Maximilian Bima
Maximilian Bima

Hanya seorang yang suka berkreasi dalam imajiansinya sendiri

Selanjutnya

Tutup

Novel

Am I? My Past (Vica) (7)

15 Mei 2019   19:00 Diperbarui: 15 Mei 2019   19:02 10 2 0

Aku pun membentak "Tidak!!", kemudian aku beranjak dari ruang makan ke kamarku yang berada di lantai dua dan mengunci pintunya. Semua pun jadi terdiam akibat bentakan ku.

"Victoria, kembali kemari!!" Sahut ayah ku dari ruang keluarga

"Biarkanlah dia, dia butuh waktu untuk berpikir, bisakah ..." balas ibuku

"Membiarkannya? Aku tidak bisa membiarkan begitu"

"Tapi.."

"Diam!!"

Kemudian ayahku menggedor pintu kamarku, aku pun mengabaikannya dan mulai menangis dibalik lembutnya bantal.

Ini semua tak akan terjadi jika saja ayah setuju denganku, sudah ku bilang aku ingin masuk jurusan sastra Inggris di Inggris, tapi kenapa ia selalu aku ingin masuk di kedokteran?, bukan berarti karena ayah, dan kakak ku sukses di kedokteran, itu akan mengalir ke diriku. Aku sudah mengikuti segala kemauannya sejak dari kecil dahulu, menjadi unggulan di sekolah unggulan selama SD, SMP, dan bahkan SMA, masuk ke daftar 1000 murid terpintar di Indonesia, bisakah aku memilih pilihanku sendiri? Aku sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan itu semua, tapi kenapa aku tidak mendapatkan hadiah yang seharusnya kudapat sejak dulu, kebebasan untuk memilih kebebasan diriku.

"Victoria, buka pintunya!!" sahut ayahku lebih keras, setalah menunggu lima menit tanpa jawaban dari diriku ini, ia pun menyerah dan meniggalkan kamarku.

Setelah ayahku pergi, aku terlelap tidur, dibawa arus mimpi. Menurut penilitian dari beberapa sumber, mimpi yang berulang kali biasanya menandakan stress, hanya saja mimpi ku yang berulang ini terasa sangatlah nyata dan sudah berulang kali kurasakan selama satu minggu terakhir.

Di dalam mimpi ku terdapat diriku di sebuah kelas yang kosong dan bawa membawa setumpuk buku, aku pun keluar dari kelas tersebut dan berada di sebuah lorong yang sangatlah ramai. Aku pun mencoba untuk bertanya kepada orang-orang di sekitar ku, aku pun terputar-putar disana bagaikan orang tersesat, hingga seseorang mendorongku dan semua barang yang kubawa jatuh dan tercecer dilantai. Setelah itu aku selalu terbangun dengan rasa terkejut, seperti saat ini.

Aku menangis hingga mimpi membawaku jauh ke alam bawah sadar diriku, ku melihat jam dan sudah menunjukkan pukul dua pagi, aku pun memutuskan untuk turun dan meminum secangkir air mineral di dapur. Tapi sebelum sampai di dapur, aku mendengar ada percapakan berasal dari ruang makan.

"Kenapa kau bersikap seperti itu padanya, ia sudah dewasa dan ia berhak mengambil keputusannya, lagipula ia tidak pernah mengecawakan mu bukan?" ucap Ibu

"Aku tahu, tapi kalau ia masuk ke sana, masa depannya tidak jelas, kalau ia menjadi dokter seperti aku ataupun David, ia akan jauh lebih sukses." jawab ayah

"Tapi kamu tidak bisa memaksakan kehendak yang bukan milikmu, mungkin saja kau bisa senang. Tapi bagaimana nasib Victoria nanti? Belum tentu ia akan senang menjadi dokter, apalagi waktu yang diperlukannya."

"Tapi kalau ia masuk sastra seperti itu, berarti ia membuang-buang segala macam teori yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun!"

"Apakah kau menganggapnya sebagai putrimu? Atau kau menganggapnya hanya sebagai suruhan?"

"Apa maksudmu?"tanya ayahku dengan penuh kebingungan.

"Kalau ia memang putrimu, kau harus tahu yang terbaik baginya, teori yang dipelajari bertahun-tahun itu memang akan terbuang, tapi itu tidak terbuang sia-sia, sebab putri kita mempunyai sesuatu yang spesial dalam dirinya, yang membedakan dirinya dari orang lain. Yaitu kemampuannya untuk menjadi dirinya."

"Aku masih belum mengerti maksdumu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3