Mohon tunggu...
Carban Rahman
Carban Rahman Mohon Tunggu... -

Membantu orang lain adalah bentuk keimanan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menakar Maraknya Sekolah Kebidanan dan Ketersedian Lahan Pengabdian Bidan

31 Maret 2018   18:15 Diperbarui: 1 April 2018   20:58 1462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: akbidassyifa.wordpress.com

Profesi bidan sejatinya sangat menjanjikan dan membanggakan, baik untuk kesejahteraan ekonomi pribadi, ataupun bagi keselamatan Ibu dan bayi. Dengan menyelamtkan Ibu dan bayi ketika persalinan, itu merupakan prestasi yang membanggakan, karena yang dipertaruhkan adalah dua nyawa sekaligus. Dahulu profesi bidan tidak terlalu popular, bidan kalah popular dengan bidan tradisional (dukun bayi).

Masyarakat yang hendak melahirkan biasaya lebih memilih memanggil dukun bayi dari pada memanggil bidan, karena dukun bayi lebih mudah dipanggil dan biayanya cukup murah. Dibanding harus memanggil bidan yang biayanya cukup mahal. Selain itu juga profesi bidan di desa tidak banyak dan susah dicari.

Memasuki era milenial masyarakat semakin sadar dengan kesehatan reproduksi dan kandungan, sehingga jasa bidan tumbuh subur diminati oleh para ibu-ibu yang sedang mengandung, melahirkan, atau pasca melahirkan. Selain memiliki kemampuan membantu persalinan bidan juga memiliki pemahaman tentang kehamilan dan reproduksi pada wanita. Namun tidak menutup kemungkinan jasa dukun bayi juga masih sangat dibutuhkan. Malahan sekarang banyak bidan yang memilih dukun bayi untuk sekaligus menjadi asistenya ketimbang mencari asisten dari lulusan kebidanan.

Maraknya pembangunan rumah sakit, puskesmas, klinik dan tentunya meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan kandungan dan reproduksi membuat rumah sakit, puskesmas, dan klinik sering dikunjungi oleh ibu-ibu, baik yang sedang mengandung, melahirkan, atau pasca melahirkan. Namun minat yang tinggi ini tidak diimbangi dengan tenaga profesi bidan.

Melihat peluang demikian, kemudian munculah sekolah-sekolah kebidanan setara D3 atau S1 yang siap mencetak bidan-bidan profesional. Keinginan untuk mencetak bidan profesional tidak sejalan dengan standarisasi  yang telah ditentukan. Sekolah akademi kebidanan jumlahnya terus meningkat, tapi tidak diimbangi dengan lulusan yang bermutu. Hingga saat ini tercatat terdapat kurang lebih 800 sekolah akademi kebidanan di Indonesia.

Bahkan ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi pernah menyebut, maraknya sekolah kebidanan justru mengalami penurunan kualitas. Salah satu faktor yang membuat penurunan tersebut yaitu, akibat lemahnya pengawasan dari kemendikbud. Perlu dicatat akademi kebidanan sekarang tidak lagi berada dibawah Kementrian Kesehatan. Jika setiap sekolah akademi kebidanan masing-masing menampung 100 siswa maka per tahun sudah dipastikan ada 80 ribu siswa sekolah akademi kebidanan. Jumlah lulusan yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan praktik pengabdian.

Akibatnya, banyak lulusan sekolah akademi kebidanan, banting setir mengambil pekerjaan lain demi mensejahterakan perekonomian keluarga. Adapun yang terpaksa bekerja di Puskesmas demi melakukan pengabdian yang tulus kepada masyarakat namun miris gajinya tak sesuai dengan resiko yang diemban. Namun banyak pula bidan bertahan meskipun gajinya tak seberapa.

Hal demikian juga dirasakan Bidan Suci asal karawang, Jawa Barat. merasa tidak dihargai oleh pemerintah daerah  ia mencoba peruntungan mengabdi di klinik milik perusahaan Swasta daerah Muara Kaman Kota Samarinda. Bidan yang memiliki nama lengkap Suci Ayu Lestari ini menuturkan kepada tim Postketiga.com "Kalau di klinik tempat aku kerja Alhamdulillah lebih baik dari pada di daerah asalku. Di sini aku lebih dihargai karna ini klinik perusahaan. Aku milih jauh-jauh ke kebun sawit perusahaan orang luar karena di daerah aku sendiri profesi bidan tidak dihargai. Temen aku yang mengabdi di Jawa Barat ada yang Cuma digaji dengan BPJS aja, ada juga yang digaji Rp. 500.000,-/3 bulan".

Bidan suci juga menambahkan yang dialami temenya ini masih mending, jika menengok ke NTB banyak bidan yang diiming-imingi kerja di Turki sebagai tenaga kesehatan dengan gaji 4 juta/ bulan. Tapi ternyata dijadikan TKW ilegal. Ini adalah tabir buruk kisah para bidan di negeri Indonesia raya, yang susah untuk sejahtera. Padahal peran bidan sangat penting dalam menentukan program Jaminan Kesehatan Nasioanl (JKN). Sayangnya kesejahteraan bidan kini tergadaikan oleh janji-janji politik.

Dari pelosok Samarinda, bidan Suci menitip asa, kepada para kandidat calon Gubernur Provinsi Jawa Barat, dan Juga Bapak Presiden Jokowi, inilah rintihan seorang bidan yang berharap ada perbaikan terhadap kesejahteraan profesi bidan. "Kepada Bapak Presiden Jokowi, Para kandidat calon Gubernur Jawa Barat, aku merasa profesi bidan di Indonesia, khususnya Jawa Barat, minim penghargaan. Banyak dari kami yang bertugas di puskesmas Jawa Barat kerja tidak dibayar, padahal yang kami pertaruhkan dua nyawa sekaligus, kami sangat ikhlas mengabdi tapi tolong perhatikan kesejahteraan kami".

Bedahalnya dengan bidan Suci. Salah seorang bidan dari Indramayu Jawa barat yang bertugas disalah satu puskesmas di Indramayu menegaskan "Sekolah kebidanan kan makin banyak, dan masih banyak bidan-bidan yang tidak bekerja. Aku sih berharap pemerintah membuka pekerjaan yang luas khusus bagi para bidan. Agar dapat mengurangi  angka kematian Ibu dan bayi di Indonsia". Ujar bidan Marni.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun