sebagai Cawapres.

Nah, rencana mundur beberapa kali ini menimbulkan pertanyaan. Apakah Pak Prabowo mengubah strategi dan mengganti nama capres??? setelah Pak Jokowi mengagetkan publik dengan memilih KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Ternyata Pak Jokowi memilih ulama sebagai cawapresnya.

Yang menurut Simbah Tragis adalah hingga malam, Pak Prabowo masih membangun komunikasi dengan Pak SBY terkait nama Cawapres. Bahkan, simbah sempet mikir, jangan-jangan Pak Prabowo berusaha menghubungi UAS untuk menjadi Cawapres beliau, guna mengimbangi kekuatan Cawapres Pak Jokowi yang dari kalangan ulama. Ya bisa saja begitu to. Mungkin UAS gak ngangkat telponnya, terus Pak Prabowo terbang pake privet jet untuk menemui langsung UAS. Makanya deklarasi jadi molor,hehehe...

Lho jangan salah, meskipun UAS tidak punya partai tapi beliau didukung oleh PAN dan PKS. Lagipula, tak perlu meragukan penggemar dan pendukung UAS. Hal tersebut sudah pernah simbah bahas pada video kedua.

Partai Demokrat tidak mendampingi Pak Prabowo saat Deklarasi

Setelah isu "Jendral Kardus" yang ditujukan pada Pak Prabowo oleh Andi Arif (wakil sekjen P demokrat). Simbah tidak akan membahas lebih banyak terkait istilah "Jendral Kardus", entahlah sepertinya istilah tersebut rasanya kok tidak etis, kurang santun. Cukup dibahas oleh Pak Andi Arif saja.

Dugaan Demokrat menarik diri semakin menguat. Padahal, pada tanggal 30 Juli 2018, Pak SBY mendukung penuh pak Prabowo sebagai capres dan pak SBY tidak menuntut nama Cawapres, dan semua itu untuk kepentingan rakyat Indonesia. Tetapi faktanya, tampak Pak Prabowo cukup alot membangun komunikasi politik dengan Pak SBY. Yang pada akhirnya, tak nampak elit partai demokrat saat Pak Prabowo mengumumkan nama cawapres.

Terlebih, dalam sambutan sebelum menyebut nama Sandiaga Uno sebagai cawapres, Pak Prabowo berkata bahwa "pimpinan dari 3 partai politik, yaitu partai keadilan sejahtera, partai amanat nasional, dan partai gerakan indonesia raya telah memberi kepercayaan kepada saya...." Lah partai demokrat teng pundi nggih??? Yak, apakah Partai Demokrat tidak jadi masuk dalam koalisi yang mendukung capres Prabowo?. 

Pun begitu dengan Koalisi Indonesia Kerja yang mendukung Capres Jokowi, tak ada partai demokrat dalam barisan. Sepertinya, partai demokrat akan menjomblo, fokus untuk pemilihan legislatif. Mungkin ini jalan terbaik.

Namun, sepertinya Partai Demokrat tidak betah lama-lama menjomblo, cukup dalam hitungan jam. Jumat siang (10/8/2018), akhirnya Pak SBY menandatangani surat dukungan resmi untuk capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga Uno. Betapa rumitnya dukungan Partai Demokrat untuk Pak Prabowo dan Sandiaga Uno. Sikap tarik ulur Partai Demokrat untuk Pak Prabowo ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2