Mohon tunggu...
Qiu Mattane Lao
Qiu Mattane Lao Mohon Tunggu... Hanya seorang remaja yang memilih untuk menikmati hidupnya.

A queen. Considering her peculiar and odd personality as her personal charm

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

10 Hari Menjelajah Eropa Bagian 3

27 Februari 2016   20:07 Diperbarui: 27 Februari 2016   20:35 217 2 1 Mohon Tunggu...

Menjelajah Kota Paris

Pukul 7.00 pagi waktu setempat, kami tiba di Bandara Charles de Gaulle (baca : Syarl de Goul) yang berada di kota Paris. Dan saya pun menginjakkan kaki di tanah Eropa for the first time in forever. I feel free! Ciaobellah… (ala-ala Syahrini).

Nama Bandara Charles de Gaulle diambil dari nama seorang Jendral semasa Perang Dunia Kedua, yang kemudian menjadi Presiden Perancis (informasi seputar Perancis ini saya dapat dari ayah).

[caption caption="aku di depan Arc de Triomph"][/caption]Bandara ini tidak sebesar Changi, tidak lebih bagus dari Bandara Soekarno – Hatta. Bandara Charles de Gaulle lebih mirip dengan Bandara Polonia dengan ukuran lebih besar. Kusutnya juga seperti Polonia. Bedanya di Charles de Gaulle ada travelator dalam terowongan di bawah tanah. Lumayan bagus, tapi baunya aneh. Meskipun baunya tidak terlalu menusuk, tapi aromanya kecut dan tidak enak. Seperti bau tembok yang lembab dan berjamur. Baunya itu loh, bau-bau lumut gitu.

Keluar dari bandara saya langsung disambut oleh udara dingin yang segar. Karena saya enggak terbiasa dengan dinginnya udara, saya jadi teriak-teriak gak jelas. Saya gak nyangka, for the first time in forever akhirnya saya bisa sampai di Paris.
Saat ini di Perancis sedang musim semi. Menurut orang Perancis, udara sekarang ini hangat. Tapi hangatnya musim semi di Paris, suhunya 17 ⁰ Celcius. Lebih dingin dari musim depik yang paling dingin di Takengen. Karena itulah hampir semua orang yang berada di luar ruangan masih memakai mantel. Meskipun mantelnya tidak setebal mantel musim dingin. Cuma ada sedikit orang yang terlihat hanya memakai kaos atau baju lengan panjang.
Di parkiran bandara, saya dan rombongan tour sudah ditunggu bis yang akan membawa kami tur keliling Eropa. Sopirnya orang Italia bernama Pietro. Dia bisa berbahasa Inggris tapi tidak lancar. Bahasa Inggrisnya belepotan seperti anak kecil makan spagheti, campur aduk dengan bahasa Italia.

Untuk tujuan pertama, Pietro membawa kami ke Arc de Triomphe. Salah satu monumen penting di Paris berupa gapura yang berarti “Gerbang Kemenangan” ini, berdiri di tengah kawasan Place de I’Etoile dan di ujung barat kawasan Champ Elysees. Arc de Triomphe dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk merayakan kemenangan tentara Perancis yang dia pimpin dalam perang di Austria.

Aku di depan Arc de Triomphe
Dari Arc de Triomphe saya dan rombongan diajak ke Sungai Seine yang membelah kota Paris. Kami disuruh naik kapal untuk menyaksikan kota Paris dari dalam sungai. Sungai Seine yang banyak muncul di film-film yang menggambarkan suasana romantis ini, adalah sungai utama yang membelah kota Paris menjadi dua. Uh, inilah Paris kota para pasangan (the city of love).'
[caption caption="Aku di atas kapal Pont Alexandre III"]

[/caption]
Aku di atas kapal Pont Alexandre III
Di atas kapal Pont Alexandre III yang saya tumpangi, saya melewati menara Eiffel, Katedral Notre Dame, Louvre dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Kami juga lewat di bawah jembatan Pont des Art (dalam bahasa Perancis, Pont berarti Jembatan) yang menghubungkan antara Institut de France dan salah satu bagian dari Palais du Louvre di Paris. Jembatan ini pada pagarnya banyak terpasang gembok. Konon kalau ada pasangan yang meninggalkan gembok terkunci di pagar jembatan itu, mereka tidak akan pernah berpisah selamanya. Orang Perancis masih percaya tahyul seperti ini. Sebenernya saya pengen nyoba masang juga, tapi (gak punya pasangan)…..

[caption caption="Ketika Kapal Melewati Menara Eiffel"]

[/caption]
Waktu kapal melintas di dekat Menara Eiffel
Di kapal yang saya tumpangi, mayoritas penumpangnya siswa sekolah yang sedang ikut tur sekolah. Di Indonesia biasa disebut Outing. Kalau dilihat dari wajahnya, kebanyakan berwajah Eropa tapi ada juga yang berwajah khas India dan ada yang seperti orang Cina. Tapi mereka semua berbicara dalam bahasa Perancis. Gak ngerti lah ! Aku di tengah anak-anak sekolah Perancis di atas kapal Pont Alexandre III

Saya sendiri, meskipun ini adalah kali pertama berkunjung ke Perancis, tapi saya merasa seperti sudah terbiasa dengan negara ini. Soalnya ayah punya banyak teman orang Perancis. Beberapa dari mereka sering menginap di rumah kami, kalau kebetulan sedang berkunjung ke Indonesia.

Dua teman ayah yang saya kenal: Om Stephane dan Tante Agnes, tinggal di Paris. Waktu ke Indonesia, mereka pernah menginap di rumah. Tadinya saya mau ketemu sama mereka. Tapi karena Om Stephane kerja sampai malam dan rumahnya lumayan jauh dari hotel tempat saya menginap, kami tidak jadi ketemuan.

Di Bordeaux, ada Tante Audrey dan Om Jean-Marie. Di Lyon, ada teman ayah sesama anak Leuser Unsyiah, namanya om Rakay. Dia menikah dengan tante Liz yang memang orang Perancis. Waktu masih kecil (gak kecil banget sih), saya pernah bertemu dengan mereka berdua.

Karena sangat familiar dengan orang Perancis, Waktu kecil malah saya pikir orang Perancis itu bukan orang asing, tapi sama saja seperti orang Gayo, Jawa, Kalimantan, Sulawesi atau Papua.

Saya punya banyak buku, majalah dan CD lagu anak-anak berbahasa Perancis. Hadiah dari teman-teman ayah. Saya juga hapal banyak lagu Perancis seperti Aluette, Ouvrez la Cage aux Oiseaux, Une Souris Verte dan La mère Michèle. Saya juga mengerti beberapa kata dalam bahasa Perancis, meskipun tidak bisa bicara selancar ayah pastinya.

Selain sering bertemu teman-teman ayah yang menginap di rumah, waktu kecil saya juga sangat sering diajak orangtua ke « L’Alliance Française », pusat kebudayaan Perancis di Bali, dimana bunda juga bekerja di sana sebagai Chargée de mission culturelle atau Manajer Program Budaya. Saya tidak pernah absen menghadiri « fête de la musique », acara pesta musik yang diselenggarakan oleh orang Perancis tiap tahun di musim panas. Di acara itu, orang Perancis dari mana-mana datang berkumpul. Mereka semua berbicara dalam bahasa Perancis, termasuk ayah.

Karena itulah, ketika saya berada di tengah orang-orang yang semuanya berbicara dalam bahasa Perancis, saya sama sekali tidak merasa asing. Be aja (biasa aja dalam bahasa Bali).

VIDEO PILIHAN