Mohon tunggu...
Mathilda AMW Birowo
Mathilda AMW Birowo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, Konsultan PR

Lebih 30 tahun menggeluti bidang Corporate Communication di Kelompok Kompas Gramedia, Raja Garuda Mas Group dan Bank CIMB Niaga. Memiliki pengalaman khusus dalam menangani issue management serta strategi komunikasi terkait dengan akuisisi dan merger. Sarjana Komunikasi UI dan Sastra Belanda ini memperoleh Master Komunikasi dari London School of Public Relations serta sertifikasi Managing Information dari Cambridge University. Setelah purnakarya, menjadi Konsultan Komunikasi di KOMINFO. Saat ini mengembangkan Anyes Bestari Komunika (ABK), dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia; Universitas Multimedia Nusantara; Trainer di Gramedia Academy dan KOMINFO Learning Center serta fasilitator untuk persiapan Membangun Rumah Tangga KAJ dan Dewan Pengurus Pusat Wanita Katolik RI. Memperoleh penghargaan Indonesian Wonder Woman 2014 dari Universitas Indonesia atas pengembangan Lab Minibanking (FISIP UI) dan Boursegame (MM FEB UI) serta Australia Awards Indonesia 2018 aspek Interfaith Women Leaders Organization. Ia telah menulis 5 buku tentang komunikasi keluarga, kepemimpinan perempuan dan pengembangan diri terbitan Gramedia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Perempuan Bersatu (Bagian Empat)

28 Juli 2021   17:34 Diperbarui: 28 Juli 2021   18:00 166 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Perempuan Bersatu (Bagian Empat)
Doc. Pelita / The Servant Leaders (Dokpri)

ORGANISASI PEREMPUAN, KEKUATAN DAN TANTANGANNYA

Kepemimpinan bukan hanya kemampuan manajerial dan memengaruhi orang lain, tetapi keberanian untuk meluruskan yang tidak selaras,  mencerahkan dimana ada kekaburan. (Mathilda AMW Birowo)

Australia, negeri kangguru dengan multikultur-nya ini memiliki kedekatan dengan Indonesia dalam arti keragaman budaya, etnik dan kepercayaan. Dibandingkan dengan Australia, jumlah organisasi perempuan di Indonesia jauh lebih banyak. Dari data Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) saja, organisasi ini memiliki 97 anggota terdiri dari organisasi perempuan dengan berbagai latar belakang dan ragam kegiatannya. 

Dari segi peluang, saat ini di Indonesia terbuka banyak jalur untuk dapat berperan dalam kebijakan dan menyuarakan kepentingan perempuan secara independen. Sebagai contoh, menjadi anggota dalam Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Komisi Perlindungan Anak (KPA) atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Keikutsertaan terbuka bagi publik meski tetap melalui seleksi dan uji kepatutan.

Spirit Organisasi Berbasis Agama

Salah satu kekuatan pada organisasi perempuan khususnya yang berbasis agama mencakup struktur organisasi yang telah terbangun mulai dari tingkat akar rumput atau setingkat RT/RW hingga ke Dewan Pengurus Daerah serta Nasional. Organisasi perempuan sesuai sifat kewanitaannya, mengutamakan kerapihan dan keteraturan dalam tata kelola dan cenderung detail di setiap aspek.  Selain itu setiap organisasi telah memiliki nilai-nilai dasar yang telah dipahami oleh para pemimpin, pengurus maupun anggotanya. Nilai-nilai dasar ini menjadi begitu kuat karena didasari oleh nilai-nilai kepercayaan. 

Ditambah lagi budaya Indonesia yang mengedepankan musyawarah dan mufakat disertai tenggang rasa dalam setiap kebijakan yang diambil, termasuk ketika menghadapi krisis organisasi. Meski dalam prakteknya pendekatan dan prioritas yang diambil dapat saja berbeda, terutama karena unsur kepemimpinan sangat melekat pada bagaimana roda organisasi dijalankan. Seorang pemimpin dalam banyak hal menjadi penentu kesuksesan sebuah organisasi.

Sebagai contoh, Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Wanita Katolik RI (WKRI)  menjunjung  nilai-nilai Solidaritas dan Subsidiaritas (2S) dan Asih Asah Asuh (3A). Selain itu sejarah panjang menunjukkan WKRI telah mencatat lahirnya kader-kader penggerak sosial kemasyarakatan yang  memiliki peran penting dalam kancah sosial-politik-ekonomi dan budaya. Organisasi ini juga berperan dalam lahirnya Kowani. 

Sementara itu Meliani Endang Murtiningsih dari  Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kristen Sumba mengakui kekuatan mereka adalah pada unsur homogenitas yakni kebanyakan anggota adalah pendeta dan calon pendeta perempuan. Sedangkan perwakilan pengurus Bah' menyebutkan kekuatan organisasi terletak pada nilai-nilai organisasi yang dianut, yaitu bersifat inklusif dan kekeluargaan, mencakupi bagian anak, remaja, bapak, ibu, dan lanjut usia. 

Aspek inklusifitas juga tercermin pada visi misi organisasi. Srikandi Lintas Iman (Srili) Yogya, yang meletakkan dasar kekuatan mereka pada keberagaman pengurus dan anggota dimana mereka berasal dari berbagai latar belakang kepercayaan termasuk juga aliran kepercayaan yang merupakan kepercayaan awal yang dianut penduduk asli Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN