Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Ngeri, Kalau NIK Saya Dipakai Registrasi Massal

1 Mei 2018   07:39 Diperbarui: 6 Mei 2018   11:05 3721 11 9
Ngeri, Kalau NIK Saya Dipakai Registrasi Massal
Dokumen Pribadi

Anjuran pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) agar semua pemilik kartu sim prabayar (prepaid simcard) wajib melakukan pendaftaran (registrasi) ternyata menuai pro dan kontra sebagian masyarakat Indonesia. 

Masyarakat punya persepsi yang bermacam-macam tentang ajakan KemenKominfo itu. Ada yang bilang bahwa tidak perlu memedulikan perintah itu karena hanya isapan jempol atau hoax. Sementara pendapat lain mengatakan kalau registrasi kartu prabayar dengan mengirimkan data pribadi berupa NIK dan nomer KK itu dimanfaatkan untuk acara Pilkada dan Pilpres mendatang. 

Bahkan ada yang mengkhawatirkan kalau-kalau data NIK dan KK untuk registrasi itu akan dibocorkan ke pihak asing dengan maksud dan tujuan tertentu. Sejatinya pemerintah menggulirkan program registrasi kartu prabayar justru punya maksud baik (1).

Saya sendiri tadinya juga acuh dengan program registrasi kartu prabayar yang dicanangkan pemerintah mulai tanggal 31 Oktober 2017 sampai 28 Februari 2018 dan diperpanjang sampai 30 April 2018 mendatang (2)(3). 

Namun setelah mendengar dan memperhatikan betapa pentingnya registrasi kartu prabayar itu akhirnya sayapun melakukan registrasi melalui SMS yakni dengan berkirim data NIK dan nomer KK ke nomer 4444.

Lagipula pemerintah juga sudah menjamin bahwa semua data kependudukan pada proses registrasi kartu prabayar ini akan aman. Hal itu pula yang menjadikan saya atau mungkin sebagian masyarakat Indonesia pengguna kartu prabayar lainnya tidak merasa gamang dengan program pemerintah ini (4).

Jauh-jauh hari sebelum batas waktu program registrasi berakhir yakni tanggal 28 Februari 2018, saya sudah berulang kali mendaftarkan kartu prabayar saya lewat SMS ke nomer 4444 namun selalu gagal dan muncul kalimat pemberitahuan (notifikasi) : "Maaf, NIK Anda sudah digunakanuntukregistrasi 3 nomor. Untuk registrasi nomor selanjutnya kunjungi Gerai PT. Bablas".

Karena tak ingin nomer HP saya yang sudah berusia 10 tahun bahkan lebih itu terblokir maka pada tanggal 5 Februari 2018, saya dengan ditemani sang istri mendatangi kantor provider simcard saya yakni PT. Bablas (bukan nama sebenarnya) yang berlokasi di kawasan Kayun Surabaya. 

Setelah mendapatkan nomer antrean, tak terlalu lama saya menunggu kemudian dipanggil dan dipersilahkan duduk. Saat itu petugas (customer service) yang membantu mengatasi masalah saya bernama Bu Pasrah (bukan nama sebenarnya). 

Mengingat proses registrasi melalui 4444 dengan mengirimkan NIK dan nomer KK tidak kunjung berhasil maka Bu Pasrah pun meminta saya menunjukkan data pribadi berupa KTP, KK dan nama ibu kandung saya untuk didata dan diproses lewat komputernya.

"Oke pak sudah saya bantu untuk proses  aktivasinya" terang Bu Pasrah sambil menyodorkan selembar form aplikasi sebagai bukti bahwa saya sudah melakukan registrasi manual di PT. Bablas.

Pulanglah kami dengan perasaan lega. Seperti biasanya kami menjalani keseharian tak lepas dari nomer HP yang sudah setia menemani kami selama lebih dari 10 tahun itu.

Selang beberapa hari setelah tanggal melapor itu, nomer HP saya masih sering menerima notifikasi dari Kominfo/4444 agar kartu prabayar saya segera didaftarkan. Namun tidak saya hiraukan karena saya merasa sudah mendatangi langsung PT. Bablas sebagai provider kartu pra bayar saya untuk melakukan registrasi.

Saya tak menyangka kalau HP bernomer 085******773 akhirnya terblokir juga. Rasa kecewa yang sangat mulai menggelayuti benak saya. Beberapa hari atau sekitar seminggu saya membiarkan nomer yang sudah 10 tahun bahkan lebih itu tetap terblokir sampai pada akhirnya saya harus rela meluangkan waktu untuk mendatangi kembali kantor PT. Bablas.

Tanggal 28 Maret 2018, saya kembali mendatangi kantor PT. Bablas guna melaporkan perihal nomer prabayar saya yang sudah tidak bisa digunakan untuk SMS atau nelpon itu.

"Lha..saya ini sudah capek-capek lapor ke sini kok HPnya masih keblokir sih mbak" keluh saya kepada Bu Wae (bukan nama sebenarnya), customer service yang membantu saya kala itu.

Perempuan muda berhijab dan berkaca mata itu meminta saya mengeluarkan data pribadi berupa E-KTP, KK dan selembar kertas yang menjadi bukti bahwa pernah dibantu Bu Pasrah untuk masalah yang sama.

Entah tombol apa yang ditekan yang pasti saya melihat Bu Wae dengan piawai memainkan jemari tangannya di atas papan keyboard komputernya sambil sesekali memandangi data pribadi saya.

"Ditunggu 1 X 24 jam ya Pak untuk proses rekoneksinya" ujar Bu Wae, sambil menyerahkan kembali data-data pribadi milik saya. 

Dalam hati saya merasa pesimis dengan upaya yang dilakukan oleh Bu Wae ini. Dia bahkan tidak menjelaskan secara gamblang apa alasan nomer saya tetap terblokir meski sebelumnya sudah melapor dan ditangani oleh Bu Pasrah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4