Mohon tunggu...
Mas Teddy
Mas Teddy Mohon Tunggu... Be Who You Are

- semakin banyak kamu belajar akan semakin sadarlah betapa sedikitnya yang kamu ketahui. - melatih kesabaran dengan main game jigsaw puzzle. - admin blog https://umarkayam.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Media

TV Kita Bukan Untuk Mereka

16 Juni 2015   21:57 Diperbarui: 17 Juni 2015   05:58 67 0 0 Mohon Tunggu...

Suatu sore ibu-ibu tetangga di komplek sedang ngobrol di depan rumah saya. Di antara mereka ada Mbak Ana, suaminya bekerja di perusahaan penyalur obat-obat pertanian, biji dan benih produk pertanian. Ada juga Mbak Lisa, suaminya seorang manajer di perusahaan minuman ringan yang dikemas dalam bentuk sachetan.

Saya dengar, Mbak Ana bertanya dengan polosnya,

“Mbak Lisa, itu minuman yang dijual suaminya, harganya ‘kan murah, cuma seribuan. Tapi kok bisa ngiklan di tipi ? Dari mana untungnya ?”

“Lha, mana saya tahu. Emang kenapa, Mbak ?”

“Lha, itu obat-obat yang dijual suami saya harganya mahal-mahal tapi nggak pernah saya lihat iklannya di tipi.”

Obrolan ibu-ibu itu membuat saya tersenyum sekaligus merenung. Tersenyum karena membayangkan logika yang dipakai oleh Mbak Ana. Merenung karena baru saya sadari memang selama ini jarang sekali saya lihat iklan dari produk-produk pertanian, baik berupa obat pembasmi serangga, hama atau tikus, biji atau benih padi atau jagung di stasiun TV nasional kita. Iklan-iklan produk pertanian itu tergusur oleh iklan minuman ringan dan rokok. Iklan produk-produk pertanian baru saya jumpai ketika saya melakukan perjalanan ke lokasi pekerjaan saya, di jalur lintas selatan Pulau Sumbawa. Di sana banyak saya jumpai iklan produk-produk pertanian dalam bentuk baliho, spanduk dan selebaran yang ditempel di tembok atau tiang listrik. Nama-nama produk pertanian yang asing bagi saya karena tidak pernah saya lihat iklannya di TV nasional kita. Rupanya ini disadari betul oleh produsen produk-produk pertanian bahwa beriklan di TV sangat tidak efektif karena acara-acara TV kita tidak ramah buat para petani.

Ingatan saya melayang ke beberapa puluh tahun yang lalu, ketika saluran TV nasional kita hanya satu. Saat itu ada acara yang diperuntukkan bagi saudara-saudara kita, para petani di desa dan para nelayan. “Dari Desa Ke Desa” adalah acara TVRI yang cukup populer saat itu. Segala hal (yang baik-baik) tentang desa bisa tampil di acara tersebut. Selain itu ada juga lomba cerdas cermat antar kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa).

Catatan out of topic (OOT) : istilah kelompencapir yang berkonotasi positif ini justru diplesetkan oleh teman-2 kuliah saya menjadi berkonotasi negatif yaitu Kelompok Mahasiswa Pencinta IP (Indeks Prestasi) Rendah.

Memang ada tanggapan miring terhadap acara cerdas cermat antar kelompencapir ini. Banyak yang beranggapan acara ini hanyalah propaganda rezim Orde Baru. Banyak yang sinis dan tidak percaya bahwa para petani dan nelayan kita bisa demikian pandai dan pintarnya dalam menjawab pertanyaan juri. Banyak yang ‘under estimate’ dengan pengetahuan dan kemampuan para petani dan nelayan kita. Banyak yang beranggapan jawaban yang diberikan oleh para peserta sudah disiapkan oleh petugas penyuluh lapangan.

Bagi orang kota dan yang (katanya) berpendidikan relatif lebih tinggi, tentu saja acara ini tidak menarik sama sekali. Mereka lupa bahwa TV adalah saluran milik publik, bukan monopoli orang kota atau orang kaya. Masyarakat desa dan kalangan bawah juga mempunyai hak menikmati dan ambil bagian dalam saluran tersebut. Keberadaan mereka tetap harus terwakili.
Di saat saluran TV swasta makin menjamur, hak masyarakat desa (petani dan nelayan) untuk menikmati dan ambil bagian dalam saluran publik tersebut justru makin terpinggirkan. Coba perhatikan acara-acara di stasiun TV nasional kita, berapa banyak acara yang mengupas dan mengangkat seluk beluk kehidupan petani dan nelayan kita ?

Cuplikan acara 'Dari Desa Ke Desa' dapat disaksikan di sini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x