Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

"Klotekan", Tradisi Unik Membangunkan Orang Sahur yang Kini Mulai Langka

5 Juni 2018   16:40 Diperbarui: 5 Juni 2018   16:49 447 1 0
"Klotekan", Tradisi Unik Membangunkan Orang Sahur yang Kini Mulai Langka
Klotekan (musik patrol) kekinian (dok.pri)

Tiap daerah di Indonesia pasti punya tradisi yang berbeda-beda untuk membangunkan orang makan sahur di tengah malam. 

Bunyi peribahasa "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya" sepertinya sesuai untuk menggambarkan betapa adat istiadat (tradisi) suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya. 

Makan sahur ini sangat penting bagi mereka yang sedang menjalankan puasa di bulan suci Ramadan karena menjadi sumber energi yang membantu menguatkan tubuh seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa di keesokan harinya. 

Saking pentingnya sahur sebagai bagian ibadah puasa Ramadan sehingga kadang perlu keterlibatan orang lain dalam membangunkan orang di tengah atau penghujung malam.

Membangunkan Warga dengan Klotekan 

Klotekan mulai memudar (dok.pri)
Klotekan mulai memudar (dok.pri)
Kebetulan kami tinggal di pinggiran Kota Gresik yang berdekatan dengan Surabaya dan Sidoarjo. Malahan kalau ke Surabaya atau Sidoarjo jauh lebih dekat ketimbang ke pusat Kota Gresik sendiri.

Tradisi membangunkan makan sahur nyaris tak ada bedanya di ketiga kota itu. Saya kelahiran Surabaya, masa kecil sampai lulus kuliah masih di Surabaya. Setelah menikah sampai sekarang menetap di Gresik. Jadi yang namanya tradisi membangunkan warga untuk makan sahur relatif sama antara Kota Surabaya dan Gresik. 

Membangunkan warga dengan memainkan seperangkat alat musik ala kadarnya sambil berkeliling kampung dan perumahan masih menjadi tradisi yang berjalan sampai sekarang.

Waktu masih kecil, masih tinggal  bersama almarhum kedua orang tua di Surabaya, alat musik untuk acara klotekan membangunkan orang menggunakan peralatan seperti potongan bambu, cerigen, timba jebol, gendang (ketipung) dari bekas kaleng biskuit dan bas kotak.

Memainkan alat-alat musik ala kadarnya tadi disebut klotekan. Sebagian masyarakat menyebut klotekan keliling kampung atau perumahan dengan istilah musik patrol.

Entah sejak kapan tradisi ini mulai masuk Surabaya dan kota-kota di sekitarnya. Yang pasti sejak mbah-mbah kami dulu tradisi klotekan membangunkan orang untuk sahur sudah ada.

Membuat Alat Klotekan Sendiri 

Potongan bambu bagian tengahnya dilubangi sehingga ketika dipukul menghasilkan suara khas dan enak di telinga.

Gendang yang aslinya dibuat dari kayu dimana di kedua lubangnya dilapisi kulit kambing atau sapi yang sudah dikeringkan. Namun untuk musik patrol ala zaman kecil-kecilan saya dulu dan mungkin sampai sekarang masih dipertahankan, gendangnya sangat simpel yaitu menggunakan kertas semen rangkap dua atau tiga sebagai penutup salah satu lubang kaleng. 

Tidak perlu keduanya ditutup kertas semen. Jadinya mirip ketipung, di permukaan atasnya diolesi lem kanji. Terus dijemur di bawah terik matahari. Kadang dipanaskan di atas bara api unggun. 

Semua itu bertujuan agar permukaan ketipung dari kertas semen tadi mengeras dan bila ditabuh bersuara enak nyaring. Kalau kertas semen mengendor ya dijemur lagi.

Bas kotak dibuat dari kotak kayu dengan bagian tengah berlubang ya seperti gitar saja tapi senarnya menggunakan ban dalam sepeda atau motor yang dipotong memanjang seperti tali. Asalkan kalau dipetik tidak putus dan berbunyi layaknya bas saja, deng..deng..begitulah kira-kira bunyinya.

Jadilah seperangkat alat musik patrol sebagai tradisi klotekan keliling kampung untuk membantu membangunkan orang-orang yang akan sahur.

Seiring perkembangan zaman, tradisi membangunkan orang dengan musik patrol (klotekan) sampai sekarang masih tetap terpelihara. Namun mungkin semangatnya sudah tidak seperti dulu lagi. 

Dalam sebulan Ramadan paling cuma beberapa kali saja anak-anak itu berklotekan ria. Selanjutnya sudah tidak pernah terdengar lagi instrumen musik ala kadarnya itu. Mungkin mereka sudah malas, lebih memilih sahur sendiri di rumahnya masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2