Mohon tunggu...
DJOKO MOERNANTYO
DJOKO MOERNANTYO Mohon Tunggu...

Laki-laki biasa-biasa saja. Berujar lewat kata-kata, bersahabat lewat dialog. Menulis adalah energinya. Suka BurgerKill, DeadSquad, Didi Kempot, Chrisye & Iwan Fals. Semoga mencerahkan :)\r\n\r\n@personal blog:\r\n#airputihku.wordpress.com\r\n#baladaatmo.blogspot.com #Follow: Twitter: @matakucingku\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Seksualitas dan Musikalitas : Quo Vadis Musisi [Yang] Lesbian dan Gay

9 Desember 2012   13:11 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:57 634 1 2 Mohon Tunggu...

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” [Pramoedya Ananta Toer]




***

Seorang musisi muda dan sedang ngetop-ngetopnya sekarang, berkenalan dengan backing vocal dalam sebuah event. Perkenalan berlanjut dan akhirnya mengajak si backing vokal itu main ke apartemennya. Kemudian si musisi andal itu, menawarkan si backing vocal ini untuk menginap. Dan terjadilah ‘peristiwa’ itu.

JANGAN salah, saya sedang tidak berbicara soal perempuan dan laki-laki, tapi yang terjadi adalah laki dengan laki, alias gay atau homoseksual. Dan kisah di atas adalah ‘gunung es’ dari banyak kisah lainnya yang tak pernah terungkap ke permukaan.  Di jagat hiburan Indonesia, persoalan orientasi seksual masih jadi masalah yang tabu untuk dibahas. Jangan berharap ada pengakuan dari musisi atau lingkarannya tentang hal itu. Meski sebenarnya, cukup jelas dan banyak yang dalam kesehariannya mengakui pilihan orientasinya.

Sebenarnya, di negara barat pun, persoalan orientasi ini juga jadi masalah. Ketika Ricky Martin mengaku sebagai gay, perlu waktu beberapa tahun untuk akhirnya benar-benar mengakui, meski sebenarnya rumornya sudah beredar setahun sebelumnya. Tidak mudah juga seorang Elton John akhirnya juga mengaku orientasi seksualnya bahkan menikah [dengan laki-laki].

Di Indonesia, pengakuan-pengakuan bahwa mereka –musisi itu—adalah gay, lesbian atau orientasi lain yang dianggap menyimpang oleh masyarakat dan lingkungannya, akan membuat mereka dijauhi, dianggap ‘sampah’ masyarakat, dan kemudian penghakiman soal pertobatan. Padahal jujur saja, secara karya musikal, tidak ada korelasi dengan keindahan yang diciptakan.



Sedikit menoleh ke belakang. Ada semacam ambiguitas bersamaan dengan terjadinya reformasi homoseksual di Britania Raya dan Kerusuhan Stonewall untuk hak-hak gay di Amerika Serikat. Sejujurnya, soal keambiguan jender sempat menjadi mode untuk mengejutkan publik.  Pada tahun 1972, David Bowie menjadi bahan berita setelah menyatakan kepada media massa Britania Raya bahwa dirinya gay [meski kemudian menikah]. Walaupun glam rock mengingkari pemisahan jender tradisional, pemusik glam rock yang betul-betul homoseksual sangat jarang. Jobriath adalah pemusik glam rock pertama yang secara terbuka menyatakan dirinya gay, sementara Fredy Mercury awalnya berusaha merahasiakannya.

Fiksi sains adalah inti dari gaya glam rock. Penerbangan angkasa luar dan pertemuan dengan makhluk angkasa merupakan tema-tema yang lazim. Gaya busana glam rock meniru pakaian antariksawan yang serba berwarna perak, rambut berwarna-warni, moralitas jender ganda. Ini kalau bicara soal kondisi riil di negara barat, yang sesudah pengakuan beberapa musik ngetopnya, masyakarat disana malah bisa menerima [atau tidak peduli] karena benar-benar memuja karya-karyanya.

Musisi Dengan Orientasi Seksual Berbeda

Menurut American Acedemy of Pediatrics dalam Pediatrics pada tahun 2004, orientasi seksual tidak ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh gabungan pengaruh genetik, hormon, dan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori biologi telah dikemukakan para ahli. Tetapi, tetap menjadi kontroversi dan tidak pasti tentang asal-usul ragam orientasi seksual manusia, tidak ada bukti ilmiah bahwa kelainan pola asuh, pelecehan seksual, atau sejarah hidup buruk lainnya mempengaruhi orientasi seksual. Pengetahuan saat ini berpendapat bahwa orientasi seksual biasanya dibentuk selama usia dini

Dengan ambiguitas masyarakat Indonesia tentang perbedaan orientasi itu, banyak musisi yang sejatinya berada di “area berbeda” itu, tidak berani teranga-terangan menyatakan dirinya. Meski belakangan –khususnya Jakarta—keberanian untuk menampilkan jatidirinya semakin membuka.  Walaupun untuk kalangan public figure –lebih khusus musisi-- tidak banyak yang terang-terangan mengaku.

Dalam kacamata Makki Parikesit, basis Ungu, masyarakat Indonesia secara umum masih memilik sikap dualisme dengan hal-hal seperti itu.

Masyarakat kita ini kadang-kadang lucu. Menyukai musik dan lagunya, tapi kelak kalau tahu dia gay atau lesbi, tiba-tiba langsung dijauhi semua. Padahal kan sebenarnya tidak boleh seperti itu,” ucapnya .

Mengaku tidak terlalu banyak tahu siapa yang dianggap “menyimpang” itu, Makki tidak pernah jaga jarak dengan kawan atau musisi lain yang punya orientasi berbeda itu. “Orientasi seksual tidak pernah menjadi pertimbangan untuk berteman,” tegasnya sembari menyebut satu penyanyi muda terkenal yang menurutnya adalah gay.

Kerap muncul pertanyaan, apakah ada perbedaan kinerja dan kreativitas musisi yang lesbian atau gay dengan musisi yang dalam pandangan orang, normal-normal saja?

Dimas –sebut saja begitu—seorang pekerja di industri musik mengatakan,

Aku sih pernah merasakan bekerja di dunia yang dipenuhi dengan orang-orang yang dianggap berbeda itu, dan jujur saja banyak ide-ide aneh dan menarik yang bermunculan. Itu menarik banget, berbeda dengan mereka yang mengklaim dirinya tidak berbeda,” jelasnya.

Dimas bercerita, awalnya dirinya adalah normal seperti laki-laki lainnya. Sampai kemudian masuk dalam sebuah pekerjaan yang disukainya, tapi –dalam istilahnya adalah pusat—dari dunia gay dan cong. Sebenarnya lebih karena lingkungan dan saya akhirnya masuk dalam lingkungan itu. Ketika pindah kerja pun, lagi-lagi bertemu dengan komunitas itu,” ujarnya sembari mengatakan, di kantornya sekarang tidak ada pembedaan soal orientasi seksual.

Dimas yang laki-laki,  menyatakan dirinya bukan gay, “tapi suka laki-laki” –ooops, lalu apa namanya. “Jujur saja, kamu bisa tanya kepada siapa saja. Kantor yang ada cong-nya, pasti lebih berwarna,” imbuh cowok memilih pria lokal ketimbang orang luar sebagai pasangannya.

Hal hampir senada juga diungkapkan oleh seorang Dika ADA Band. Menurutnya, persoalan orientasi seksual tidak akan berpengaruh ke karya. Dalam kacamata basis lawas ini, orang juga harus fair melihat karya, terlepas dari perbedaan yang ada. “Tapi itu masih sulit di Indonesia,” jelasnya. Dika menambahkan, malah ada beberapa karya yang menurutnya punya sense of art lebih dibanding orang biasa. “Misalnya sebuah karya yang maskulin, terasa lebih manis kalau ada unsur feminis dalam aransemennya,” imbuhnya.

Lingkungan, Pembentuk Orientasi Berbeda?

Banyak orang yang merasakan ketertarikan kepada anggota jenis kelamin sama memiliki fase coming out dalam kehidupan mereka. Umumnya, coming out digambarkan dalam tiga fase.  Fase pertama adalah fase "mengenali diri", dimana muncul kesadaran bahwa ia terbuka untuk hubungan sesama jenis. Fase ini sering digambarkan sebagai coming out yang bersifat internal. Tahap kedua melibatkan keputusan untuk terbuka kepada orang lain, misalnya keluarga, teman, dan atau kolega.

Tahap ketiga mencakup hidup secara terbuka sebagai orang yang berbeda orientasi. Di Amerika Serikat saat ini, orang sering come out di usia sekolah menengah atas atau kuliah. Pada usia ini, mereka mungkin tidak percaya atau meminta bantuan dari orang lain, terutama ketika orientasi mereka tidak diterima di masyarakat. Terkadang keluarga mereka sendiri bahkan tidak diberitahu.

Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun [2006], "Perkembangan identitas seksual lesbian, gay, atau biseksual adalah suatu proses yang kompleks dan seringkali sulit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya [misalnya, minoritas etnis dan ras], sebagian besar individu ini tidak dibesarkan dalam komunitas serupa dimana mereka dapat belajar tentang identitasnya dan mematangkan dan mendukung identitas itu. Sebaliknya, individu ini sering dibesarkan dalam komunitas yang abai atau secara terbuka memusuhi homoseksualitas dan lesbian."

Sementara yang disebut outing adalah upaya membongkar orientasi seksual seorang yang tertutup. Politisi terkenal, selebriti, kalangan dinas militer, dan anggota ulama telah "dibongkar" dengan motif mulai dari benci hingga ke alasan politik atau keyakinan moral. Banyak yang berkomentar menentang keras praktik ini, sementara beberapa di antaranya mendorong tokoh masyarakat yang "dibongkar" untuk menggunakan pengaruh mereka menyakiti gay atau lesbian lainnya.

Dengan semua ketakutan itu, saya bisa mengerti kalau kawan-kawan musisi yang gay atau lesbian itu, tidak punya keberanian untuk mengungkapkan jatidirinya,” imbuh Makki, yang tak pernah jaga jarak dengan kawan-kawan musisi yang diketahuinya gay atau lesbian.

Apa Kabar Musisi Gay dan Lesbian di Indonesia?

Kalau Kita buka di internet, memang banyak nama yang disebut-sebut sebagai selebritis atau artis yang gay atau lesbian. Tentu saja hal itu jadi rancu karena berdasarkan rumor semata dan tidak jelas sumbernya. Tapi benarkah ada musisi Indonesia yang begitu ya?

Menelusurinya jelas bukan perkara mudah. Perlu akses dan orang-orang tertentu yang mau blak-blakan dan terbuka dengan kondisi riilnya.  Beruntunglah sayamenemukan sosok yang berada di lingkungan artis itu, pernah menjadi “pacar” beberapa musisi ngetop dan mau terbuka dengan kisah-kisahnya.

Saya mau saja dibuka dan ditulis komplit, tapi saya kan harus memikirkan kawan-kawan yang mungkin belum siap. Tapi fenomena itu memang ada dan banyak kok,” terang Hendrik [nama samara].

Pria berbadan kekar ini mengaku sempat “jadian” dengan musisi  terkenal yang sampai sekarang masih eksis dan sering tampil di televisi.

Di lingkungan kita, orangnya itu-itu saja, jadi siapa pacaran dengan siapa biasanya akan cepet tersebar. Paling tidak diantara kita sendiri,” ujar Hendrik, yang sempat lama jadi pengajar vokal di beberapa sekolah musik ternama di Indonesia seperti Purwa Caraka, dan Bertha.

Hendri sendiri mengaku sempat lama jalan dengan musisi yang ngetop itu. “Dia orangnya baik dan sampai sekarang meskipun kita sudah putus tapi kalau ketemu masih negor. Biasanya di dunia sepeti ini, kalau sudah putus bisa diam-diaman,” imbuh jebolan sekolah vocal Pranadjaya yang gaya bicaranya lembut ini.

Siapa dia? Hendrik menyebut nama, meski wanti-wanti inisialnya saja yang ditulis, tapi cirinya mudah ditebak sebenarnya. “Dia masih aktif dan sering tampil sebagai band pengiring di banyak acara televisi kok,” celetuk Hendrik yang mengaku sempat ‘pacaran’ sekitar 5 bulan dengan musisi tersebut.  Hendrik kemudian membeber nama-nama besar musisi Indonesia yang secara faktual adalah gay atau lesbian.

Menurut Hendrik, gay atau lesbian itu sebenarnya makhluk yang diberi kelebih lain oleh pencipta. “Mereka biasanya punya intuisi yang lebih tajam dibanding para pengaku normal,” imbuhnya.

