Mohon tunggu...
Maya A. Pujiati
Maya A. Pujiati Mohon Tunggu...

Penulis yang masih perlu terus belajar.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Belajar dari Rontoknya Harga Tomat

7 Agustus 2015   13:49 Diperbarui: 7 Agustus 2015   13:49 453 3 3 Mohon Tunggu...

Setiap tahun, pada musim-musim tertentu, akan kita baca berita di koran atau televisi, di mana harga produk pertanian merosot tajam atau meroket bukan kepalang. Bagi konsumen, berita itu mungkin hanya berpengaruh terhadap jumlah pembelian. Kalau  biasanya beli sekilo, saat mahal jadi setengah kilo atau seperempatnya. Namun bagi para petani, fluktuasi harga itu bisa membuat mereka kaya mendadak ketika harga melambung atau  berutang banyak jika yang terjadi adalah sebaliknya. Dan isu yang masih baru dalam kemarau tahun ini adalah rontoknya harga tomat ke titik terendah, dan itu sangat menyedihkan jika kita melihatnya dari sudut pandang petani.[caption caption="Sumber foto: www.pixabay.com"][/caption]

Karena kecewa, ada petani yang membuang hasil panennya ke jalanan, dan membiarkan tomat-tomat terlindas kendaraan yang lewat. Di beberapa tempat lain, tomat-tomat dibiarkan masak dan berjatuhan tanpa dipanen. Karena jika dipanen, toh hasil penjualannya jauh lebih rendah daripada biaya pemanenan.

Saya tanya ke seorang penjual sayur yang punya akses ke petani, "Memangnya berapa harga tomat dari petani sekarang?"

Ia bilang, "Wah, Bu, cuma lima ratus perak." Sungguh memilukan. Saya bisa bayangkan, memang petani pantas kecewa. Jika pedagang di pasar masih bisa mendapat untung dari penjualan tomat, yang mereka dapat hanya kerugian. Jerih payah mereka dari mulai menyemai, menyapih, hingga menanam,  memupuk, mengusir hama, dan menyiangi rumput, hanya dihargai dengan nilai serendah itu. Bahkan untuk mengganti harga benihnya pun bisa jadi tak terpenuhi.

Perlindungan Harga

Pemerintah kini sedang menggenjot sektor pertanian agar kembali bangkit dan produktif. Namun jika penentuan harga masih sepenuhnya mengikuti hukum pasar akan membuat petani rentan merugi. Akibatnya, sektor pertanian akan tetap menjadi pilihan yang tidak menarik bagi kebanyakan orang, apatah lagi bagi anak-anak muda yang bawaannya serba ingin cepat dan dimanjakan dengan cara berpikir gadget. Tinggal klik, sesuatu telah jadi. Dengan penguatan fungsi BULOG, proteksi harga kini nampaknya memang sedang diupayakan untuk beberapa komoditi tertentu, seperti gabah, jagung, dan kedelai, tapi bagaimana dengan sayuran? Apakah termasuk di dalamnya? Semoga ke depannya iya.

 

Pemetaan Lahan Tanam Nasional

Jika harga pasar masih dijadikan acuan dan belum bisa diganti dengan proteksi pemerintah, maka alternatif lain dalam melindungi petani adalah membuat pemetaan areal tanam. Setiap komoditi dan daerah yang cocok untuk menanamnya dicatat, demikian juga luas tanah pertaniannya. Setiap tempat yang cocok ditanami beberapa komoditi yang sama, diberi jadwal tanam yang berbeda. Dengan begitu, setiap jenis tanaman berada dalam jumlah yang terkendali. 

Dengan kata lain, petani tidak dibiarkan menanam sayuran yang menurut mereka pasti bagus harganya, namun diberi "tugas" secara bergilir untuk menanam komoditi yang menjadi jadwalnya. Dengan cara ini, diharapkan harga menjadi relatif stabil, tidak membuat petani "bangkrut" dan putus asa dan konsumen pun tidak dibuat kaget dengan harga-harga yang tiba-tiba meroket.

Saya pernah baca buku, "Enterpreneur Organik", pemetaan ini ternyata juga dilakukan di daerah Ciwidey, oleh koperasi yang didirikan oleh K.H Fuad Affandi. Mungkinkan metode ini bisa diterapkan secara nasional atau minimalnya provinsi atau kabupaten?


Pengawetan & Enterpreneurship

Fokus petani tradisional pada umumnya hanya terbatas pada usaha untuk melipatgandakan hasil panen. Namun cara berpikir mereka tentang pemasaran dan memberikan nilai tambah terhadap hasil panen bisa jadi sangat minim.  Mayoritas petani penggarap, hanya mengandalkan bandar yang datang membeli, tak banyak yang mau berjuang menjual sendiri. Dan yang paling fatal, ketika harga menjadi sangat rendah, mereka merugi tiada ampun.

Jika petani memiliki pengetahuan tentang pengolahan alternatif bagi hasil pertaniannya, mungkin  jatuhnya harga tidak terlalu membuat mereka putus asa. Tomat, misalnya, bisa mereka olah menjadi saus tomat. Jika tanpa pengawet dan mereka mau menjualnya sendiri, saus tomat bisa tahan sampai seminggu, jika terpaksa menggunakan pengawet sintetis, mungkin bisa tahan sebulan. Di toko manisan di daerah Cianjur, malah bisa kita temukan manisan tomat. Itu berarti, tomat memang bisa diawetkan. Namun, tanpa jiwa enterpreneur, hal-hal semacam itu bisa jadi tidak akan terpikir atau bahkan terlintas. Petani kita, dengan segala kesederhanaan mereka, membutuhkan sedekah pengetahuan dari kita-kita yang punya pengetahuan. Siapkah kita berbagi?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x