bOzz MadYang
bOzz MadYang Food Blogger #madyanger

#madYanger - Kompasianer Kuliner - Food Blogger - Komunitas Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) Kompasiana - Email: bozzmadyang@gmail.com - Instagram/Twitter: @bozzmadyang

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Pelampung Ikan Malung Bernilai Jutaan Rupiah!

17 April 2016   22:50 Diperbarui: 23 April 2016   05:51 70 13 12

[caption caption="Ikan Malung sepanjang satu meteran di Stand Provinsi Jambi saat Festival Kuliner Nusantara di Mal Arta Gading, Sabtu 16 April 2016. (FOTO GANENDRA)"][/caption]

IKAN MALUNG? Ikan Malung ditampilkan salah satu stand dari Provinsi Jambi di ajang Festival Kuliner Nusantara 2016 yang digelar di halaman Mal Arta Gading. Ikan dengan fisik pipih ini ukurannya panjang, sepanjang meja tempat menaruhnya. Konon ikan ini belum banyak dikonsumsi warga setempat di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Pasalnya ikan malung ini mempunyai ‘pelampung’ dalam tubuhnya yang bernilai jutaan rupiah!

Pak Slamet namanya, yang sempat menjelaskan keherananku melihat ikan sepanjang sekira semeter yang tergolek di meja stand pameran provinsi Jambi. Lelaki setengah baya yang bertugas sebagai Tim Penggerak PKK Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi itu, menjelaskan tentang ikan Malung yang terdapat di sekitar lautan Kuala Tungkal, daerahnya. Ikan Malung adalah jenis ikan yang hidup di permukaan laut, bukan ikan yang hidup di dasar. Banyak terdapat di lautan Indonesia. Pak Slamet mengaku, nama Ikan Malung di Kuala Tungkal, sama sebutannya dengan di Pontianak yang pernah dikunjunginya. Anehnya, daging ikan ini belum banyak dikonsumsi oleh warga nelayan.

“Pelampung ikan ini lebih mahal harganya. Satu kilogram, bisa mencapai kisaran harga Rp. 2-7 juta,” jelas Pak Slamet.  

[caption caption="Pelampung Ikan Malung di Stand Provinsi Jambi saat Festival Kuliner Nusantara di Mal Arta Gading, Sabtu 16 April 2016. (FOTO GANENDRA)"]

[/caption]Whattt!! Kaget juga aku. Pelampung (apa yaa namanya), Pak Slamet menyebutnya begitu sih. Pelampung ikan itu memang berukuran panjang, berwarna putih, tak terlalu bening. Kenapa harganya mahal? Menurut Pak Slamet’ pelampung itu digunakan oleh warga Tionghoa untuk bahan obat. Maka tak heran, banyak nelayan yang menangkap ikan Malung hanya diambil pelampungnya, sementara dagingnya dibuang. Welaaahh, sayang bangettttt.

Ironis, daging ikan malung malah terabaikan. Warga belum banyak mengonsumsinya. Namun pihak Pemda tempat Pak Slamet berdinas, lambat laun mulai mensosialisasikan bahwa daging Ikan Malung, layak dikonsumsi. Salah satunya adalah dengan metode dibakar/ panggang, seperti Ikan Bakar Malung yang dipamerkan itu.

“Pagi tadi kami bikin ikan bakar Malung ini, butuh waktu 2 jam-an untuk memanggangnya, Mas,” tutur Pak Slamet yang ternyata juga asal dari Jawa.

Welaaahhh lama juga manggangnya, maklum ukurannya panjang banget, pipih. Beda dengan belut. Kalau belut badannya lebih gilig dan licin. Ikan Malung lebih pipih dan bersisik. Rasanya?

Aku sempat mencicipinya. Rasanya khas ikan bakar, aroma bakar tidak amis. Seperti Pak Slamet bilang bahwa aslinya Ikan Malung ini aroma amisnya tak sekuat ikan pada umumnya.  Dagingnya lembut tak ada tulang besar, namun ada duri kecil-kecil. Mesti berhati-hati yaaa saat makan. Mungkin bisa diolah metode presto, biar durinya lunak dan tak mengganggu saat diicip yaaa. Seperti Bandeng presto Semarang yang beken itu heheee.

[caption caption="Ikan Malung sepanjang satu meteran di Stand Provinsi Jambi saat Festival Kuliner Nusantara di Mal Arta Gading, Sabtu 16 April 2016. (FOTO GANENDRA)"]

[/caption]Yah, dari ajang Festival Kuliner Nusantara (FKN) 2016 yang digagas Kementrian Pariwisata itulah salah satunya, aku jadi tau Ikan Malung dari provinsi Jambi. Bukan hanya itu, aku juga sempat beli ikan asin dengan bahan ikan batu dari Papua. Mentah sih harus diolah. Harganya Rp. 30 ribu dapet satui kantong berisi 5 ekor ikan batu. Sementara masuk kulkas dulu hehee. Ada juga sate Bandeng khas Banten, seharga Rp 30 ribu juga, diskon dari harga awal Rp. 40 ribu.

[caption caption="Aneka Sambel buat rujakan. Ngilerrrrrrrrr (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

[caption caption="Sate Bandeng Banten. (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

[caption caption="Sedapp. (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

Masih banyak lagi jenis makanan nusantara yang aku kenal berkat ajang FKN 2016. Ada aneka sambal Banten, abon nangka Jawa timuran, kue talas Papua, abon Padang, dan masih banyak lagi. Sekitar 49 jenis kuliner nusantara yang berbeda dan mewakili keunikan daerah masing-masing ditampilkan selama 3 hari.

Menarik sebenarnya, karena bisa juga menikmati kuliner dari ragam daerah yang belum pernah diicip. Selain itu bisa juga menikmati menu ‘kangen’ dari daerah asal. Aku sempat menikmati tengkleng Solo dan Soto Gerabah yang terkenal dari Solo.

[caption caption="Soto Gerabah SOLO. (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

[caption caption="Tengkleng SOLO (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

Ajang FKN 2016 ini melibatkan provinsi Indonesia Barat, Tengah, Timur, juga akademi/ industry. Tampil dalam stand-stand seperti Aceh, Kalbar, Sumsel, Palembang, Kalteng, Jabar, Babel, Jambi, Jakarta, Banten, Kepri, Jatim, Jateng, Bali, DI Yogyakarta, NTB, Sulut, Gorontalo, Maluku, Papua. Dari Akademi ada STP Trisakti, Sahid dan lain-lain. Media partner dari Kompasiana.

Selain stand kuliner juga ditampilkan beragam atraksi disamping aneka kuliner nusantara. Ada tarian khas daerah, juga demo masak dari chef-chef ternama. Maka berasa lengkap kemasan acara untuk mengangkat pernik-pernik budaya nusantara. Namun sayangnya hanya tiga hari. Pasalnya acara ini bisa menjadi bernilai ekonomi kreatif, dan bisnis. Menjadi titik pertemuan antara pelaku bisnis kuliner. Dampaknya pasti ke tenaga kerja serta mendorong ekonomi kreatif dari ragam daerah.

[caption caption="Atraksi tarian dari Kalimantan. (Foto GANENDRA)"]

[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2