Mohon tunggu...
Mas Teddy
Mas Teddy Mohon Tunggu... Buruh - Be Who You Are

- semakin banyak kamu belajar akan semakin sadarlah betapa sedikitnya yang kamu ketahui. - melatih kesabaran dengan main game jigsaw puzzle. - admin blog https://umarkayam.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kala Cinta Menggoda di Waktu Senja v.1

8 Desember 2016   20:06 Diperbarui: 8 Desember 2016   20:20 161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(gambar dari interkini.com)

Ratih pulang dengan perasaan campur aduk.

Di rumah, tampak raut muka ibumu masih kelihatan mendung, tidak cerah seperti sebelumnya. Ratih pun diam saja, menunggu saat yang tepat untuk ngobrol sama ibunya.

Suatu malam, selesai membantu Ika mengerjakan PR-nya,

“Bu, kenapa ibu sekarang sering tampak murung?”

“Gak pa-pa. Ibu baik-baik aja, kok.”

“Ratih perhatikan ibu sekarang gak pernah antar Ika ke rumah Pak Arip lagi? Kenapa, bu?”

“Gak pa-pa. Ibu capek aja.”

“Bukan lagi marahan sama Pak Arip?”

Ditatapnya Ratih dengan rasa penuh tanda tanya.

“Kenapa kamu bisa bilang begitu?”

“Ika yang bilang begitu sama Ratih.”

“Aahh …. kalian mau tau aja urusan orang tua.”

“Ibu gak cerita pun Ratih dah tau kok ceritanya, kenapa ibu sekarang berubah.”

“Apa yang kamu tau? Dari mana kamu tau?”

“Pak Arip udah cerita panjang lebar tentang hubungannya sama ibu.”

Reni terdiam. Menghela nafas sebentar.

“Aaahh … apalagi yang diceritakannya padamu?”

“Semuanya. Pak Arip bermaksud baik kok, bu.”

“Baik apanya?”

“Lho, ngajak nikah itu ‘kan baik to, bu?”

“Udah pada kakek nenek, kok mau nikah. Apa kata orang?!”

“Kenapa sih, ibu menghindar terus? Dari sejak SMA sampe sekarang kok masih aja menghindar?”

“Dia gak cocok buat ibu.”

“Gak cocoknya di mana?”

“Dulu waktu SMA ibumu ini cewek gaul, suka nge-gang, ikut band, suka nongkrongin cowok main basket. Lha, Arip … lebih suka ke perpustakaan dari pada ke lapangan basket. Lebih suka baca buku dari pada nge-band. Kalau ibu mau sama Arip, apa kata temen-temen gang ibu?””

“Kalau sekarang?”

“Kasihan dia kalo jadi sama ibu. Kamu ‘kan tahu sendiri ibumu ini urakan dan sumbu pendek.”

“Mungkin justru itu yang menarik bagi Pak Arip. Pak Arip merasa tertantang untuk menundukkan ibu.”

“Aaahhh …… sok tau, kamu!”

“Ibu, dulu Ratih mendukung sepenuhnya keputusan ibu untuk berpisah dengan bapak, karena Ratih juga menilai bapak gak bisa dipertahankan lagi. Tapi, sekarang Ratih menyayangkan keputusan ibu jika menolak ajakan Pak Arip.”

Reni terdiam. Mungkin terbayang kembali perpisahan dengan mantan suaminya.

“Kenapa kamu begitu menggebu minta ibu menerima ajakan Arip? Dah gak mau nampung ibu lagi, ya?”

“Bukan begitu, Bu. Kenapa ibu jadi sensi begitu?”

“Habis, kamu juga …”

“Ibu, Ratih liat Pak Arip itu orang baik, sabar, telaten dan setia. Kalo Ratih yang jadi ibu mungkin udah klêpêk-klêpêk, ditungguin dari SMA, gak mau pindah ke lain hati, yang ada hanya Ratih seorang. Woouuwwww …. so sweet!

“Ibu udah tau itu. Kamu yakin ibu gak bakalan tersisihkan oleh buku-bukunya yang menggunung itu?”

“Yang jelas, sekarang Ibu lebih menarik perhatian Pak Arip dari pada buku.”

“Dari mana kamu bisa begitu yakin?”

“Pak Arip pernah bilang sama Ratih, kalo ngajak ibu menikah bukan karena urusan biologis lagi, tapi urusan rasa, rasa tenang dan sayang.”

Reni tampak termenung.

“Dan Pak Arip juga bilang jika berhasil ngajak ibu menikah, dia akan menyerahkan kepengurusan taman bacaannya ke orang lain. Dan Ratih bersedia mengurusnya.”

“Ooohh …. begitu. Jadi, kamu udah bersengkongkol dengan Arip? Dah gak sayang sama ibu lagi?”

“Bukan begitu, bu. Ini demi kebaikan ibu juga.”

“Aahh …. gayamu, demi ibu, demi ibu! Udah, pergi sana! Kêlonan sama suamimu sana!”

“Iiiihhhh ….. ibu gak asyik, deh!”

Ratih pun pergi meninggalkan ibunya. Masuk kamar tidur.

Keesokan harinya, di meja makan.

“Ratih, tolong kamu antar surat ini ke Arip.”

“Ibu terima ajakan Pak Arip?”

“Ntar, kamu liat aja reaksinya ketika baca surat ini.”

Sepulang menjemput Ika, Ratih pun mampir ke rumah Pak Arif, mengantar surat ibunya. Dengan perasaan was-was Ratih perhatikan raut muka Pak Arif. Begitu selesai Pak Arif membaca surat itu, tampak sudut bibirnya sedikit tersungging, mirip senyum Monalisa. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Pak Arif. Tangannya tampak menulis sesuatu di atas kertas.

“Ratih, kamu sudah Bapak anggap sebagai anak sendiri. Tolong sampekan surat ini ke ibumu!”

Tidak tampak sedkikit pun raut kegembiraan di wajah Pak Arif. Sampai di rumah, surat itu pun segera diserahkan pada ibunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun