Mohon tunggu...
Mba Adhe Retno
Mba Adhe Retno Mohon Tunggu... Administrasi - Ibu Rumah Tangga

http://retnohartati.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Terima Kasih Kompasiana karena Ada Topik dan Lomba Seputar Kependudukan

12 Oktober 2014   21:10 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:20 116
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai negara yang memiliki penduduk lebih dari 200 jiwa manusia, Indonesia telah menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Sudah barang tentu dalam mengelola dan mengurus ratusan juta manusia tersebut dibutuhkan konsep dan strategi serta pengawasan yang sangat baik. Di era pemerintahan sekarang yang akan berakhir di penghujung tahun ini, Indonesia melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) telah melakukan berbagai usaha guna menghasilkan penduduk atau keluarga yang tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas tapi menghasilkan penduduk atau keluarga yang berkualitas dan sejahtera dengan berbagai perencanaan yang baik. Sesuai dengan visi BKKBN yakni “Penduduk Tumbuh Seimbang 2015″ dan dengan misi “Mewujudkan Pembangunan yang Berwawasan Kependudukan dan Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”, BKKBN mengajak Kompasianer untuk turut andil dalam mewujudkan visi dan misi tersebut dalam sebuah kegiatan Blog Competition dengan 3 pilihan tema, yaitu “Program Kependudukan dan Keluarga Berencana di Era Kepemimpinan Indonesia Raya”, “Bonus Demografi” dan “Genre (Generasi Berencana)”. Kompasianer dapat mengirimkan ulasan, opini dan reportase terkait salah satu tema tadi.

Menyenangkan dan berterimakasih, walau dalam, hati, ketika melihat "topik dan lomba"  seputar kependudukan, kerja sama "Kompasiana dan BKKBN. Masalah tersebut, terutama Program KB, telah menjadi perhatian Saya, dalam, rangka memperbaiki kualita manusia Indonesia. Sejak lama, 13 Januari 2013, ketika baru muncul di Kompasiana, saya sudah memperhatikan dan menulis tentang peran fungsi KB. Misalnya, Program KB Sebagai Salah Satu Cara Mengatasi Kekerasan  pada Anak; di Kompasiana

Program KB bisa memjadi salah satu cara untuk mengatasi kekerasan terhadap anak …… !? ya, tentu saja bisa. Tingginya populasi penduduk di Indonesia, yang tak seimbangan serta sebanding dengan laju kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi, serta upah hasil kerja (penghasilan individu), tentu mempengaruhi pemenuhan kebutuhan rumah tangga, termasuk pembiayaan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan demikian, aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan (sekalipun yang minimal) juga mengalami pengurangan dan hambatan; orang tua tak bisa melakukan penyediaan, karena tak ada biaya untuk hal-hal tersebut.

Mungkin, saja kebanyakan dari kita, masih berpikir banyak anak, banyak rejeki; atau dan tiap-tiap orang mempunyai rezeki masing, sehingga tak apa-apa jika mempunyai banyak anak. Oke, oke saja, jika berpedoman seperti itu, namun fakta dan realitas yang pada masa kini, agaknya pendapat di atas, tak sepenuhnya benar. Lihatlah, tak sedikit anak-anak terlantar, anak-anak nakal, yang datang dari keluarga-keluarga pra-sejahtera yang mempunyai banyak anak.

Dengan demikian, ikuti-mengikuti Program KB, hendaknya menjadi gaya hidup yang sangat, sangat, sangat patut ditularkan kepada semua orang. KB bukan membatasi laki-laki dan prrmpuan atau suami-isteri melakukan ML; KB bukan untuk melawan kehendak Tuhan agar manusia berketurunan; KB juga bukan dalam rangka pembatasan agar manusia tidak berketurunan; melainkan dalam rangka Keluarga (yang) Bertanggungjawab, ayah-ibu atau orang tua yang bertanggungjawab.  Bertanggungjawab itu, menyangkut makna sangat luas dan berhubungan dengan banyak aspek.

Oleh sebab tu, kita, terutama kaum perempuan (yang mempunyai prt perempuan atau pekerja rumah, misalnya tukang kebon, sopir, dan lain sebagainya) tentu saja, bisa membantu mengedukasi mereka, agar memahami Program KB dengan baik dan benar, dalam rangka masa depan anak-anak. KLIK

KB dalam Pergumulan Iman dan Akal Pikiran di http://ouropinion.info

Terlepas berbagai alasan itu, sudah semestinya kaum beriman lebih mempertimbangkan aspek maslahat dan madharat bagi umatnya, terutama kaum perempuannya. Apapun argumentasinya, konsekuensi digunakan atau tidaknya kontrasepsi akan ditanggung sepenuhnya oleh perempuan. Sebagai pihak yang berperan besar dalam mengandung, melahirkan dan membesarkan keturunan, perempuan berhak menentukan kapan dan bagaimana fungsi tersebut dijalankan. Terlebih di saat risiko kematian ibu dan bayi masih begitu menghantui, KB merupakan jalan untuk memenuhi hak manusia yang paling asasi: yaitu hak untuk hidup (hifdz an-nafs). KLIK

Revitalisasi Program Keluarga Berencana untuk Mencegah Ledakan Demografi di http://indonesiahariinidalamkata.com/

Banyak anak, banyak rezeki!? Itu pepatah lama, yang seharusnya sudah usang dan harus dilupakan. Memang benar, mempunyai atau memiliki anak, adalah suatu harapan pada mereka yang baru menikan atau menjadi suami-isteri. Harapan seperti itu, terjadi pada 99% pasangan yang barus saja menikah; satu persennya, memang sengaja tak mau memiliki anak.

Mempunyai anak atau keturunan, itu penting, namun bukan bermaka harus memiliki banyak anak; atau selama isteri masih bisa melahirkan, maka biarlah ia terus menerus, atau setiap tahun, melahirkan. Itu adalah suatu kesalahan. Tingkat kelahiran dan rentang waktu melahirkan yang dekat, bisa berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan bayi atau anak. Ada banyak contoh tentang kematian bayi serta ibu karena hal tersebut; itu bisa terjadi karena, misalnya kurang gizi, tanpa perawatan yang tepat, berbagai faktor biologis, kesehatan, bahkan ekonomi.

Selain hal di atas, ankah kelahiran yang tinggi, (dan angka usia hidup yang panjang), akan berdampak pada laju pertumbuhan dan pertambahan julah penduduk. Sebagi contoh, hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237 juta orang; tahun 2014, diperkirakan mencapai  250 juta orang, dengan laju pertumbuhan 1,4% per/tahun. Itu berarti, untuk tahun-tuhun ke depan, katakaanlah, 5-10 tahuun, Indonesia akan mengalami ledakan demografi; dan sekaligus bedampak pada ketidaktersediaan ataupun minimnya sarana yang menunjuang kebutuhan dasar hidup. KLIK

Dan masih ada lagi, serpihan tulisan pendek di Blog dan FB, namun pada dasarnya mengambil dari tiga tulisan di atas; semuanya dalam rangka mengajak ibu-ibu muda di Indonesia agar ikut KB Lalu, mengapa saya tak ikut lomba yang diadakan oleh Kompasiana!? Alasannya sederhana, saya bukan tipe ikut lomba. Namun, di balik itu, ketika membaca tulisan-tulisan seputar kependudukan di Kompasiana, saya bersyukur, karena pesan-pesan yang ada pada tiga tulisan di atas,  juga ada di dalamnya; artinya, mereka yang menulis di Kompasiana, biasa membaca tulisan-tulisan di atas, dan dijadikan refrensi. Ini cuma mungkin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun