Mohon tunggu...
Mas Nawir
Mas Nawir Mohon Tunggu... Wiraswasta/Penulis lepas

Vlogger Blogger Youtuber

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Kisah Pengemis Tua Bernama Mbah Karinah

17 Februari 2020   22:09 Diperbarui: 17 Februari 2020   22:02 45 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Kisah Pengemis Tua Bernama Mbah Karinah
Ilustrasi Pixabay

Gerimis mengguyur bumi,  seorang perempuan tua beringsut dari duduknya.  Bergeser di bawah tenda warung yang kebetulan kosong.


Warung tenda itu memang seperti disiapkan untuknya. Berdiri di dekat masjid besar tempat ia menggugah iba pada jamaah masjid tiap kali selesai ibadah jum'at.

Pengurus Masjid tak mengijinkan gepeng seperti dirinya berteduh di masjid. Bahkan suatu kali ia ingin sholat berjamaah di masjid. Tapi pengurus masjid mengusirnya.

Hujan terus menderas,  ia duduk memandangi titik hujan yang  membasahi  bumi.
Suara seng teras masjid, tertimpa hujan terdengar keras di telinga.  

Rombongan para jamaah masjid menangkupkan payung di teras masjid, sebagian ada yang berlari menghindari hujan, tapi  tetap basah.

Suara azan bergema memenuhi langit.  Mbah Nah,  demikian perempuan tua ini biasa dipanggi, tersayat batinnya. Ia memegangj bagian bawah perutnya.

"Cairan laknat",keluhnya.

Ia merasakan cairan busuk itu mengalir di sela pahanya.  Tak tertahan dengan rasa gatal yang mulai menyerang. Ia sudah berusaha menyumpalnya dengan kain lusuh,  tapi cairan itu terus mengalir menimbulkan bau busuk tak terkira.

"Ampuni aku Tuhan... ", gumannya lirih sambil memegangi perutnya. Suara cacing meronta. Ia baru tersadar sampai sesiang ini belum ada apapun yang masuk  ke mulutnya.

Lalu khotib mulai berkhutbah menyampaikan ketakwaan.  Mbah Nah menyimak,  angannya melayang puluhan tahun silam saat  ia masih muda.

Ia dikenal sebagai Karin,  dan orang sekelilingnya tak ambil peduli tentang siapa nama aslinya.  Yang jelas Karin adalah perempuan cantik yang  datang ke lokalisasi itu dengan diantar oleh seorang laki-laki.

Lalu setelah mengantar Karin,  lelaki itu tak pernah muncul.

Nasib malang  menimpa Karin,  seseorang mencari perempuan muda untuk dipekerjaan di kota sebagai karyawan toko dengan gaji yang  cukup menjanjikan.

Karin adalah seorang  yatim piatu,  ayah ibunya entah ke mana.  Setelah neneknya meninggal,  ia diasuh oleh bibinya.  

Bibinya seorang janda,  memiliki 3 orang anak seusia Karin.  Beban berat sebagai orang tua tunggal ditambah kehadiran Karin membuat perangainya jadi pemarah.

Makanya saat ada orang hendak mencari pembantu rumah tangga,  bibinya girang bukan main.  Apalagi segepok uang ditinggalkan bersama kepergian Karin. 

Untung tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, ternyata Karin jatuh ke tangan orang yang  salah.   Ia telah dijual oleh orang membawanya kepada seorang mucikari.

Sejak itu hidupnya berubah.  Ia tumbuh dalam dunia hitam. Dari  pelukan satu lelaki ke pelukan lelaki lain.  Tamu-tamu berdatangan seperti mengantri.  Bahkan turis dari luar negeri  penasaran mencicipi kemolekan tubuh Karin.

Lalu di tahun ke-5 seorang pengusaha kaya mengambilnya sebagai istri.  Hidup dalam istana penuh kemewahan. Jalan-jalan ke luar negeri dan shoping  adalah pekerjaannya setiap minggu.

Lalu saat suatu malam Karin melayani suaminya. Ia merasakan sesuatu yang tak biasa.  Dari selangkangannya mengalir cairan pekat berbau busuk tiada tara.

Padahal Karin sudah berusaha membersihkannya. Dan meminum berbagai ramuan obat untuk kesembuhannya.

Tapi tetap  saja aliran cairan neraka itu tak pernah  berhenti keluar dari tubuhnya.

Suaminya jijik,  dan mengusirnya seperti binatang jalan.  Ia terpuruk dalam nestapa.  
Berjalan dengan rasa sakit dan tak membawa apa-apa.

Ia merasa najis pada dirinya sendiri.  Mengapa ia dulu melakukan hal yang  dilarang agama. Bahkan menikmati tanpa memikirkan akibatnya.

Ia menggelandang di kota itu tanpa tempat  tinggal.  Tidur di emperan toko atau pinggiran pasar dengan alas tidur seadanya.  Bahkan tak bisa mencegah gigitan nyamuk yang  hinggap di tubuhnya.

Sampai ia menemukan rombongan tunawisma seperti dirinya. Bisa makan minum dari menjual iba kepada para jamaah Masjid besar.  Dan ia ikut larut di dalamnya.  Menadahkan tangan meminta-minta.

Bahkan ia tak merasa,  sudah duapuluh lima  tahun melakoninya.  Sampai masjid beberapa kali direnovasi. Ia tetap  di situ tanpa mengenal siapapun kecuali teman-teman tunawisma nya.

Suatu kali pernah terjadi,  rombongan aparat menertibkannya. Ia ikut dibawa ke kantor dan didata.  Setelah melihat kondisi Karin aparat melepaskannya kembali.

Lalu... Terdengar bisikan seorang bocah,  Mbah Nah terbangun.

"Ini buat nenek", kata si  bocah sambil  mengulurkan sebuah kardus berisi nasi dan amplop kecil berisi lembaran uang.

Mbah Nah menangis sesenggukan,  masjid sudah sepi, ibadah jumat sudah selesai,  jamaah sudah pulang.

"Terima kasih nak", jawab Mbah Inah pelan.  

Lalu bocah kecil itu pergi bersama ayahnya.
Dan mbah Inah menyuapkan nasi ke mulutnya tetap dengan berlinang air mata.


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x