Mohon tunggu...
Mas Nawir
Mas Nawir Mohon Tunggu... Wiraswasta/Penulis lepas

Vlogger Blogger Youtuber

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengolah Logika Beragama dengan Dongeng

20 Maret 2020   16:16 Diperbarui: 20 Maret 2020   16:35 48 7 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengolah Logika Beragama dengan Dongeng
Ilustrasi pixabay

Kita banyak menerima pelajaran spiritual dari para, guru agama. Baik Islam, Nasrani, Budha, Hindu, para guru agama ini mentransfer spiritual melalui cerita dan dongeng masa lalu yang lebur dalam sebuah pengajaran tentang pentingnya berbuat baik untuk keseimbangan alam, dan pentingnya menebarkan kebaikan sebagai bentuk penghargaan terhadap sesama. Sebab di hadapan Sang Pencipta, semua manusia itu sama derajatnya.

Dalam Islam untuk menafsirkan sebuah ayat harus faham tata bahasa termasuk ilmu balaghoh, mantiq, ilmu nahwu shorof, asbabun nuzul,  dan berbagai ilmu lain untuk bisa memahami kaidah sebuah ayat.

Bahkan untuk bisa disebut ustad seseorang harus faham dengan kutubus sittah, kitab-kitab yang dikarang oleh muhaddits ternama seperti Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai,Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Sebab dengan belajar dan memahami ketujuh kitab ini seseorang telah dijamin qualified untuk berhujjah berkaitan dengan dalil tertentu.

Memang ada guru ngaji yang  hanya bisa membaca al-qur'an dan bisa membaca kitab kuning sedikit-sedikit bisa dipanggil ustad,  sebab mereka memang guru.  Dan bahasa arabnya guru adalah ustad.  

Produk dari kajian alqur'an dan hadits bisa berupa tafsir dan takwil. Di mana orang-orang bisa memahami secara mudah kandungan sebuah ayat. Tentu dengan dibantu terjemahan yang komprehensif sehingga mampu memahami setiap kandungan ayat. Sebab kebanyakan tafsir memang berbahasa arab yang tidak setiap orang bisa memahaminya secara langsung tanpa melihat terjemahan.

Orang-orang yang mempelajari tafsir juga tidak bisa disebut mufassir. Sebab ia hanya belajar dari kitab tafsir yang  sudah jadi,  bukan membuat karangan kitab tafsir.

Sampai di sini tentu akan muncul berbagai pertanyaan, lalu bagaimana seseorang menyampaikan kaidah-kaidah agama, sementara ia terbatas pemahaman ilmunya, sementara kewajiban menyampaikan ilmu agama itu kewajiban setiap orang sebagai implementasi amar ma'ruf nahi munkar?

Para ulama telah paham akan kondisi ini dengan memberikan berbagai kategori terhadap bahan yang bisa dikaji agar maksud menyampaikan agama ini tidak menimbulkan perselisihan dan dakwah tetap terjaga sepanjang masa.

Salah satunya adalah menyampaikan tamsil (contoh). Di mana tamsil ini bisa berupa cerita tentang para pengamal agama masa lalu, serta dongeng para Nabi yang penyampaiannya tidak dibutuhkan penafsiran.  Serta  dongeng tentang  orang-orang sekitar yang bisa dijadikan teladan.

Memang diakui bahwa pengalaman keberagamaan atau religius experience tidak mudah begitu saja ditransfer lewat tamsil. Tapi setidaknya kisah-kisah yang didengar bisa menjadi sebuah nilai yang bisa ditiru, agar seseorang mampu mengamalkan agama secara baik dan benar.

Sebab menyampaikan pesan agama dengan mendongeng bisa menjadikan seseorang memahami ajaran tentang kemuliaan, dan penghargaan terhadap orang yang mengamalkan agama.

Terlebih  terhadap anak-anak, menyampaikan materi dengan doktrin tekstual tentu tidak dapat dipahami begitu saja. Sebab daya nalar mereka belum bisa mencerna mengenai ayat-ayat Tuhan yang didengarnya.  

Tapi bila pesan itu disampaikan dalam sebuah dongeng sebagai teladan, anak-anak  akan bisa mengingatnya, bahkan sampai ia tua.

Selamat Hari Dongeng 2020

VIDEO PILIHAN