Mohon tunggu...
Maximus Malaof
Maximus Malaof Mohon Tunggu... Terus Bertumbuh dan Berbuah Bagi Banyak Orang

Tuhan Turut Bekerja Dalam Segala Sesuatunya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menimba Keteladanan Hidup dari Sumur Kehidupan Bernama "Jakob Oetama"

12 September 2020   02:34 Diperbarui: 12 September 2020   02:28 87 4 0 Mohon Tunggu...

Kesaksian Hidup

Terdapat banyak kalangan yang memberikan kesan baik terhadap sosok Yakob Oetama begitu beliau dikabarkan bahwa telah dipanggil oleh Sang Penciptanya, pada hari Rabu, 09 September 2020 yang lalu. Tidak hanya Kompas Gramedia dan dunia pers tanah air yang berduka tetapi seluruh masyarakat bangsa ini juga turut berbelasungkawa atas peritiwa kehidupan yang dialami oleh pria yang pernah mengenyam pendidikan di Seminari Mertoyudan itu. Dari berbagai cerita dan kisah pengalaman kebersaman, terungkap bahwa pribadi seorang Yakob Oetama patut dan pantas untuk dijadikan sebagai contoh, teladan, dan inspirasi hidup.

Ditengah situasi "padang gurun" yang nampak dalam aneka persoalan yang dihadapi dari waktu ke waktu, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga bangsa ini, pastilah kita membutuhkan air sebagai penawar dahaga. Dalam hal ini,sosok seorang Yakob Oetama, bolehlah diibaratkan sebagai "sumur" yang menyediakan dan menawarkan kesejukkan, kesegaran, pelepasan bahkan kehidupan bagi siapapun yang ingin datang untuk menimba dan minum darinya. Secara pribadi, say terkesan dengan dua hal besar yang terkandung dalam diri beliau dan ingin menggali serta menjadikannya sebagai kekayaan bersama. 

Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

Harus diakui bahwa Kompas Gramedia dan segala sesuatu yang terkait di dalamnya, termasuk cukup populer, familiar, dan dikenal oleh masyarakat tanah air. Terdapat banyak karya bermutu yang dihasilkan oleh group ini, terutama dalam dunia tulis menulis seperti koran, majalah,  dan buku-buku yang dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan pendidikan bagi semua tingkatan masyarakat. Seorang Yakob Oetama berada dibalik semua yang terbaik itu.

Menyaksikan apa yang hasilkan oleh sosok yang pernah menjadi guru dan kemudian berpindah haluan menjadi seorang wartawan itu, seharusnya ia membusungkan dada, menjadi sombong, dan angkuh. Tetapi sifat itu tidak terdapat dalam diri seorang Yakob Oetama. Di atas segala pencapaiannya yang mendunia, ia tetaplah tampil sederhana dan rendah hati. 

Mereka yang pernah dan sampai sekarang bekerja di bawah payung Kompas Gramedia, mengalami serta merasakan secara nyata dan benar, kedua sifat dan sikap almarhum itu. Beliau selalu menyapa dengan akrab dan hangat serta menghargai setinggi mungkin semua orang yang ada di sekitarnya. Kebesaran dan kejayaan yang diraih bersama Kompas Gramedia, tidak dijadikan sebagai alat atau sarana untuk kemudian merampas dan menindas mereka yang ada dibawah kekuasaannya.

Lewat kesederhanaan dan kerendahan hati dalam diri lelaki yang pernah menerima bintang Mahaputera itu mau mengajarkan bahwa memiliki kekuasaan tidak harus ditunjukkan dengan sikap membungkam tetapi senantiasa memperhatikan, merangkul, mengayomi, dan memanusiakan semua orang. Yakob Oetama menyadari dengan jelas dan jernih bahwa dibalik semua yang melekat dalam dirinya, ia tetaplah sama seperti sesama manusia lain yang punya harkat, derajat, dan martabat yang sama. 

Kebijaksanaan (Budi yang Halus dan Santun)

Sebenarnya, Yakob Oetama memiliki senjata yang cukup ampuh dalam dirinya untuk menyerang dan mengalahkan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Dengan kecerdasan dan kecerdikannya, ia pasti sanggup mengalahkan setiap lawan bicaranya. Ia juga memiliki sarana yang handal seperti koran dan majalah untuk meluapkan ketidakpuasannya terhadap pribadi atau golongan tertentu bahkan bangsa ini. Akan tetapi, seorang Yakob Oetama tidak melakukan itu. Dalam berhadapan dengan berbagai peristiwa dan kejadian terutama yang dialami oleh bangsa ini, berbekal budinya yang tajam tapi halus, beliau mampu memilih dan memilah kata yang tepat dan santun, guna menyuarakan apa yang benar dan apa harus dilakukan oleh semua orang.

Lebih dari itu, pria yang lahir di Borobudur, Magelang pada tahun 1931 itu, tidak hanya berbicara, berkoar-koar atau mengkritik, tetapi apa yang dikatakannya selalu sertai dan diiringi dengan solusi didalamnya. Prinsip yang dipegang teguh oleh pendiri harian Kompas bersama P. K. Ojong itu adalah tidak ingin menciptakan kegaduhan atau persoalan bagi bangsa ini. Beliau selalu memandang positif bangsa ini, sebagaimana disaksikan oleh Yusuf Kalla, mantan wakil presiden itu. Inilah bentuk kebijaksanaan lain, dari salah seorang putera terbaik republik ini yang dikuburkan di Taman Makam pahlawan Kalibata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x