Meneer Panqi
Meneer Panqi Wiraswasta

Blogger & Pecinta Budaya

Selanjutnya

Tutup

Politik

Catatan tentang Daniel Mutaqien [1]

8 Desember 2017   01:16 Diperbarui: 8 Desember 2017   01:19 335 0 0
Catatan tentang Daniel Mutaqien [1]
Daniel sedang mendengarkan pengurus gempita. Foto @meneerpanqi

Meskipun politik tak seputih kertas, tetap saja orang-orang baik dan jujur harus kita dorong untuk masuk politik agar bisa membawa pengaruh baik bagi kawan-kawannya sesama politisi. Hal itu diperlukan karena fakta apapun hari ini ditentukan oleh produk politik.

Harga gula, tarif listrik, harga BBM, peredaran minuman keras, serta banyak hal lainnya yang berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak ditentukan oleh politik. Apa jadinya jika politik yang menentukan tersebut dijalankan oleh para politikus kotor yang tidak bertanggungjawab kepada rakyatnya.

Itulah yang saya dapatkan dari membaca sejarah para wali di Jawa. Beberapa anggota Dewan Wali Sanga, ada yang terjun politik. Diantaranya adalah Sunan Gunung Jati dan Raden Patah. Dengan masuk politik, mereka bisa membuat kebijakan dan aturan yang cenderung menyokong syiar Islam di Jawa. Tujuan dakwah untuk islamisasi Jawa pun akhirnya terwujud.

Demikian pula keterwakilan zonasi pada Pilgub Jabar kali ini, yang paham pantai utara dan selatan tentu orang pesisir. Sinergi ini perlu untuk akselerasi pembangunan Jabar. Tak heran, Daniel Mutaqien lebih memprioritaskan kunjungan kepada warga pesisir seperti di Pangandaran dan Ciamis. Masyarakat di sana merasa terwakili karena semarwah dengan Daniel Mutaqien.

Tak pelak dukungan kepadanya pun mengalir. Masyarakat pesisir menaruh harapan besar kepada Daniel Mutaqien. Itu saja yang saya tangkap saat diajak mendampingi kunjungannya di Pangandaran. Warga di sana seakan menumpahkan segala keluh-kesahnya kepada Daniel.

Terlepas dari itu, silaturahmi, blusukan, kunjungan, safari, maupun temu kader atau apalah namanya, bentuk ini adalah cara politisi berhubungan dengan konstituen maupun kadernya. Ini yang tidak nampak dari partai-partai sekarang. Sehingga nggak usah heran jika ikon partai diidentikkan dengan tokohnya. Bahwa PAN adalah AR, PDIP adalah Mega, Demokrat adalah SBY, Gerindra adalah Prabowo, NasDem adalah Surya Paloh dan lainnya.

Beda sedikit dengan Golkar yang notabene sebagai partai tua, agenda budaya seperti di atas masih dilakukan oleh kader-kadernya. Tidak ada yang menyangkal itu, Harmokolah yang memelopori keharusan dekatnya elit politik parpol dengan konstituennya. Kita pasti kenal dengan istilah "Safari Ramadhan" atau "temu kader".

Politisi sekarang bagaimana? Tentu, kita bisa beda pendapat. Bisa ya atau tidak dengan metode di atas. Namun, apa yang sudah dilakukan oleh Daniel Mutaqien menunjukan character personality aslinya. Ia berprinsip harus dekat dengan konstituennya. Hal ini berbeda dengan cara yang dilakukan Dedi Mulyadi yang lebih percaya iklan di media sosial. Meski yang menyukai laman resmi facebooknya hingga 9 juta orang, ternyata fakta di lapangan tidak berhasil mendongkrak popularitas apalagi elektabilitasnya.

Begitu juga saat saya ikut mendampingi silaturahmi Daniel Mutaqien dengan Gempita---Gerakan Pemuda Tani Indonesia. Menurut salah satu pengurus Gempita Jabar [Gerakan Pemuda Tani] selama ini daerah Pantura Jabar kurang diproteksi kebijakan pertaniannya. Keluh kesah itulah yang disampaikan mereka kepada politisi golkar tersebut.

Pemimpin itu memang tidak harus banyak bicara, namun banyak mendengar keluh kesah rakyat-nya.

***