Mohon tunggu...
Langit Cahya Adi
Langit Cahya Adi Mohon Tunggu... Ilmuwan - Technical Assistant

Technical Assistant || Universitas Gadjah Mada (2010-2015) Universite de Bordeaux-Perancis (2016-2018) Osaka Daigaku/Universitas Osaka-Jepang (2019-2022) || Twitter: @LC_Adi07

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Beragama Progresif dengan Teladan Y.B. Mangunwijaya

11 Februari 2020   10:48 Diperbarui: 11 Februari 2020   11:20 1201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Y.B. Mangunwijaya di sebuah wawancara (YouTube.com: Romo Mangun dan pendidikan kaum miskin)

Visinya adalah bagaimana pendidikan yang memerdekakan seperti apa yang dialami oleh Adam Malik: "hanya" lulusan sekolah dasar namun bisa menjadi seorang wakil presiden bahkan dapat menjadi pimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bukan pendidikan yang menjejali anak-anak didik dengan berbagai teori yang mengasingkan mereka. Sekolah ini juga menganulir sistem rangking yang membuat pendidikan adalah serba bersaing.

Apakah sekelumit kisah sejarah mini di atas tidak menyinggung soal keagamaan atau secara spesifik, dogma Gereja Katolik? Tepat. Dan itulah poin utamanya.

Apa yang terlihat jelas dari seorang Y.B. Mangunwijaya adalah dia tidak bergerak di tengah penderitaan sesamanya sambil membawa atribut kepastorannya itu. Dia tidak berpartisipasi dalam pengangkatan harkat-martabat orang melarat dan tertindas (oppressed) sambil mencari simpati agar umat Katholik makin banyak. Padahal, sudah jelas dia adalah rohaniwan.

Sebaliknya, latar belakangnya sebagai imam Gereja Katholik justru mendorong sekaligus menuntun bagaimana sebaiknya dia harus bertindak serta memberikan suatu proteksi bagi Romo Mangun dan mereka yang berlindung padanya untuk dapat berjuang menuntut hak-haknya terpenuhi.

Reputasi sebagai agamawan tidak diaplikasikan agar tenggelam dalam debat antar agama untuk menunjukkan agama mana yang lebih "benar" atau yang "sesat", "tidak berkenan di hadapan Tuhan", dan lain serupa. Berstatus sebagai orang beragama dengan beriman pada Tuhan Yang Maha Esa ialah berarti bertanggung jawab untuk mengedepankan sisi humanisme sebagai bagian dari iman pada sosok Ilahi yang diimani sebagai penuh kasih pula.

Iman, belajar dari kiprah Romo Mangun, bukanlah melulu tentang ritus-ritus dan doa di tempat ibadah, melainkan bagaimana kepedulian nurani manusia tersentuh atau malah tertohok saat sesamanya tertindas. Iman adalah orientasi bagaimana gerak manusia diarahkan pada keadilan dan kesetaraan dengan berbekal perasaan kasih dan penuh persaudaraan.

Lalu, bagaimana iman yang dikontekstualisasikan dalam pembelaan terhadap orang miskin itu?

Romo Mangun mencontohkannya dengan sains. Bukan sains yang terangkum dalam buku-buku ilmu pengetahuan alam, melainkan ilmu, ada analisis sosial dan analisis alam (beserta teknologi). Kemampuan intelektual yang terinspirasi dan didasari dari iman humanis merupakan instrumen mewujudkan kemanusiaan itu.

Karena masyarakat Kali Code membutuhkan rumah yang layak huni dan bersifat semi-permanen, Romo Mangun menerapkan apa yang sudah dia pelajari tentang teknologi bangunan dan arsitektur untuk mewujudkan situasi lingkungan jauh dari kesan kumuh di tepian Kali Code. Sama halnya ketika dia mewujudkan sekolah egaliter bagi anak-anak miskin berbekal horizon intelektualnya.

Kini, setelah 21 tahun kepergiannya, apakah umat beragama sudah mampu beriman secara progresif dengan lebih peduli kepada sesamanya sekecil apapun itu?

Masalah yang dihadapi oleh masyarakat kini lebih pelik daripada apa yang dialami oleh masyarakat Indonesia sekian dekade yang lalu. Pemanasan global bukan sekedar ancaman, namun memang sungguh-sungguh terjadi hingga 8 Februari 2020 lalu Kompas.com melaporkan bahwa suhu Benua Antartika berada pada 18,3 derajat Celcius. Kerusakan alam berarti bencana bagi umat manusia dan umat manusia yang ringkih tentu paling sulit bertahan hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun