Mohon tunggu...
Lucky Akbar
Lucky Akbar Mohon Tunggu... Setia pada proses

Semoga manfaat

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

"Guru Jangan Kasih Aku PR Sulit"

19 Oktober 2019   00:03 Diperbarui: 19 Oktober 2019   01:41 0 6 2 Mohon Tunggu...
"Guru Jangan Kasih Aku PR Sulit"
education-3670453-1920-5da9ec23097f362caf3adb72.jpg

Selamat malam semuanya, sebelum memulai pembahasan, saya pribadi terlebih dahulu ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, terkhusus kepada para pembaca, sahabat-sahabat, dan saudara-saudaraku disana yang saat ini tetap semangat menjadi tenaga sukarela untuk mendampingi salah satu, dua, dan puluhan hamba Tuhan yang mempunyai permasalahan sakit gangguan kejiwaan atau lebih mudahnya bisa disebut dengan penderita Depresi.

Tentu saya sangat menaruh empati terhadap kalian saudara-saudara disana yang tetap baik hati konsisten membantu mengupayakan kesembuhan-kesembuhan terhadap pengidap gangguan depresi serta dengan sekuat tenaga pula berupaya menjadikannya manusia yang bisa normal dan pulih kembali.

Dalam beberapa kasus fenomena yang terjadi didalam masyarakat rata-rata orang yang mengalami gangguan kejiwaan acap kali justru malah seringnya terabaikan, tersisihkan, minim kepedulian, hingga mengalami pengucilan. Hal ini tentu bukan tanpa sebab namun yang jelas yang menjadi persoalan, adalah kesadaran beberapa dari masyarakat kita yang masih kurang mempunyai rasa peduli terhadap sesamanya, sesama manusia, sesama mahluk ciptaan Tuhan, juga ditambah lagi karena disisi lain kemungkinan belum cukupnya segelintir masyarakat yang mampu memiliki pengetahuan yang memadai, yang menggerakan hati dan tangannya untuk bisa menjadi jawaban atas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kesehatan jiwa yang berada didekatnya atau lingkungannya.

Tentu kita tahu orang depresi memang sangat susah ditebak moodnya, kadang kita lihat mereka sedang asyik ketawa-ketiwi gembira kadang pada saat itu juga dengan cepat pula, wajahnya beralih muram, berubah drastis seperti memperlihatkan kesedihan yang mendalam.

Bila mendengar suara yang keluar dari perkataan mereka para pengidap depresi yang ngalor ngidul tak jelas arahnya itu, kalau kita bisa ambil gambaran sisi dari maksut perkataannya, mungkin dapat kita tarik makna kesimpulan sederhananya begini;
"bahwa rasa keputusasaan telah hampir sepenuhnya menjangkiti mereka", kalau boleh saya perjelas lagi gambaran mudahnya seperti ini, keputusasaan mereka mungkin sudah pada tahap 70%, sedangkan semangat buat tetap mau menjalani hidup pada tahap 30%, dengan bukti masih mengertinya mereka pada makan, minum, buar air kecil, bab dll. kebanyakan dari mereka pengidap gangguan depresi yang berat, marah apabila ada yang mengkhutbahi, menolak pemberian saran, ngamuk bila ada yang mengganggu ngomelnya. Para penderita depresi pasti mempunyai kecemasan berlebih, juga ditambah kadar rasa khawatir yang tinggi, hingga etos hidup pun mungkin terkikis hilang,

Pun kondisi kerabat, sanak saudara, atau bahkan keluarga terdekat, terkadang juga tak mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengurai permasalahan yang menjadi penyebab depresinya, apalagi bisa membantu menolong menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi, wong bisa komunikasi dengan baik saja sudah bagus, misalnya.

Dari banyaknya penderita depresi yang ada pada rehabilitasi-rehabilitasi pondok jiwa, baik yang berupa rumah sakit maupun swasta,
hal ini tentu bisa menjadi cerminan yang gamblang dan jelas bahwa ketidakmampuan para anggota keluarga untuk menyembuhkan penyakit mental ini sendiri. padahal konon keluarga adalah terapi terbaik bagi kesembuhan mentalnya dengan catatan yang depresi ringan-ringan sampai dengan yang sedang-sedang saja.

Dalam teori Psikologi penyebab depresi ada banyak faktor didalamnya antara lain,

yang pertama, ada yang karena genetik atau keturunan, atau sudah membawa sifat-sifat dari dalam diri yang bisa menjadi potensi kedepannya membentuk lahirnya penyakit kejiwaan. (Yang ini ngeri tapi masih bisa sembuh)

kemudian yang kedua, ada yang karena pola asuh didikan orang tua yang kurang pas mendidik anak pada masa kecilnya, misal terlalu dikekang, tidak diberi kebebasan yang cukup atau malah dimanja habis-habisan dll yang sifatnya berlebihan.

kemudian yang ketiga karena tekanan faktor (eksternal) dari luar dirinya, misal karena faktor lingkungan.

Oke supaya tidak panjang lebar, kita bahas kali ini, hal-hal kecil yang bisa membuat pribadi menjadi tertekan didalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa tertekan yang menjadi pembahasan?
Jawaban simpelnya seperti ini, apabila kondisi jiwa sedang tertekan, namun justru terus menerus dibiarkan, menumpuk dan menumpuk, hukum yang berlaku selanjutnya bisa berdampak pada lahirnya Stres, nah begitu selanjutnya, Stres apabila dibiarkan lanjut terus menerus bisa berpotensi menimbulkan pembentukan kecemasan-kecemasan, dan next kecemasan apabila tidak segera ditangani dengan baik, dan justru malah dibiarkan terus-menerus, tentu hal ini akan sangat bisa berpotensi menimbulkan depresi.

Nah langsung saja, saya kasih contoh tekanan-tekanan pada kehidupan sehari-hari yang seringkali abai kita untuk mengetahuinya,

misal, "didalam suatu lingkungan tetentu ada seorang anak yang sedang menjalani masa mengenyam bangku sekolahan, dan disisi lain, teman-teman yang seusianya juga manusia-manusia yang tinggal dilingkungannya tak ada satupun yang mengenyam bangku pendidikan sampai dengan lulus, rata-rata orang-orang yang disekeliling anak itu tadi putus sekolah ditengah jalan, sedangkan si anak tadi, berbeda, ia bercita-cita bisa lulus sampai dengan SMA atau bahkan kuliah.

Kemudian selanjutnya si anak yang masih meneruskan sekolahnya tadi misal saja menemui sebuah keadaan yang mengharuskan dia mengerjakan PR (pekerjaan rumah) sendiri, lanjut tidak mampu mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya itu, kemudian ia mencoba menanyakan PR itu tadi ke orang tuanya, dengan tujuan supaya orang tuanya mungkin bisa membantu menyelesaikan, tapi ternyata orang tuanyapun juga tidak faham apa yang dimaksud PR si anak tadi, dan alhasil si anak mengalami bingung dan tertekan. mau tanya kesiapa juga bingung.

"Nah kan bisa saja si Anak tadi tanya ke teman-temannya atau membuat semacam forum kelompok diskusi"
Jawabannya : baik, namun kita juga harus tau terlebih dahulu kadar PR yang diberikan oleh si Guru tadi, sulit atau tidak.

Mengapa sulit atau tidak? Apa hubungannya?
Nah hubungannya seperti ini, semakin sulit PR yang diberikan oleh si guru, maka semakin murid akan fokus menyelesaikan pekerjaan PRnya itu sendiri-sendiri sampai rampung terlebih dahulu, ndak mungkin kan si Anak tadi menunggu temannya rampung dahulu, bisa-bisa malah nanti keburu jadwal dikumpulkan dan dia ndak ngumpulkan sendiri.

"Nah kan ada juga bimbingan tambahan belajar diluar sekolah, bukannya bisa menyuruh mereka para guru pembimbing les-lesan untuk mengarahkan dan menjadi jawaban atas persoalan anak tersebut?"

"Yab betul, menaruh anak pada guru pembimbing atau les-lesan diluaran itu bisa, namun sebatas bisanya ya untuk para orang tua yang berpendapatan lebih, dan juga yang tidak kalah penting yang harus diperhatikan adalah karakteristik orang-orang yang tinggal dilingkungan si anak tadi, ada orang yang mampu dan mau ngelesi tidak dilingkungan anak itu tadi"

Ingat ya, "Tekanan,stres, kecemasan, depresi"
Wajib belajar : Sd, Smp, Sma..

Judul "Guru Jangan Kasih Aku PR Sulit"
Tujuan penulisan disini agar Si Bapak dan Ibu Guru jangan kasih banyak-banyak PR sulit, supaya para pelajar betah mengenyam pendidikan dan tidak tertekan secara berlebihan. Matur nuwun lan sampun cekap ngoten mawon.

Lucky akbar, 19/10/19


VIDEO PILIHAN