Mohon tunggu...
Humaniora

Mama, Papa, Dampingi Aku!

26 Februari 2018   08:20 Diperbarui: 26 Februari 2018   08:58 0 0 0 Mohon Tunggu...
Mama, Papa, Dampingi Aku!
Dokumentasi Pribadi

Pada kesempatan ini penulis menceritakan realita yang terjadi di lingkungan sekolah tempat penulis mengajar. Kisah tentang seorang anak yang jauh dari kedua orangtuanya. 

Saat ini ia hanya tinggal bersama neneknya yang sudah sangat tua. Kedua orang tuanya hidup terpisah atau broken home yang disebabkan entah karena masalah apa. Sayang seribu sayang, anak yang lugu itu bisa di katakan kurang kasih sayang, kurang perhatian orangtua, kurang pendampingan orangtua. 

Setiap hari si anak pergi ke sekolah, bahkan ia sangat rajin belajar. Namun sayangnya setiap huruf yang di ajarkan, sekarang ingat hari esok lupa lagi. Seperti itu terus menerus hingga sekarang kelas empat. Ia tidak mau mengerjakan apapun di kelas. Ini dikarenakan memang tidak bisa. Huruf saja belum begitu hafal, angka juga belum begitu mengerti. 

Kalau sampai anak itu mampu menuliskan huruf ketika di dekte, penulis bahagia sampai tak mampu berkata apa apa. Yang membingungkan lagi ketika diikutkan tutor dari hari Senin - Jum'at, anak itu hanya mau mengikuti di jam penulis saja. Penulis berfikir sebenarnya bagaimana dan harus berbuat apa. Sekolah kami pun dalam dilema besar. Kami tak berhak menyebutnya anak yang bodoh. 

Kami hanya menganggap bahwa anak itu tidak seharusnya sekolah disini. Ia harusnya sekolah di sekolah untuk anak berkebutuhan kusus. Dari hal itu pihak sekolah tidak sampai hati kalau tidak menaikkan kelas berulang-ulang, atau bahkan mengeluarkannya dari sekolah. 

Hal demikian itu melanggar hukum yang ada. Namun di balik itu semua, penulis merasa sedih memikirkan bagaimana anak itu mau berkembang kalau terus bertahan disini. Ketika penulis menyampaikan hal ini kepada neneknya, nenek itu pun tidak tahu apa yang harus di lakukan. Ini karena memang neneknya tidak tahu keadaan cucunya yang seperti itu, yang ia tahu cucunya rajin berangkat ke sekolah. 

Sungguh malang nasib anak itu. Penulis hanya berharap, kalaupun nanti dalam hal intelektual tidak cukup mampu, semoga dalam hal ketrampilan dapat ia peroleh sesudah lulus sekolah nanti. 

Penulis sebagai gurunya merasa bersalah karena tidak mampu memberikan pembelajaran yang berhasil kepada anak tersebut. Untuk hal ini tidak tahu siapa yang salah dan harus di salahkan. Ini karena menyalahkan saja tidak cukup dan tak mampu merubah keadaan yang ada. Harapan penulis, bagi orang tua atau pun calon orang tua yang belum terlambat, mari kita sama-sama mendampingi anak-anak kita. 

Berikan kasih sayang padanya, berikan perhatian, dan jangan berhenti memberikan teladan yang baik bagi anak-anak kita. Anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita. Ia yang meneruskan nasab keluarga. Ia pula yang menjadi harapan ketika kita sudah tiada nanti.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x