Mohon tunggu...
Mas Sam
Mas Sam Mohon Tunggu... Guru

Memaknai sejatinya Pendidik dengan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Khianat

5 Juli 2020   09:46 Diperbarui: 5 Juli 2020   09:48 86 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Khianat
majelisadatsasak.org

Kegelisahan hatiku lah yang telah menuntunku ke pondoknya yang teduh.  Letaknya jauh dari keramaian, di pinggiran hutan.  Untuk sampai ke sana harus melewati pematang sawah setapak, kemudian menyusuri sungai kecil yang berhulu dari tengah hutan.

Sebetulnya pondok ini akrab denganku ketika aku masih kecil dulu.  Di sini aku belajar mengaji dan menunutut ilmu agama.  Kesibukanku sehari-hari di kota membuatku melupakan tempat yang menenteramkan hati ini. Beberapa pengasuh pondok masih mengenaliku saat aku datang.

"Silahkan tunggu dulu ya mas, kyai masih berdzikir", kata salah seorang pengasuh pondok sambil mempersilahkan aku istirahat.

Ingatanku melayang ke masa ketika aku bersama teman-teman mengaji di pondok ini.  Berdirinya pondok ini sebenernya banyak ditentang masyarakat yang masih menganut ilmu kejawen.  Itulah kenapa akhirnya pondok ini berada di pinggir hutan.  Berkat bapakku yang sedikit berpandangan luas, bapak dapat meyakinkan masyarakat untuk mengijinkan pak kyai mendirikan pondok pesantren.  Syaratnya pondok harus didirikan jauh dari perkampungan penduduk.

Begitulah akhirnya pondok dapat berdiri dan pak kyai dapat mengajarkan ilmu agama dengan tenang.  Sayangnya masyarakat, terutama anak-anak, hanya sedikit yang mau belajar agama. Dari kampungku hanya tiga anak yang bersedia, salah satunya aku.  Setelah pagi sekolah dan siangnya mmbantu bapak ke sawah malam harinya aku mengaji ke pondok.  Setengah jam sebelum maghrib kami mendatangi pondok.  Pas waktu maghrib tiba kami sholat berjamaah dimami pak kyai.

"Assalamu alaikum. Udah lama datangnya nak ?", tiba-tiba suara yang dulu akrab di telingaku membuyarkana anganku.

"Wa alaikum salam. Belum pak kyai. Baru sebentar kok", jawabku gugup.

"Gimana keadaanmu di kota ?", tanyanya yang kurasakan seakan menohok ke ulu hatiku.

Aku tak kuasa menjawabnya, aku hanya dapat menarik nafas panjang.

"Ya udah ayo masuk dulu", katanya sambil membimbingku masuk ke dalam pondok.

                                                          *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x