Maulana M. Syuhada
Maulana M. Syuhada lainnya

Founder Tim Muhibah Angklung https://www.angklungmuhibah.id Buku: 40 Days in Europe (2007), Maryam Menggugat (2013), The Journey (2019)

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

[JTS#1] Kalau Benci Sudah Membuta (Bagian 1)

15 Maret 2019   03:14 Diperbarui: 15 Maret 2019   04:59 3828 3 4
[JTS#1] Kalau Benci Sudah Membuta (Bagian 1)
Pertemuan Jokowi dan Prabowo | Foto: Tahta Aidila/Republika

Sudah sebulan ini saya terdampar di rumah karena kaki masih patah akibat peristiwa tajong-lari (tendang lari). Ya, seorang pengendara NMax yang menyerobot jalur, tidak 'terima' ketika ditegur untuk tertib lalu-lintas dan mengantri. Ia malah mengajak duel. Saya tidak layani dan menghindar. Namun ternyata dia mengejar dan menendang motor saya. Saya dan motor terguling, dan terseret beberapa meter hingga akhirnya ligamen di lutut (ACL) putus. Kronologi rincinya ada di link ini [1]. 

Saya rencananya akan menjalani operasi rekonstruksi ACL (menyambung ligamen lutut yang putus), tapi ternyata ada masalah yang lebih serius. Hasil MRI menunjukkan ada fracture di tibial plateau (tulang kering bagian atas) memanjang dari lutut ke bawah. 

Jadi saya harus menunggu fracture tersebut healing dulu, baru bisa dilakukan operasi ACL. Alhamdulillah, kabar baiknya, nyerinya sudah berangsur hilang, jadi saya sudah bisa tidur dengan nyaman. Bahkan sekarang sudah bisa duduk dan menulis, menyelesaikan memoar yang memang jadi salah satu wish list tahun ini.

Saya sempat mem-posting peristiwa tajong lari ini di facebook dan line [2]. Ternyata yang senasib dengan saya cukup banyak. Orang yang ditegur karena tidak tertib berlalu-lintas bukannya malu, malah marah-marah, memaki-maki bahkan ada yang merusak kendaraan yang menegur. 

Beberapa ada yang celaka seperti saya, bahkan cacat seumur hidup. Motor-motor yang sudah jelas-jelas melawan arus, ketika hampir tersenggol dan diperingati, malah balik memaki-maki dengan kosa kata binatang dan mengajak berkelahi. Dunia memang sudah terbalik. Sekarang yang benar malah dikejar-kejar yang salah.

Beberapa ada yang bertanya, saya bakal kapok ga untuk menegur orang yang salah? Jawaban saya tidak pernah berubah alias tidak akan pernah kapok! Kalau saya kapok dan berhenti menegur, berarti yang salah menang, dan yang benar terkalahkan. Ini sangat berbahaya. Jika semua orang yang benar berhasil dibungkam oleh orang-orang yang berbuat salah, apa jadinya negeri ini? 

Kalau orang-orang yang tidak waras ini, yang dengan seenak perut melanggar peraturan, bebas merajai jalanan, memaki dan menganiaya kita-kita yang waras, yang patuh terhadap peraturan lalu-lintas, maka yang terjadi di negeri ini adalah hukum rimba. Yang paling punya otot, yang paling keras berteriak, akan bebas berkuasa, melanggar apapun yang mereka mau, mengangkangi hukum dengan vulgar.

 Anda bisa saja mematahkan kaki saya, tapi tidak akan pernah bisa mematahkan semangat saya untuk berbicara kebenaran.

Hukum rimba di jalanan ini sedikit banyak mewakili potret negara kita saat ini. Dan kevulgarannya semakin menjadi-jadi menjelang pilpres. Orang-orang yang tidak waras sudah makin bebas berseliweran, memutarbalikkan fakta, menyebarkan fitnah dan kabar bohong (hoax), yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, bukan hanya di jalanan, bukan hanya di media sosial, tapi sudah merangsek masuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan kita, bahkan ke yang paling dekat dengan kita, keluarga.

Sebelum Pilpres 2014, belum pernah produksi fitnah dan hoax se-dahsyat sekarang. 

Banyak diantara kita yang memilih diam, tidak mau terlibat percakapan politik, demi untuk menjaga tali silaturahmi. Tidak jarang tali pertemanan, persaudaraan, harus putus hanya karena Pilpres ini. Berapa banyak dari kita yang "unfriend" pertemanan FB atau "left" group WA karena masalah Pilpres ini. Sudah tak terhitung berapa teman yang bercerita bagaimana WA grup keluarga mereka terpecah karena beda pilihan.

Antara paman dengan keponakan, antara bibi dengan sepupu, antara mertua dengan menantu, antara adik dan kakak ipar, bahkan antara anak dengan orang tua. Itu di level keluarga yang notabene punya hubungan darah. Belum lagi di WA-WA grup lainnya, pertemanan SD, SMP, SMA, kuliah, pekerjaan, komunitas, dan seabreg grup-grup lainnya.

Kita tentu masih ingat peristiwa nenek Hindun yang jenazahnya tidak disholatkan di mushalla warga karena berbeda pilihan politik pada Pilkada DKI [3]. Tak heran kalau baru-baru ini kita mendengar, ada seorang driver ojek online yang tak sungkan-sungkan menurunkan penumpangnya karena berbeda pilihan capres [4]. Indonesia tidak pernah se-terbelah ini.

Sebagian teman sempat curhat kalau mereka punya dilemma. Kalau mereka menampakkan pilihan politiknya, maka itu akan mengganggu hubungan mereka, bukan hanya dengan teman, tapi dengan relasi-relasi yang terkait dengan pekerjaan. Begitu kita saling tahu pilihan politik kita, tidak jarang sebagian kita langsung merasa "ill-feeling" (bad feeling) satu sama lain, atau bahasa anak sekarang, "ilfil".

Sudah beberapa tahun ini, saya membina grup angklung yang anggotanya mayoritas remaja SMA dan mahasiswa tingkat awal (16 -- 19 tahun). Mereka ini punya orang tua. Saya sadar orang tua-orang tua mereka punya pilihan politik. 

Karenanya saya tidak pernah sekalipun membahas masalah politik ketika bertemu mereka. Jangankan di forum, bertemu pribadi pun saya tidak pernah bicara politik. Khawatir terjadi "ill-feel" jika berbeda pilihan. 

Saya tidak mau keharmonisan tim terganggu hanya karena Pilpres. Tim angklung punya tujuan mulia untuk melestarikan dan mempromosikan angklung ke dunia internasional. Akan sangat menyedihkan kalau itu rusak hanya gara-gara Pilpres. 

Namun, hari demi hari, hoaks semakin meraja lela, kata-kata kasar, saling caci lambat laun semakin membudaya di masyarakat kita. Orang-orang yang tadinya terlihat pendiam dan santun, sekarang menjadi penggunjing, penyinyir dan bahkan pencaci-maki. Kosa kata dungu, tolol, goblok semakin mudahnya keluar dari mulut kita. 

Orang-orang yang tadinya terlihat baik dan alim, sekarang menjadi penyebar hoaks dan fitnah. Bangsa yang santun ini bukan hanya berubah jadi bangsa yang pemarah, penyinyir dan pencaci-maki tapi juga menjadi bangsa pembohong. Kita sudah tidak peduli lagi dengan benar tidaknya suatu berita, asalkan itu memuaskan hawa nafsu kita, kita sebarkan. Penyebar berita bohong tak ubahnya adalah pembohong juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7