Mohon tunggu...
MJK Riau
MJK Riau Mohon Tunggu... Administrasi - Pangsiunan

Lahir di Jogja, Merantau di Riau

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Janji yang Tak Terucap

14 September 2018   06:25 Diperbarui: 15 September 2018   06:10 458
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://pixabay.com

sebelumnya

Janji Yang Tak Terucap

Janji itu harus dipenuhi. Ya. Janji denganmu. Meskipun bukan hal yang mudah untuk menepati janji. Banyak halangan, rintangan mau pun tantangan yang harus kuhadapi untuk memenuhi janji kepadamu. Namun aku meyakinkan kepada diriku sendiri untuk berusaha sekuat tenaga sedapat mungkin memenuhi janji kepadamu.

Walaupun aku sadar bahwa sebenarnya aku ini makhluk yang lemah. Terkadang terkena peringatan sedikit saja dari orang lain, aku sudah mulai manyun. Namun kalau ada yang memuji aku langsung bersemangat.

Ada juga sering tumbuh malas yang luar biasa pada rasa ini. Seperti tidak ingin melakukan sesuatu. Ada juga tiba-tiba harus melakukan sesuatu untuk dapat melupakanmu. Itu pun sebetulnya kulakukan karena terpaksa. Rintangan dapat muncul karena aku ini hidup di dunia tidak sendirian, kan. 

Namun tantangan paling besar dalam janjiku kepadamu adalah masih mungkinkah ada pertemuan itu.

Tiba-tiba kulihat ada panah meluncur menusuk dada lukisan yang kupajang di langit. Lukisan itu merupakan puzzle-puzzle yang membentuk jiwa dan pikiranku. Tentu bukan seluruhnya dan masih berupa puzzle puzzle yang tidak utuh. Lukisan itu diam saja panah itu menusuk ke dada. Namun dadaku terasa perih. Ada substansi pada sebuah puzzle yang didalamnya terdapat lukisan masa lalu. Namun puzzle itu merupakan gambaran bagaimana membuat lukisan tentang situasi terkini dengan belasan karakter dari lukisan masa lalu, yang pernah terpajang di tempat lain. Puzzle itu juga memberikan  gambaran bahwa tidak mudah membuat rangkuman yang dapat mewakili jiwa suatu lukisan.

Insya Allah akan kucoba menikmati semua ini dengan rendah hati. Panah itu kuambil, tidak kupatahkan. Kumasukkan panah itu ke dalam dada untuk mawas diri. Bukan mudah menggoreskan pena untuk melukis pelangi. Itu membutuhkan kompetensi diri, memindahkan imajinasi ke diksi-diksi. 

Alhamdullillah. masih ada rejeki ada kesempatan lagi.

"Pak Edy, ke mana mobil Alphard si Tiga Dara tadi kok tidak kelihatan lagi, ya ?" tanya Mahesa, membuyarkan lamunan Pak Edy.

Ada janji yang tak terucap.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun