Hijau

Biodiversity Conservationism vis a vis Conservationist

2 Juni 2017   01:00 Diperbarui: 2 Juni 2017   01:11 129 0 1

Wajah pelestarian biodiversitas (conservasionism) sesungguhnya sedang dibenturkan pada para pelaku pelestarian itu sendiri. Perkembangannya sudah dimulai sejak beberapa dekade lalu, dengan munculnya berbagai metode upaya pelestarian yang sesungguhnya tidak sedang merubah isme pelestarian itu sendiri. Sebut saja biogeograhy, umbrella species, corridor ecology, landscape conservation, hingga yang terbaru ecological politics. Meskipun sebenarnya tak banyak berubah, masih saja berputar-putar pada anthropocentric- biocentric hingga ecocentric sebagai isme. Karena pada dasarnya para konservasionis itu sendiri sebagai manusia, menikmati perubahan-perubahan lingkungan yang sedang terjadi, yang sesungguhnya mengarah pada penurunan kualitas lingkungan.

 Pada pembahasan etika lingkungan, manusia dianggap sebagai penanggung jawab utama keberlangsungan, ketersediaan, yang dirangkum dalam kelestarian lingkungan, jangka panjang sumber daya alam atau bumi. Namun, etika itu sendiri telah dikhianati oleh para pelakunya dengan tetap mengedepankan tuntutan ketersediaan infrastruktur fisik dan teknologi dalam keseharian, dimana bahan baku utamanya justru sumber daya alam atau lingkungan itu sendiri. Sebuah paradoks antara paham yang diyakininya, dengan kondisi yang diharapkan tersedia. Jadi seperti sedang membangun mimpi tapi tanpa pernah bangun dari tidur.

 Tak banyak yang mau mengakui bahwa upaya pelestarian sebagai representasi keyakinannya semata rutinitas harian. Layaknya pekerja kantor dari bangun tidur, berangkat, absen, mengerjakan tanggung jawab, makan siang, lalu pulang di sore hari, dan menerima gaji pada akhir bulan. Ia berjalan terus hari demi hari, bulan dan tahun. Hingga pada akhirnya ada saat ketika sedang duduk di pinggir alam yang telah berubah, kemudian membatin; apa sebenarnya yang telah saya lakukan selama ini.

 Rawa Lele, 02 Juni 2016