Mohon tunggu...
Masrura RamIdjal
Masrura RamIdjal Mohon Tunggu... Lainnya - PhD Candidate dari Oxford Brookes University, pengusaha Biro Perjalanan Wisata

Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do (Pele)

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Membangun Desa Wisata dengan Memaksimalkan Partisipasi Masyarakat

19 November 2018   04:48 Diperbarui: 20 November 2018   10:35 2486
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Desa wisata akhir-akhir ini sering sekali dipromosikan sebagai sebuah alternative berwisata di Indonesia dan juga sebagai salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan masyarakat dari sector pariwisata. 

Hal ini juga dikaitkan dengan salah satu kebijakan pemerintah Indonesia yang mengembangkan pembangunan dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan yang merupakan salah satu agenda dari Nawacita dari Presiden Joko Widodo. 

Sebagai sebuah asset yang penting, pembangunann di Desa mendapatkan perhatian yang penting dari pemerintah salah satunya dengan mengeluarkan UU no 6/2014 tentang Desa yang memberikan kewenangan yang lebih besar bagi masyarakat di desa untuk membangun wilayahnya. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di desa untuk kegiatan pariwisata.

Kegiatan pariwisata sudah sejak lama menjadi sebuah industry yang menghasilkan kontribusi yang cukup besar bagi Indonesia. Pertumbuhan kunjungan wisatawan dalam negeri dan luar negeri menunjukkan data kunjungan yang terus meningkat dalam 10 tahun terakhir yang otomotis juga berkontribusi terhadap devisa negara. 

Terlepas dari ini, pariwisata juga berkontribusi langsung kepada masyarakat khususnya yang berada di daerah tujuan wisata, yang berinteraksi langsung dengan wisatawan tersebut dalam kegiatan ekonominya, mulai dari tukang parkir, pemilik warung, pengrajin souvenir hingga pemilik usaha-usaha restoran dan akomodasi serta transportai dan biro perjalanan yang langsung berhadapan dengan wisatawan tersebut.

Keberagaman dan keunikan sumber daya alam di Indonesia yang banyak berada di wilayah pedesaan mendorong tumbuhnya destinasi-destinasi baru yang terletak di wilayah pedesaan sehingga menciptakan diversifikasi sumber pendapatan dan pekerjaan bagi masyrakat di pedesaan (Damanik, 2009). 

Hal ini juga di picu dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan gaya hidup milenial yang kemudian membantu memviralkan jika menemukan sebuah obyek wisata baru yang bagus atau "instagramable" yang kemudian merangsang rasa penasaran orang-orang untuk langsung datang dan menyaksikannya sendiri.

Dalam dunia akademis, istilah desa wisata ini dapat di samakan dengan wisata Pedesaan atau "Rural tourism" dimana konsep wisata pedesaan ini sudah mulai dikembangkan di beberapa negara-negara Eropa sejak lama sebagai katalisator yang efektif untuk meregenasi sosial ekonomi ( He, 2003) sejak lebih dari seratus tahun lalu. 

Negara Jerman sudah mengembangkan pariwisata pedesaan sejak lebih dari 150 tahun lalu (Oppermann, 1996). Sejak tahun 1970s akibat dari menurunnya industry perkebunan dan peternakan yang kemudian menurunkan sumber penghasilan atau kehilangan pekerjaan pariwisata pedesaan mulai gencar dijadikan  alternative lain untuk mempertahankan kelangsungan perekonomian mereka (Wilson et al, 2001). 

Dengan memanfaatkan kondisi alam, budaya, kultur, ethnis and geographis (Edgel & harbaugh, 1993), kawasan pedesaan ini dengan mudah di sulap menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi dan di explore serta dikembangkan secara "industry" dibandingkan industry lainnya. 

Membangun pariwisata di pedesaan relative tidak membutuhkan biaya yang mahal (kecuali jika membangun sebuah resort hotel mewah) dan dapat melibatkan masyarakat local untuk berpartisipasi. Pariwisata di pedesaan ini memberikan dampak usaha kecil secara langsung kepada masyarakat seperti restaurant, penginapan, transpotasi dan juga tidak usaha yang tidak langsung berhubungan dengan pariwisata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun