Mawalu Si Pembully
Mawalu Si Pembully

Banyak orang menulis bagaikan thriller psikologis dengan pola berpikir seperti orang epilepsi. Orang bebal ketika ditegur justru mengagulkan bebalnya itu dengan jumawa.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tanggapan Terhadap Ustad Pembual, Muhammad Yahya Waloni

15 Juli 2013   22:02 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:30 406 14 35

Malam ini aku dikirim temanku link-link di youtube terkait video khotbah-khotbah dan ceramah dari seseorang yang bernama Ustad Muhammad Yahya Waloni yang mengaku dirinya itu mantan Pendeta, mantan Rektor Sekolah Tinggi Teologia, dan mantan Rektor Universitas Kristen.

Dalam ceramah-ceramahnya itu, si Ustad Muhammad Yahya Waloni ini menyerang kekristenan secara membabi buta dan serampangan. Dia menyebut orang Kristen itu sesat, tolol, bebal, sinting, gila, mengong, dan kata-kata hujatan kasar lainnya yang sangat menyinggung perasaan dan bikin panas hati.

Kalau orang berbeda pandangan dalam beragama, itu wajar, akan tetapi kalau sudah menghujat, itu namanya kurangajar. Memangnya kenapa dengan orang Kristen? Biarlah aku ini sesat, biarlah aku ini tolol, bebal, sinting, gila, mengong, dan lain sebagainya, lalu apa urusanmu hai Ustad pembual? Apakah dengan ceramah-ceramahmu itu lalu aku akan berhenti menjadi orang Kristen? I'm proud to be Christian!

Ceramah-ceramahnya itu macam Hitler saja yang berpidato sebelum membantai orang Yahudi. Kalau pindah agama ya pindah saja, tak usah menjelek-jelekan agama asal. Kita ini orang indonesia mau hidup damai, mau aman, saling menghargai dan menghormati antar umat beragama. Kalau masih saja suka menjelek-jelekan agama, maka apalah artinya kebebasan dan toleransi beragama di negeri ini?

Mengakunya mantan Rektor, tapi herannya aku, orang ini sepertinya belum paham betul bahwa negara ini menjamin hak-hak setiap warga negara untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Ataukah memang dia sengaja ceramah begitu supaya bikin panas kuping orang Kristen? Ini jelas-jelas prilaku kurang ajar dari seorang pemimpin agama yang katanya berpendidikan tinggi itu.

Agama adalah domain pribadi dan pilihan tiap orang, bukan urusan anda. Celana dalam aku adalah urusan aku sendiri, bukan urusan orang lain. Negara Indonesia ini tak begitu-begitu amat, tak perlu menipu diri sendiri, tak usah menyiksa diri, karena prilaku demikian tak membawa manfaat apapun bagi siapapun, yang ada hanya caci maki.

Aku ini terlahir dari orang tua yang sudah punya agama yang seringkali mengajarkan bahwa kebebasan beragama itu adalah hak. Orang tuaku mengajarkan kalau mau memilih agama, silahkan ikut hati nurani, bukan terpaksa karena orangtuamu sudah menganut agama ini.

Ustad pembual ini sejatinya patut dipertanyakan kembali pemahamannya tentang apa itu agama. Sudahkah dia menjalankan agama dengan benar? Lalu motivasi orang ini maunya apa? Orang ini sama jahatnya dengan orang Komunis, karena otaknya itu tertutup rapat, akan tetapi mulutnya terbuka lebar.

Kita ini bukan anak kecil lagi. Sejatinya si Ustad pembual ini segera membersihkan pikirannya yang kotor tercemar pola berpikir yang mengharamkan cara menganut agama orang Kristen. Ustad ini boleh-boleh saja membenci ajaran Kekristenan, tapi tak perlu teriak-teriak macam tukang jual obat saja.

Aku ini sekalipun beragama Kristen, tapi aku suka Aa Gym, aku suka almarhum Kiai Seribu Umat, Zainuddin MZ. Setiap kali ada ceramah-ceramah mereka di TV, aku akan menontonnya sampai selesai dan tuntas, karena aku suka mendengarkan ceramah-ceramah mereka yang menyejukan hati tentang makna kehidupan di dunia yang fana ini yang akan punah juga suatu saat nanti.

Kalau ada pemimpin agama yang mencerahkan, maka agamanya menjadi baik bagi orang lain, membawa rahmat dan berkah, karena dirinya mengerti bahwa beragama adalah hak asasi individu umat manusia, bukan pemaksaan kehendak.

Seringkali cara berpikir yang sempit terhadap agama oleh segelintir manusia picik berhati srigala seperti si Ustad pembual itu memang sengaja diciptakan hanya untuk bikin rusuh. Trik dan bualan-bualan konyol macam begitu itu cuma laku untuk masyarakat yang kurang berpendidikan. Tapi tak berlaku bagi aku. Sorry to say.

Agama memang telah distempelkan sejak lahir, oleh karena itu setelah dewasa, beragamalah dengan cerdas!