Oh ya, jujur saja, penulis pun sempat terkejut melihat nama-nama yang disodorkan oleh Hendrik tersebut.  Bagaimana tidak, yang disebut oleh Hendrik adalah sosok yang selama ini nyaris bersih, meski ada beberapa yang sebenarnya sudah banyak beredar di kalangan terbatas.  Siapa saja mereka yang disebut oleh Hendrik?

·GY – Mungkin tidak terlalu terkenal di kalangan musisi nasional, cowok yang kerap menjadi backing vocal perhelatan-perhelaan besar musik ini, pernah dua tahun ‘pacaran’ dengan Hendrik.

·TNS – Lagu-lagu ciptaannya banyak yang jadi hits. Pria ini tidak pernah tampil atau jarang muncul di publik. Tapi banyak penyanyi yang meminta lagunya.

·AS – Dia termasuk nama besar di musik Indonesia. Sebelum menikah dan punya anak, dia adalah pemuja laki-laki. Sekarang –dalam istilah Hendrik—sudah ‘berobat jalan’ dan sembuh.

·BS – Sempat dikenal publik, meski tidak terlalu lama. Di kalangan gay, nama pria yang beberapa kali jadi presenter ini termasuk laris manis.

·FP – Imej religiusnya, membuat saya benar-benar terhenyak dan bengong. Kalau benar-benar tidak berbicara dengan mantan ‘pacarnya’ – tentu saja laki-laki, saya tidak akan pernah percaya.

·FBN – Termasuk penyanyi baru yang karirnya sedang menanjak pelan-pelan. Hendrik mengatakan, ‘brondong’ ini banyak jadi incaran gay lainnya.

·IM – Perempuan ini sebenarnya penyanyi lama dan menikah. Tapi siapa nyana, pertemuan-pertemuan di kalangan lesbian adalan santapannya.

·AO – Nama ini karirnya sedang membubung tinggi. Maklum, selain karena talenta bagus, pria ini juga lulusan sekolah musik luar yang cukup bergengsi.

Ada beberapa nama besar lainnya yang disebut-sebut, tapi banyak juga yang sudah santer bereda di masyarakat. Malah ada yang sempat pacaran sesama artis yang gay atau lesbian.

Hubungan Karya dan Orientasi Seksualnya

Musisi gay dan lesbian menanggung risiko bunuh diri, penyalahgunaan obat, masalah sekolah, dan isolasi yang lebih besar karena "lingkungan yang tidak bersahabat dan penuh cela, adanya pelecehan verbal dan fisik, penolakan dan isolasi dari keluarga dan teman seprofesi".

Tapi sejujurnya, beberapa musisi yang dihubungi, tidak pernah mempermasalahkan karya-karya mereka. Malah beberapa diantaranya memuji punya taste yang unik dan menarik, lantaran ada sentuhan feminism dalam ciptaanya. “Itu yang kita tidak punya loh,” ujar Makki ‘Ungu’.

Menjadi gay dan lesbian  di Indonesia bukanlah pilihan mudah; dijauhi keluarga, dicemooh teman seprofesi, dianggap lingkungan sebagai tidak bermoral,  atau di janjikan sebagai penghuni neraka jahanam oleh beberapa kalangan yang merasa yakin surga hanya milik mereka. Tak heran, banyak yang masih menutup diri dengan kondisi nyatanya, termasuk di kalangan musisi.

Penerimaan orang beda-beda ya. Ada yang langsung jaga jarak, tapi ada yang cuek saja karena yang penting adalah karya,” kata Ully Dalimunthe, drummer dgank dan produser beberapa band.

Sementara dalam kacamata Dika ADA Band, industri musik dan hiburan di Indonesia, sebenarnya juga tidak menolak. “Secara tidak langsung, industri music dan hiburan di Indonesia dan banyakmenggunakan jasa mereka. Kemudian mengakomodir penampilan mereka, meski dengan balutan yang macam-macam supaya tidak kentara,” paparnya.

Gay, lesbian, normal, atau tidak punya orientasi sama sekali, adalah pilihan. Kita tidak boleh menjadi “hakim” atas pilihan-plilihan itu. Bermusik adalah karya. Siapapun penciptanya, karya itu patut diapresiasi dan mendapat penghargaan yang setara. Dan musik tidak pernah menolak perbedaan apapun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x