Maskur Abdullah
Maskur Abdullah Jurnalis dan trainer

Jurnalis dan trainer, tinggal di Medan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Duka Aceh di Ladang Minyak

27 April 2018   00:20 Diperbarui: 27 April 2018   00:38 1316 3 3
Duka Aceh di Ladang Minyak
Salah seorang korban yang sebelumnya mendapat perawatan di rumah sakit terdekat, harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh untuk mendapat perawatan intensif karena menderita luka bakar yang cukup serius. Perjalanan dari lokasi kejadian ke kota Banda Aceh membutuhkan waktu sekitar 7 jam. (Foto/Nurnisa)

Siapa sangka, yang semula dikira sebagai limpahan rezeki, semburan minyak mentah yang meluber di sekitar ladang minyak tradisional itu, justru membawa malapetaka.  Sampai Kamis malam, 26 April 2018, tercatat 21 orang tewas dan sedikitnya 36 orang mengalami luka bakar berat, sedang dan luka bakar ringan.

Adalah di Dusun Kamar Dingin, Desa Pasir Puteh, Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, pada Rabu dinihari, 25 April 2018, dimana tragedi itu terjadi. Sekira pukul 01.00 Wib, tiba-tiba saja salah satu sumur minyak tradisional milik seorang warga, menyemburkan isinya bagai tak terbendung. Minyak mentah tumpah-ruah dan mengalir ke mana-mana.

Bagai mendapat air hujan di tengah gurun yang tandus, puluhan warga di sekitar 'menyerbu' ke sumber minyak mentah. Mereka membawa segala jenis wadah, seperti jerigen atau ember, untuk menampung minyak yang melimpah itu. Tentu maksud hati untuk memperoleh tambahan 'rezeki' yang lebih dari biasanya.

Jarum jam menunjukkan angka 01.30 Wib, ketika tiba-tiba muncul api, entah dari mana asalnya. Api secepat kilat menyembur disertai ledakan keras, dalam sekejap pula menyambar dan membakar benda apa pun yang ada di dekatnya. Tak terkecuali orang-orang yang berada di ladang minyak itu, juga rumah warga di sekitarnya.

Puing-puing sisa bekas kebakaran di ladang minyak tradisional di Rantau Peureulak, Aceh Timur. (Foto/waspadaaceh.com)
Puing-puing sisa bekas kebakaran di ladang minyak tradisional di Rantau Peureulak, Aceh Timur. (Foto/waspadaaceh.com)
Dinihari itu kobaran api terus membesar. Orang-orang yang terjebak api, berusaha menyelamatkan diri. Warga sekitar pun coba memberi pertolongan. Namun apa daya, peralatan yang minim ditambah ketiadaan pengetahuan tentang tata cara penyelamatan, upaya warga menjadi sangat terbatas. Warga hanya mampu membantu para korban yang berhasil keluar dari 'medan api.'

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,begitulah perjalanan hidup warga yang terjebak dalam kebakaran sumur minyak tradisional itu. Rabu pagi itu, sekira pukul 07.00 Wib, kepolisian melalui Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Misbahul Munauwar mencatat,  sekitar 10 orang tewas di tempat kejadian, 6 orang hilang (diduga tewas) dan sekitar 40 orang mengalami luka bakar.

Beberapa jam kemudian, jumlah korban bertambah menjadi 18 orang. Petugas penyelamat menemukan 6 orang yang dinyatakan hilang, ternyata telah tewas seperti dugaan sebelumnya. Korban lainnya meninggal dunia sebelum mendapat perawatan, dan sebagian lagi meninggal setelah dalam perawatan, akibat tingkat luka bakar yang mencapai skala di atas 70 persen. Hingga Kamis sore, 26 April 2018, jumlah korban meninggal mencapai 21 orang, dan 36 orang luka bakar, beberapa di antaranya dalam kategori berat.

Dilema Sumur Minyak Rakyat

Terkait dengan insiden terbakar dan meledaknya sumur minyak tradisional milik warga, yang menewaskan begitu banyak manusia, telah menimbulkan sikap pro kontra di kalangan masyarakat itu sendiri.

Ada yang mengeritik pemerintah karena dianggap telah lalai, membiarkan aktivitas pertambangan tradisional itu tetap beroperasi walau tanpa izin. Seandainya saja pemerintah bersikap tegas, menghentikan operasional sumur minyak rakyat ini, tentu korban jiwa tidak berjatuhan.

Namun ada juga yang mendesak pemerintah, justru mendorong legalisasi keberadaan sumur minyak tradisional, karena keberadaannya telah menjadi tumpuan dan mata pencaharian warga setempat. "Secara ekonomi, pendapatan penambang itu cukup menggiurkan. Tapi mereka minim pengetahuan tentang keselamatan. Hal ini membuat kondisi semakin parah dan menimbulkan korban jiwa," kata Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nurzahri, kepada KBA.ONE, Kamis 26 April 2018.

Bila ada upaya legalisasi, anggota legislative ini mendorong adanya peranan pertambangan profesional di bawah Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) yang dipantau atau diawasi oleh Dinas Pertambangan.dan Energi Sumber Daya Alam (ESDA). Sehingga secara teknis, pertambangan rakyat itu nantinya memiliki payung hukum, sehingga tidak lagi ilegal. Pemerintah harus pula menempatkan orang-orang ahli di bidang pertambangan untuk melakukan pengawasan.

Sementara itu, terkait musibah ini, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, telah menurunkan tim dinas terkait untuk melakukan investigasi lapangan."Tiga orang Kadis sudah terjun langsung ke lokasi. Proses pemadaman masih terus dilakukan. Mungkin perlu pengecoran dengan semen karena dengan air tidak bisa," ujar gubernur.

Dia mengakui insiden kebakaran ladang minyak yang dikelola masyarakat tersebut bukan kasus pertama. Sebelumnya, menurut Irwandi, pernah juga terjadi kebakaran serupa. Gubernur Irwandi menjamin penanganan para korban akibat kecelakaan ini akan dibantu pemerintah melalui Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) maupun BPJS Kesehatan.

Mendengar pernyataan ini, tidak kah insiden yang pertama dahulu, seharusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk mengambil sikap dan langkah pencegahan? Apakah harus menunggu jatuhnya korban jiwa lebih besar lagi? Semoga saja insiden ini menjadi kasus yang terakhir. Itulah harapan masyarakat.  (***)