Mohon tunggu...
Arofiah Afifi
Arofiah Afifi Mohon Tunggu... Guru - Guru Paud.

Hobi membaca, menulis blog. Penulis artikel, sedang mendalami fiksi dan Sastra.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hakikat Istirahat

3 September 2022   04:07 Diperbarui: 3 September 2022   04:08 203 37 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hai sobat Kompasianer. Bertemu lagi dengan Arofiah Afifi, semoga tidak bosan ya dengan artikel saya yang santai untuk di baca.

Artikel saya kali ini akan berbicara tentang hakikat istirahat. Wah gerangan, apakaj yang mau dibahas ? 

Pada aktivitas solat ummat islam, tentu sudah faham dengan yang namnya i'tidal dan duduk diantara dua sujud. Di dalam ilmu  fiqih tentang shalat bahwa i'tidal dan duduk di antara dua sujud, disebut sebagai dua rukun pendek.

Sekali lagi "dua rukun pendek" Keduanya harus dilakukan dalam tempo yang pendek atau sedang. Tidak boleh terlalu lama. Apabila dua rukun tersebut sengaja dikerjakan terlalu lama, maka shalat kita batal!

Setiap gerakan solat, ternyata terkandung hikmah tersendiri, Hikmah dari rukun pendek di atas  adalah kedua rukun tersebut ada sebagai sarana beristirahat sejenak bagi orang yang shalat.  Di dalam aktivitas solat, Kita diberi kesempatan untuk perpanjang bacaan Al-Qur'an ketika berdiri, begitu pula berlama-lama saat rukuk dan sujud sepanjang yang kita mau. Oleh karena itu, selain ada rukun solat yang panjang, Allah menyiapkan rukun shalat yang  pendek di antara rukun-rukun shalat yang panjang tersebut, agar kita bisa beristirahat. 

Sungguh luarbiasa hikmah yang Allah simpan dalam shalat tersebut. Hidup ini laksana shalat, di mana kita tak bisa terus-menerus bergerak, melainkan harus ada waktu istirahat sejenak. Hidup butuh jeda. Ini point' pertama.

Namun perlu diingat, bahwa rukun shalat yang pendek adalah terlarang untuk dilakukan berlama-lama. Demikian halnya seperti istirahat dalam kehidupan. Cukuplah  kita beristirahat sejenak saja dari aktivitas sehari-hari. Misalkan kita istirahat dari menulis, cukup sekedar saja jangan keterusan istirahat, atau seperti orang yang mengambil cuti, cuti hanya beberapa hari, tidak keterusan. Karena jika yang namnya istirahat dilakukan terlalu lama, maka kita kan menjadi malas dan akan kembali memulai dari awal. Inilah point' kedua.

Apabila kita termasuk orang-orang yang senang bermalas-malasan, nyaman sebagai generasi rebahan, enjoy untuk bersantai dalam jangka waktu panjang, bisa dibilang kita baru mengerjakan shalat dari luarnya saja. Namun nilai-nilai yang terkandung dalam shalat belum lagi kita amalkan.

Wahai manusia jangan kelamaan istirahat dalam hidup. Bangunlah, bergeraklah. Lakukanlah usaha demi usaha agar kita meraih puncak cita-cita. Apakah duduk-duduk saja bisa mengantarkan kita ke puncak? Mungkin, tapi butuh waktu yang sangat lama dan resiko gagal yang sangat besar. Seperti dikatakan orang bijak,

_"Ada dua cara mencapai puncak pohon: Memanjat batangnya, atau duduk-duduk di atas benih sampai pohon itu tumbuh besar."_

Apapun profesi Anda, berlarilah sekencang-kencangnya setiap hari. Coba tengok bagaimana kehidupan alam liar di Afrika. Apabila fajar datang, rusa menyambut pagi sambil bertekad untuk berlari kencang. Karena jika ia tak melakukannya ia akan mati dimangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan