Mohon tunggu...
Herman Wijaya
Herman Wijaya Mohon Tunggu...

Penulis Lepas.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Demokrat Bergabung Prabowo Bingung; PKS Digantung, PAN "Mutung"

8 Agustus 2018   12:41 Diperbarui: 8 Agustus 2018   16:27 0 0 1 Mohon Tunggu...

Pendaftaran Capres - Cawapres untuk Pemilu tahun 2019 bisa jadi akan diundur. KPU menyatakan, bila sampai tengat waktu yang ditetapkan -- tanggal 10  Agustus 2018 -- tidak ada pasangan yang mendaftar, tengat pendaftaran akan diundur selama dua minggu.

Sampai saat ini kedua Capres -- Joko Widodo maupun Prabowo Subianto -- belum mengumunkan nama Cawapres masing-masing. Keduanya seperti saling menunggu.

Kubu Jokowi sendiri mengatakan sudah memiliki nama Cawapres, tinggal diumumkan pada waktunya. Sementara dari kubu oposisi, masih terus melakukan penjajakan. Kubu oposisi yang mengusung Prabowo sebagai Capres, terlihat sibuk berunding, untuk menentukan siapa Cawapresnya.

Selama ini Prabowo didukung oleh 4 Partai Politik (Parpol), yakni Gerindra, PKS, PAN, dan terakhir Demokrat, di samping partai kecil PBB dan Partai Berkarya yang dinamakan Koalisi Keumatan. Dari keenam partai itu PKS sudah menyatakan dukungan sejak awal, bahkan mempopulerkan hastag #2019GantiPresiden, yang dimotori ole Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

PAN kemudian merapat, dan terakhir -- ini yang paling aktif merangsek -- Partai Demokrat. Dengan masuknya Demokrat, kekuatan kubu oposisi bertambah.

Banyaknya partai yang mendukung tidak serta merta membuat Prabowo happy. Karena semua partai pendukung dengan tegas mengatakan ingin kadernya menjadi pendamping Prabowo sebagai Cawapres.

PKS sejak awal sudah menyiapkan 9 orang kader terbaiknya; PAN mengajukan nama Ketua Umum Zulkifli Hasan; kemudian Demokrat menyodorkam Agus Harymurti Yudhoyono (AHY) yang terus ditenteng-tenteng oleh orangtuanya agar menjadi pemimpin di Indonesia.

Masuknya Demokrat di satu sisi memperkuat kubu oposisi. Tetapi di sisi lain berpotensi merusak soliditas yang sudah dibangun selama ini dengan PKS. Prabowo benar-benar dibuat bingung, dari partai mana yang akan dipilih jadi pendampingnya.

Semua memiliki plus-minus di matanya. PKS merupakan kawan lama yang sudah menyatakan dukungan sejak awal. Meski pun perolehan suaranya tidak terlalu signifikan -- sehingga tidak bisa berdiri sendiri untuk mengusung Capres / Cawapres, PKS merupakan "pejuang" yang cukup militan membelanya.

PAN juga tidak bisa dianggap remeh. PAN memiliki pendukung cukup besar. Partai ini dipimpin oleh seorang ketua yang kini duduk sebagai Ketua MPR. Popularitasnya tak diragukan. Ini juga partai yang sayang jika dibuang dari barisan pendukung.

Demokrat, meskipun baru datang belakangan, membawa amuisi yang memadai untuk "peperangan", baik logistik maupun suara. Demokrat memiliki 10,9 persen kursi di DPR dan dipilih oleh 12,8 juta suara dalam Pemilu 2014 lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2