Mohon tunggu...
Maya Sari
Maya Sari Mohon Tunggu... banyak kekurangan namun selalu berupaya menjadi yang terbaik

seorang wanita tangguh

Selanjutnya

Tutup

Politik

Antara Corona, Nostalgia, dan Harapan Menjelang Kongres Demokrat

12 Maret 2020   20:31 Diperbarui: 12 Maret 2020   20:30 18 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antara Corona, Nostalgia, dan Harapan Menjelang Kongres Demokrat
Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono

Virus corona (Covid-19) menjadi topik hangat semenjak Januari akhir 2020. Virus yang berasal dari negeri tirai bambu ini mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia. Terutama, setelah dua pekan virus corona diumumkan, ratusan nyawa hilang dalam waktu dua pekan. 

Dilansir dari A Handbook of 2019-nCoV Pneumonia Control and Prevention, terdapat lima cara penularan virus corona dari manusia ke manusia lainnya, yaitu transmisi dari cairan (cairan tubuh yang keluar saat berbicara, batuk, dan bersin); transmisi udara; transmisi kontak (melalui kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir); transmisi dari hewan; dan kontak dekat dengan pasien.

Di tengah teror dan antisipasi negara-negara dunia lainnya terhadap virus corona, pemerintah Indonesia terkesan 'santai' menanggapinya. Berbagai kebijakan menggenjot perekonomian nasional di tengah wabah corona menjadi kritikan warganet. 

Salah satunya 'wacana' menggelontorkan budget Rp 72 Miliar untuk membayar buzzer/influencer mempromosikan pariwisata. Selain itu, tumpang tindih informasi dari 'pemerintah' atas wabah corona juga kerap membuat publik mengurut dada.

Akhirnya, pada awal Maret 2020, pemerintah Indonesia pun mengumumkan dua orang warga negara Indonesia positif corona. Pemerintah meminta masyarakat Indonesia untuk tetap tenang dan tidak panik. Tapi masyarakat menanggapi sebaliknya, langkah preventif, penanganan, dan informasi dari pemerintahlah yang justru menimbulkan kepanikan masyarakat. 

Hingga hari ini, dalam waktu singkat masyarakat Indonesia yang postif corona telah mencapai 34 orang dan 1 orang meninggal dunia. Terbaru, badan kesehatan dunia (WHO) telah mulai menghitung-hitung kemungkinan corona menjadi pandemi global.

Dengan segala dinamika corona di dunia internasional dan di dalam negeri, publik justru mengingat dan bernostalgia atas keberhasilan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi Presiden RI keenam dalam menangani virus flu burung. 

Dengan Perpres Nomor 7 Tahun 2006 tentang Komite Nasional Pengendalian Flu Burung, pemerintah kala itu sukses menempatkan diri 'hadir' di tengah keluh kesah rakyat. Selain itu, Perpres tersebut juga membuat komunikasi lintas lembaga menjadi efektif, sehingga mengurangi miskomunikasi yang dapat mengakibat rakyat menjadi resah.

Care dan responsibility  pemerintah seperti inilah yang diharapkan rakyat juga dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Menjelang Kongres Demokrat pada 14-16 Maret 2020, masyarakat tetap berharap, partai yang saat ini masih dipimpin SBY bisa tetap menjadi solusi bagi banyak permasalahan di negeri ini.

Sadar dengan kuasa kebijakan eksekutif dan legislatif yang tidak lagi di bawah kendali Demokrat, publik tetap berharap, perjuangan partai berlambang mercy ini tetap menjadi perjuangan dari segala harapan rakyat. 

Minimal untuk jangka pendek, kader-kader Demokrat di legislatif diharapkan tetap menjadi 'corong' suara rakyat dalam memberikan alarm kepada kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat Indonesia. Siapapun yang nantinya akan menjadi ketum hasil Kongres V Demokrat, semoga garis perjuangan Demokrat tetap memperjuangkan harapan rakyat dan selalu hadir memberi solusi bagi permasalahan rakyat.

VIDEO PILIHAN